Pesawat Ini Ternyata Sering Melintasi Indonesia Tanpa Terdeteksi, Untuk Apa?


U-2 Dragon Lady dikembangkan oleh Lockheed atas permintaan CIA (Central Intelligence Agency) untuk melakukan pengintaian dan pemotretan di atas wilayah Uni Soviet.

Desain fuselage ramping, namun bentang sayapnya sangat panjang agar mampu melayang pada ketinggian ekstrim nyaris 20 km di atas permukaan bumi. Pada saat didesain, pencegat terbaik Uni Soviet seperti MiG-17 hanya bisa terbang setinggi 14 km.

Divisi khusus Lockheed yang bernama Skunk Works di bawah pimpinan Clarence “Kelly” Johnson mengerjakan proyek ini dengan membuat purwarupa CL-282. Desain tubuhnya diambil dari F-104 Starfighter yang dimodifikasi.

U-2 ditenagai dengan mesin GE J73. Bentang sayap yang mencapai 31m membuatnya mampu melayang seperti glider dengan efisiensi tinggi pada ketinggian optimal. Desain ini memampukannya terbang jauh hingga 10.000 km tanpa mengisi bahan bakar.

U-2 harus diterbangkan dengan hati-hati dengan terus mengamati indikator karena rentang kecepatan optimal dan stall speed U-2 hanya 10 knot. Akibatnya, pilot harus konstan menjaga batas atas kecepatannya.
Para pilot U-2 yang menjalankan misi di atas Indonesia melaporkan bahwa tantangan operasi di wilayah Indonesia sangat besar. Tantangan datang bukan dari sistem pertahanan AURI saat itu, tetapi justru dari cuaca.

Kondisi kelembaban tinggi menyebabkan penerbangan U-2 menimbulkan jejak uap air atau contrail. Pada ketinggian di bawah 60.000 kaki, contrail sudah pasti akan terbentuk, meninggalkan jejak seperti asap yang bisa terlihat dengan mudah dari bawah.

Hal ini menyebabkan pilot harus membawa U-2 lebih tinggi untuk mencegah jangan sampai kepergok dari bawah.

Selain itu, kondisi cuaca Indonesia yang seringkali berawan menyebabkan hasil foto tidak optimal. Hingga 50% foto yang berhasil dikembangkan terhalang oleh awan.

Berdasarkan pengalaman, bulan Agustus dan September dianggap sebagai bulan yang terbaik untuk menjalankan sorti penerbangan karena kumpulan awan relatif rendah sehingga sasaran mudah sekali terlihat dari atas.

Aktivitas U-2 meningkat pada 1963 ketika Indonesia mulai mengoperasikan pesawat-pesawat dan sistem senjata lain hasil pembelian dari Uni Soviet.

Amerika Serikat memandang bahwa pembangunan militer dan kedatangan penasihat militer Soviet dianggap mengancam keberadaan Australia dan pangkalan AS di Filipina. Oleh karena itu, CIA diminta menerbangkan kembali U-2 di atas Indonesia karena hasil pengintaian satelit mata-mata KH-11 Keyhole dianggap kurang memadai.

Pengintaian atas Indonesia dilakukan U-2 yang diterbangkan secara feri dari Edwards Air Force Base di AS, beserta dukungan dari pesawat tanker KC-135.Perlengkapan dan awaknya diterbangkan langsung ke pangkalan aju yang dirahasiakan untuk mempersiapkan kedatangan U-2.

CIA tidak pernah membuka lokasi pangkalan aju ini, tetapi diduga ada di Filipina karena memudahkan CIA untuk melakukan penerbangan di Indonesia dan Vietnam sekaligus, yang saat itu juga tengah menghangat.

Hasil pemotretan U-2 dan satelit KH-11 Keyhole atas seluruh instalasi militer Indonesia boleh dikatakan lengkap. Pangkalan Udara Polonia di Medan yang digunakan sebagai staging base untuk operasi konfrontasi Dwikora, Kalijati di Subang, Bogor, Halim, dan Kemayoran di Jakarta yang diisi MiG-17 dan 21 diabadikan dengan jelas oleh kamera yang dibawa U-2.

Iswahyudi Madiun yang merupakan sarang Tu-16 Badger dan pangkalan udara Juanda serta Waru di Jawa Timur yang digunakan sebagai pangkalan pesawat pembom Il-28 Beagle juga tak luput dari pengintaian U-2.

Tidak hanya itu, U-2 juga berhasil memotret seluruh situs rudal S-75/SA-2 Guideline yang mempertahankan Jakarta. Foto tempat pelatihan awak SA-2 AURI di Bandung pun juga dikoleksi lengkap.

Hasil pemotretannya sangat detil. Boleh dikatakan bahwa Indonesia seperti ditelanjangi walau sudah dilengkapi dan dipersenjatai dengan alutsista Blok Timur terbaik saat itu.

Tidak hanya mengidentifikasi jumlah peluncur, bahkan titik penempatan radar dan kendaraan pendukungnya pun bisa diidentifikasikan. AS memang sangat menaruh perhatian pada SA-2 yang saat itu hanya digunakan oleh Mesir dan Indonesia di luar Uni Soviet. [angkasa]

Baca Juga Artikel Lainnya

Bripda Nina, Polisi Cantik Andalan Tim Gegana dari Aceh


Bunyi kokangan senjata laras panjang jenis Steyr AUG menyeruak. Tak lama kemudian, bunyi letusan pun menggema. Dua laki-laki jatuh tak berdaya. Beberapa personel tim anti-anarkistis langsung menyergap. Enam personel Detasemen Gegana, Brimob Polda Aceh, ini tengah menyelesaikan latihan dan simulasi menghadapi gerakan massa yang anarkistis. Dalam latihan, mereka berseragam lengkap plus helm baja. Ada hal yang tak terduga di balik kostum gagah nan maskulin itu. Personelnya adalah para perempuan. 

Satu di antaranya adalah Bripda Nina Oktoviana. 

Sejak menjadi personel di Detasemen Gegana, Brimob Polda Aceh, Bripda Nina langsung mencuri perhatian. Pasalnya, tak banyak kaum hawa melirik profesi yang membutuhkan ketahanan fisik luar biasa. Namun, kekagumannya yang besar terhadap sosok personel Brimob berseragam lengkap membuat Nina memutuskan untuk memilih menjadi polisi dengan kompetensi khusus ini. 

“Profesi ini sangat menantang bagi saya. Dulu tahun 2003, saat kondisi Aceh bergolak, saya melihat banyak personel Brimob berjaga-jaga di desa kami. Bagi saya, tugas mereka sangat menantang saat itu, antara hidup dan mati, dan saya berpikir ingin bisa juga seperti itu,” tutur Nina saat ditemui Kompas.com setelah berlatih di Markas Detasemen Gegana Brimob Polda Aceh. Perempuan yang gemar dengan hal-hal menantang ini pun kemudian menantang dirinya untuk memilih profesi yang biasa digeluti laki-laki. 

Setelah tamat dari Sekolah Menengah Kejuruan Penerbangan (SMK Penerbangan) di Banda Aceh, perempuan asal Samahani, Kabupaten Aceh Besar, ini memilih sekolah polwan daripada sekolah pilot. Pasca-lulus dari Sekolah Polisi Wanita tahun 2013, Nina langsung memilih Satuan Brimob dengan spesifikasi Gegana di jajaran Polda Aceh. 

“Saya yang memilih sendiri dan banyak orang kaget saat itu, dan banyak juga orang yang mengatakan macam-macam, seperti profesi itu tidak cocok untuk perempuan. Tetapi, saya ingin membuktikan kalau itu semua tidak benar,” ujar perempuan dengan alis mata tebal ini.

Nina resmi menjadi polwan sejak Januari 2014 dan bertugas di Polda Aceh. Sejak itulah, sosoknya kerap diperbincangkan. 

Sejak resmi menjadi polwan, dia tertantang berkiprah bersama pasukan khusus polisi. Hampir setengah tahun masa orientasi di Mapolda Aceh, alumnus SMK Negeri Penerbangan Banda Aceh tersebut mengajukan permohonan mutasi ke satuan Brimobda. 

''Saya bercita-cita menjadi anggota Korps Brimob karena senang tantangan dalam pasukan. Bagi saya, semua ilmu di sini berbeda dari ilmu kepolisian secara umum, dan ini yang membuat saya tertarik dan tertantang di sini'," katanya. 

"Cantik"

Dara yang kini berusia 23 tahun itu pun kerap dipuji karena kecantikannya. Fotonya kerap diperbincangkan di dunia maya. Banyak orang yang tak menyangka bahwa dia adalah anggota Gegana. Namun, kecantikan fisik tak membuatnya terbuai. Baginya, cantik bukan soal penampilan fisik semata. Dia terus berusaha agar kemampuan dan keahliannya sama dengan rekan-rekan pria di timnya. Bripda Nina memegang teguh prinsip tak pernah berhenti belajar.

Bripda Nina juga berupaya menerapkan nilai-nilai agama Islam di tengah lingkungan kerja yang penuh tantangan. Dia selalu mengenakan hijab baik saat bertugas maupun berlatih. Polwan yang menjalani gemblengan di Pusat Pendidikan Korps Brimob Watukosek, Gempol, Pasuruan, itu adalah satu-satunya siswa yang mengenakan hijab di antara total 18 siswi polwan saat itu. 

Menginspirasi

Langkah hidup Nina pun menginspirasi sejumlah lulusan polwan di Aceh. Tahun 2015, sebanyak enam personel lulusan sekolah polwan di Aceh memutuskan untuk mengikuti jejak Bripda Nina. Mutia Oktavida (19) dan Siti Habibah (23), misalnya. Pasca-lulus menjadi polwan, keduanya juga memutuskan memilih Satuan Brimob untuk meneruskan karier mereka. 

“Saya memang terinspirasi oleh senior Nina, saya pun ingin menunjukkan kalau perempuan juga bisa berada di lingkungan profesi yang keras, dan bisa menjadi yang terbaik. Mudah-mudahan selepas masa orientasi dan magang ini, kami bisa lolos di sini,” ujar Mutia. 

Sementara itu, Komandan Detasemen Gegana Polda Aceh AKBP Asnawi Hasyim mengaku bangga bahwa satuan Gegana kini mulai dilirik oleh polisi-polisi wanita. 

“Namun, ini adalah satuan yang khusus dengan skill ilmu yang khusus juga. Jadi kita memang selektif meluluskan personel di sini. Walaupun mereka perempuan, perlakuan dan latihan bagi semua personel adalah sama,” ungkap Asnawi. 

“Saat ini, kita punya delapan personel pasukan yang perempuan. Yang satu bertugas di Brimob dan enam personel lainnya sedang latihan. Belum diputuskan ke mana mereka akan bertugas. Nanti akan ditetapkan setelah kita melihat kemampuannya,” tutur Asnawi. 
Bagi Asnawi, kemampuan yang dimiliki Bripda Nina merupakan aset yang berharga bagi detasemen.

“Dia memiliki kecerdasan yang baik sehingga kemampuan dan ilmu apa pun yang diajarkan bisa diserap dengan baik,” katanya. 

Jangan ragukan diri sendiri

Untuk memotivasi dirinya sendiri, Bripda Nina memiliki rahasia yang menjadi modal awal untuk mewujudkan cita-citanya. Dia pun membagikannya dalam perbincangan dengan Kompas.com. Menurut dia, setiap perempuan harus percaya pada kemampuan diri dan memiliki tekad yang kuat.

“Jangan pernah meragukan kemampuan diri sendiri jika kita memang ingin mewujudkan semua cita-cita kita, dan setelah semua bisa diraih jangan lupa untuk terus belajar demi meningkatkan kemampuan diri,” tutup Nina. [kompas]

Baca Juga Artikel Lainnya

Aksi Pak TNI Coba Selamatkan Nyawa Balita yang Hanyut di Sungai


Seorang anggota TNI AD di Trenggalek, Jawa Timur, sedang dipuji-puji banyak netizen karena aksi sigap tetapi tetap menunjukkan nilai-nilai humanis. Tanpa ragu ia berenang di sungai yang arusnya sedang deras, untuk menolong seorang balita yang terseret arus. Ia adalah Pelda Muhamad Idris, anggota TNI AD yang bertugas di Koramil Pule, Trenggalek.

Foto-fotonya saat membopong seorang balita menyita perhatian netizen. Ia masih mengenakan seragam loreng kala itu. Dengan dibonceng seorang tim SAR, Idris membawa balita bernama Fida tersebut menuju ke puskesmas. Namun sayang, nyawa Fida tak bisa diselamatkan.

Seperti dikutip dari infoseputartrenggalek.id, balita dua tahun itu terpeleset ke sungai di Desa Pule saat ikut ibunya membuang sesuatu, Minggu (19/2/2017) pukul 13.00. Oleh karena arus yang cukup deras, bocah itu langsung terseret. Ibunya yang berusaha mengejar tak dapat menggapainya. Fida ditemukan beberapa jam kemudian dalam kondisi lemas di aliran sungai tersebut.

Netizen yang melihat foto-foto Idris saat mengevakuasi Fida merasa salut. Berikut beberapa komentar mereka. Edi Abinya Medina: "bangga padamu bapak tentara dan semoga tenang si adek kecil itu." Hery: "aku bangga padamu bapak Muhammad Idris sebagai TNI patut dikagumi atas perjuanganmu menolong masyarakat dengan panggilan hati nurani sebagai seorang prajurit sejati." Rina Fristania: "Semoga arwah si adik diterima di sisi Allah SWT. Salut dan bangga untuk bapak Muhammad Idris." [tribun]

Baca Juga Artikel Lainnya

Bisakah Anda Menemukan 12 Tentara yang Sedang Bersembunyi di Hutan Ini? Pasti Tidak Bisa!


Belum lama ini netizen di seluruh dunia sedang dihebohkan oleh sebuah foto. Jika tidak diperhatikan dengan seksama, foto ini sepertinya hanya berupa hutan saja tanpa ada satupun yang spesial. Namun, jika Anda jeli, akan tampak 12 tentara Inggris yang sedang bersembunyi.

Penasaran? Coba perhatikan foto ini dan temukan 12 tentara di sana. Kavaleri Inggris tersebut sedang bersembunyi di hutan Brunei. Foto mereka tersebut diunggah oleh salah satu anggotanya di sosial media. Tentu saja, foto itu segera menjadi viral. Orang-orang sangat penasaran, di manakah sebenarnya letak 12 tentara tersebut?

Latihan kamuflase yang dilakukan mereka itu sepertinya sangat sukses. Buktinya, Anda tentu kesulitan melihat mereka. Latihan ini sendiri bertajuk Close Target Reconnaissance.

Salah satu tentara Inggris yang ikut dalam pelatihan dan mengunggah di sosial medianya itu berkata bahwa latihan itu menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Dalam akun Facebook miliknya, ia berceritia bahwa kamuflase ini merupakan gabungan antara kecerdasan dengan seni yang kompleks dan mematikan sehingga mampu menyukseskan tentara Inggris di dalam pertempuran.

Penasaran di mana saja tentara itu? Temukan jawabannya di bawah ini. 



Sumber: Intisari

Baca Juga Artikel Lainnya

Arogansi Pasukan Pengawal Pejabat RI 63


Dua (2) kali saya berurusan dengan Pasukan Pengawal (Patwal) pejabat. Kebetulan pejabat yang sama yaitu RI 63 . Kejadian pertama pada awal tahun 2016 di kemacetan tol Kebun Jeruk. Patwal itu meminta agar saya meminggirkan kendaraan dengan sirene meraung-raung. Posisi saya ada paling kanan sebelah sparator yang tidak memungkinkan minggir ke kanan. Minggir ke sebelah kiri juga tidak mungkin, karena banyak kendaraan. Karena tidak mungkin minggir, saya buka jendela dan berkata "enggak mungkin,". Patwal itu dengan keras menjawab "anda siapa!" (cerita itu sudah saya share di sosial media).

Kejadian kedua pagi ini jam 09.00 (13/02/17) turunan setelah fly over Tomang menuju cideng sebelum lampu merah jalan Biak. Saya mengendarai perlahan karena memang macet dan mengambil lajur paling kanan. Didepan ada truk ukuran sedang. Mendadak dibelakang ada bunyi sirene dilajur yang sama. Posisi saya ada di depan dua kendaraan pribadi lainnya. Saya tidak mungkin minggir kekiri karena ada kendaraan, ke kanan mentok sparator. Kalau mau minggir saya menunggu atau mengikuti truk didepan. Baru saja terpikir seperti itu terdengar benturan keras dari belakang, bukan sekali tapi dua kali. Saya menghentikan kendaraan.

Polisi itu dengan pongahnya menuduh saya tidak mau minggir. Saya minta dia bertanggung jawab, namun dia bersikeras tanya "saya siapa". Emosi hampir tak terkendali, termasuk istri saya. Saling tunjuk muka dengan tepisan tangan. Alhasil tangan saya sedikit terluka. Saya minta agar diselesaikan. Polisi itu menunjuk ke belakang mobil RI 63. Jendela dibuka, pejabat itu bilang selesaikan di kantor Mahkamah Konstitusi. Rupanya dia adalah Wakil Mahkamah Konstitusi Dr. Anwar Usman. Saya minta agar istri saya memotret semua pihak.

Akhirnya saya mengikuti ke Mahkamah Konstitusi. Saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan di parkir basement. Disana sudah ada patwal tadi yang ternyata namanya Punky (tidak menyebut pangkatnya) dan tiga orang yang memakai baju safari. Orang pertama memperkenalkan diri sebagai atasannya yaitu Iptu Dani (terakhir mengatakan dia juga ajudan) dan Amir (ajudan wakil ketua MK) dan seorang lagi entah siapa.

mereka meminta saya menceritakan kronologinya. Saya ceritakan kembali dengan menggambarkannya diatas kertas. Patwal itu pun menceritakan alasannya, saya dituduh tidak mau minggir. Saya bersikeras bukannya tidak mau minggir tapi situasinya tidak memungkinkan. Saya meminta kalau mau diselesaikan ke pengadilan ayo silahkan. Terakhir Iptu Dani menyarankan berdamai. Saya bilang oke damai, tapi jelaskan pasal berapa saya melanggar dan pasal berapa seorang patwal berhak menabrakkan kendaraannya ke mobil pribadi yang situasinya tidak memungkinkan untuk minggir.

Iptu itu mengatakan, memang tidak ada peraturannya seorang patwal menabrakkan kendaraannya. Iptu itu kembali menawarkan damai sembari meminta maaf atas kejadian tersebut di sertai biaya ganti rugi. Namun ganti rugi itu saya tolak karena bukan tujuan saya. Saya hanya ingin mengetahui apakah dibenarkan dan ternyata jawabannya adalah tidak dibenarkan seorang patwal menabrak mobil pribadi, apalagi ada niat untuk meminggirkan kendaraan.

Alih-alih Patwal itu meminta maaf, dia mengatakan dia harus cepat karena permintaan pejabat yang mau ada rapat (pengadilan). Rekan patwal juga mengatakan kalau rumah patwal itu di Depok dan harus memberi pengawalan pejabat tadi dari Serpong-Mahkamah Konstitusi. Saya menyimak, oke lupakan semua perkataan, karena saya dan patwal sama-sama lelah (saya lelah karena kemacetatan, dan patwal lelah karena jauh) sehingga tersulut emosi. Saya minta penegasan sekali lagi, apakah saya salah dan melanggar pasal berapa? kemudian apakah dibenarkan patwal menabrak kendaraan didepannya. Jawabnya sekali lagi, saya tidak salah dan tidak dibenarkan seorang patwal untuk menabrakkan kendaraannya.

Akhirnya saya menerima permintaan maaf dan mengatakan akan menceritakan ini di sosial media agar publik mengetahui. Mereka awalnya tidak memberi ijin. Namun saya bersikeras agar tidak ada lagi arogansi patwal di jalan raya. Akhirnya mereka mengatakan, silahkan pak. [facebookprasetyodewanto

Baca Juga Artikel Lainnya

Rapor Merah Paspampres di Era Jokowi


Lebih dari satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), ada sejumlah hal yang perlu dicatat terkait tim pengamanannya yang lebih dikenal dengan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).  Pasalnya, beberapa kali satuan khusus ini dikaitkan dengan kasus kekerasan hingga pelanggaran hukum.

Paspampres era Jokowi awalnya dipimpin Mayjen TNI Andika Perkasa. Namun kini berganti kepemimpinan kepada Brigjen TNI (Mar) Bambang Suswantono.

Tahun ini saja, Paspampres santer dengan pemberitaan pembelian senjata api dari Amerika Serikat (AS) yang dilakukan secara ilegal. Bahkan disebut diselundupkan pada saat kunjungan Presiden ke AS. Pembelian senjata tersebut terungkap melalui Pengadilan Federal Amerika Serikat (AS) yang memproses persidangan penjualan senjata termasuk untuk Paspampres Indonesia. Namun Istana membantah bahwa senjata tersebut diselundupkan melalui pesawat kepresidenan.

"Jadi ini murni adalah kesepakatan antara pihak-pihak, person to person. Beli senjata kemudian dipastikan itu tidak dibawa melalui pesawat kepresidenan," kata Juru Bicara Johan Budi di Kompleks Istana, Jakarta, Selasa 12 Juli 2016.

Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, oknum yang terlibat baik oknum di grup pengamanan Presiden Jokowi maupun oknum di grup pengamanan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) akan mendapatkan sanksi. Sementara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengusut melalui Panja Alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Pembelian dan penyelundupan senjata tersebut diketahui terjadi saat Andika Pratama masih menjabat sebagai Komandan Paspampres (Danpaspampres). Namun patut dicatat bahwa catatan buruk soal Paspampres juga terjadi sebelumnya. Seorang anggota  pernah ditangkap di Bandara Kualanamu International Airport (KNIA), Sumatera Utara karena kedapatan membawa sabu-sabu dan pil ekstasi. Penangkapan tersebut terjadi pada Senin pagi, 11 Januari 2016.

Hanya berselang satu hari, Paspampres lagi-lagi diterpa isu miring. Kali ini, anggota Paspampres terlibat pemukulan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di sekitar Kantor Camat, Tanah Abang, Jakarta.

Pada saat pemukulan, anggota Paspampres tersebut bahkan sempat mengeluarkan air soft gun. Atas aksi tersebut, Danpaspampres Andika Pratama saat itu mengatakan bahwa anak buahnya yang berbuat onar dipastikan mendapat ganjaran. [viva]

Baca Juga Artikel Lainnya

Pos TNI AU Ujung Genteng Sukabumi Dirusak Warga


Pos TNI Angkatan Udara di Ujung Genteng, Ciracap Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu malam (11/2/2017) dirusak warga yang berjumlah sekitar 400 orang.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Jemi Trisonjaya, Minggu 12/2/2017 di jakarta mengatakan, peristiwa ini karena ada informasi sepihak ke masyarakat sehingga terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan terjadinya perusakan bangunan pos TNI AU.

Peristiwa itu berawal pada Sabtu pukul 18.00 WIB ketika anggota TNI AU yang bertugas atas nama Pratu OP melaksanakan patroli di sekitar Pos TNI AU Ujung Genteng.

Pada saat itu melintas sepeda motor yang dikendarai salah satu warga yang melewati kubangan air di jalan. Pratu OP menegurnya karena cipratan air tersebut. “Merasa tidak terima ditegur, yang bersangkutan menghentikan kendaraannya lalu menonjok wajah Pratu OP dan dibalas dengan menempelengnya, sehingga warga tersebut pergi menggunakan sepeda motornya,” kata Kadispenau.

Pratu OP kemudian mendatangi rumahnya karena tidak jauh dari Pos TNI AU dan bertemu dengan orang tuanya untuk meminta maaf dan kemudian Pratu OP kembali ke Pos TNI AU Ujung Genteng.

Namun, sekitar pukul 19.00 WIB sekitar 400 orang warga Ujung Genteng berkumpul di depan Pos TNI AU karena merasa tidak terima salah satu warganya dipukuli, yang selanjutnya secara bersama-sama melakukan perusakan terhadap kedua bangunan Pos TNI AU.

Sekitar pukul 20.00 WIB Kapolsek Ciracap beserta anggota dengan Koramil setempat melakukan pengamanan TKP dan melakukan pendekatan serta pada pukul 21.15 WIB situasi mulai reda dan warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

“Dari kejadian tersebut, Pratu OP mengalami luka-luka dan dirawat di Puskesmas Gunung Batu Ujung Genteng untuk mendapatkan penanganan medis, sedang kedua bangunan Pos TNI AU dalam kondisi rusak berat,” kata Kadispen TNI AU.

Pos TNI AU tersebut kini dijaga personel TNI AU dibantu oleh Koramil 2214 Surade, Polsek Ciracap dan Satpol PP Kecamatan Ciracap.

TNI Angkatan Udara menyesalkan kejadian tersebut dan meminta maaf kepada masyarakat karena terjadinya kesalahpahaman yang berdampak pada perusakan Pos TNI AU. [jakartagreater]

Baca Juga Artikel Lainnya

Cerita Korps Pasukan Katak dan Kapal Tentara Malaysia yang Kalang Kabut Melarikan Diri


TNI memang memiliki beberapa pasukan elit yang bisa dibanggakan. Di antaranya adalah Kopassus, Satgultor-81, Taifib Marinir, Kopaska, Denjaka, Kopaskhas, dan Den Bravo dan lainnya. Kehebatan mereka pun sampai terdengar di penjuru dunia. Terakhir, dalam perayaan HUT TNI di Cilegon, Banten 5 Oktober lalu, beberapa kalangan menyebut bahwa Marinir TNI AL Stupid Crazy saat menerjunkan tank amfibinya LVT-7 dari darat ke laut..

Sebenarnya, bukan hanya marinir yang bisa disebut stupid crazy alias nekat dan gila. Tapi para pasukan elit TNI lainnya juga tergolong nekat dan gila. Salah satunya adalah Kopaska (Korps Pasukan Katak).

Pasukan katak adalah pasukan khusus milik TNI yang didirikan oleh Presiden Soekarno pada 31 Maret 1962. Pasukan ini memiliki motto Tan Hana Wighna Tan Sirna atau Tidak Ada Rintangan yang Tak Dapat Diatasi.

Tugas utama Kopaska adalah peledakan ataudemolisi bawah air. Termasuk juga sabotase/penyerangan rahasia kekapal lawan dan sabotase pangkalan musuh. Pasukan ini juga memiliki tugas penghancuran instalasi bawah air, pengintaian, mempersiapkan pantai pendaratan untuk operasi amfibi yang lebih besar. Serta, menjalankan operasi antiteror di laut.

Salah satu operasi legendaris Kopaska adalah saat beberapa personel mereka ditugaskan untuk mengamankan Blok Ambalat dari gangguan Malaysia.

Peristiwa itu diungkap dalam buku: Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus yang diterbitkan untuk memperingati ulang tahunnya yang ke 50.

Pada 2005, hubungan Indonesia dan Malaysia memanas di Blok Ambalat. Indonesia sedang membangun mercusuar Karang Unarang yang terletak di titik terluar sebagai batas wilayah.

Tapi pembangunan itu terus diganggu oleh Tentara Laut Diraja Malaysia maupun Marine Police. Mereka terus bermanuver di dekat area pembangunan yang menimbulkan gelombang dan membuat pekerja kesusahan membangun mercusuar.

Nah pada 1 April 2005, dua kapal tentara Malaysia dan Marine Police Malaysia buang jangkar di dekat mercusuar.

Sebenarnya TNI sudah berusaha mengusir mereka dengan menggunakan kapal patroli TNI AL KRI Tedong Naga. Tapi usaha itu sia-sia dan Malaysia tetap saja “iseng”.

Akhirnya komandan kapal perang Indonesia meminta bantuan Kopaska yang sebenarnya sudah bersiaga di sana.

Adalah Serka Ismail yang diterjunkan untuk mengusir kapal Malaysia. Sebelum beraksi, Ismail meminta izin komandan Tim Kopaska Lettu Berny. Sang letnan pun mengizinkannya bergerak ke kapal Malaysia.

Syaratnya, Ismail tak membawa senjata agar tak terjadi kontak tembak.

Mendapat restu Ismail langsung memacu motor boat ke arah Malaysia bersama Serda Muhadi dan Kelasi Satu Yuli Sungkono. Motor boat itu melaju zigzag dengan kecepatan tinggi.

Benar saja, perhatian anak buah kapal (ABK) Malaysia tertuju pada motor boat personel Kopaska itu. Ternyata diam-diam Ismail melompat dan berenang senyap menuju kapal Malaysia.

Saat semua mata personel tentara Maaysia tertuju ke motor boat itu, Islamil sukses naik ke atas kapal tanpa diketahui siapapun. Tiba-tiba dia muncul sambil berteriak, “Di mana kapten kapal!”

Sang kapten kapal Malaysia itu pun keluar dan menemuinya. Setelah ditanya apa keperluan mereka buang jangkar di dekat pembangunan mercusuar, sang kapten menjawab normatif. Dia berkata hanya menjalankan perintah.

“Baiklah kalau begitu. Daerah ini adalah wilayah Indonesia. Setelah saya turun, segera pergi dari wilayah ini. Kalau tidak jangkar akan saya putuskan,” sergah Ismail pada komandan kapal Malaysia.

Keberanian Ismail ternyata membuat ciut nyali pasukan Malaysia. Begitu Ismail lompat ke perahu karet, kapal pertama langsung angkat jangkar dan kabur dari Karang Unarang.

Tapi kapal kedua ogah pergi. Karena dihalang-halangi Ismail tak bisa naik ke kapal. Tak habis akal, dia menuju ke tali jangkar dan berteriak sambil menggoyang-goyangkan tali jangkar. “Kalau tidak pergi, tali jangkar ini saya ledakkan,” ancamnya seperti dituliskan buku tersebut.

Akhirnya dua kapal Malaysia itu pergi. Ternyata kenekatan dan kegilaan tiga Kopaska itu bisa membuat nyali Malaysia ciut. [metro]

Baca Juga Artikel Lainnya

Kisah "Sniper" Terbaik Dunia Selamat dari Maut karena Merah Putih


Namanya Tatang Koswara. Dia masuk dalam daftar penembak jitu atau sniper terbaik di dunia, seperti tercantum dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons. Dalam buku yang ditulis Peter Brookesmith itu, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia.

Kini, usianya 68 tahun. Setelah pensiun dari dinas, Tatang dan keluarga menyandarkan hidup dari warung nasi yang mereka kelola. 

Sebuah koper tergeletak di dekat pintu ruang tamu. Tak jauh dari sana, terlihat sejumlah foto Tatang berseragam lengkap dan sejumlah plakat penghargaan. Di depannya, terlihat hiasan berupa bagian senjata yang ditambahkan pemanis baret hijau TNI AD. 

Siapa pun yang datang bisa langsung mengenal siapa sang pemilik rumah dari ruang tamu sederhana ini. Sebagai seorang sniper, kehidupan Tatang sangat dekat dengan senjata. Padahal, dulu, ia tidak sengaja nyemplung di dunia militer. 

"Ayah saya memang seorang tentara. Tapi, saya (awalnya) tidak berniat untuk menjadi tentara," ucap Tatang di kediamannya di lingkungan kompleks TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015). 

Namun, nasib berkata lain. Saat itu, tepatnya pada tahun 1967, Tatang disuruh ibunya mengantar sang adik untuk mendaftar menjadi anggota TNI. Saat melakukan tes, dia bertemu dengan sejumlah perwira Dandim di Banten yang mengenalnya. Tatang pun ditanya kenapa tidak ikut daftar. 

"Saya kenal dengan perwira Dandim karena sebelumnya juara sepak bola. Karena juara sepak bola itu juga dan beberapa prestasi lainnya, saya diminta para perwira Dandim untuk daftar jadi anggota TNI," ujar Tatang. 

Setelah pulang ke rumah, Tatang remaja sempat bingung. Hingga keesokan harinya, dia menyiapkan semua persyaratan dan mendaftarkan diri lewat jalur tamtama. 

Sesuai dugaan, Tatang lulus, sedangkan adiknya harus mencoba tahun depan untuk bergabung ke TNI AD. 

Berprestasi

Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membuat pelajaran militer menjadi hal yang tak sulit baginya, baik dalam hal fisik, berenang, maupun menembak. 

Hingga tahun 1974-1975, Tatang bersama tujuh rekannya terpilih masuk program mobile training teams (MTT) yang dipimpin pelatih dari Green Berets Amerika Serikat, Kapten Conway. 

"Tahun itu, Indonesia belum memiliki antiteror dan sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), dan Brimob (Polri). Namun, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD," imbuhnya. 

Dalam praktiknya, Kopassus pun kesulitan memenuhi kuota yang ada. Setelah seleksi fisik dan kemampuan, dari kebutuhan 60 orang, Kopassus hanya mampu memenuhi 50 kursi. 

Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang dan tujuh temannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang dan 59 anggota TNI AD dilatih Kapten Conway sekitar dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, dan 900 meter. Tak hanya itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, dan menghilangkannya. 

Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus dan mendapat senjata Winchester model 70. 

Seperti dikutip majalah Angkasa dan Shooting Times, Winchester 70 yang disebut "Bolt-action Rifle of the Century" ini juga digunakan sniper legendaris Marinir AS, Carlos Hathcock, saat perang Vietnam. Senjata ini memiliki keakuratan sasaran hingga 900 meter. 

Rupanya senjata dan ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini membantu Tatang dalam pertempuran. Sebab, setelah itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) Cimahi, menjadi pengawal pribadi sekaligus sniper saat terjun ke medan perang di Timor Timur (1977-1978). 

Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang dan Ginting). Pertama, melumpuhkan empat kekuatan musuh, yaitu sniper, komandan, pemegang radio, dan anggota pembawa senjata otomatis. Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, melihat kondisi medan, dan melaporkannya ke atasan yang menyusun strategi perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jatuhnya korban. 

"Lawan kita itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya kemampuan gerilya yang hebat, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban," ujarnya. 

Selamat karena Merah Putih

Pada suatu hari, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan. Tanpa disadari, Tatang berada di tengah kepungan lawan. Ada 30 orang bersenjata lengkap di sekelilingnya. Tatang terperangkap dan tak bisa bergerak sama sekali. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan, kematian. Namun, sebelum mati, ia harus membunuh komandannya terlebih dahulu. 

"Posisi komandannya sudah saya kunci dari pukul 10.00 WIB. Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menunggu saat yang tepat. Hingga pukul 17.00 WIB, komandan itu pergi ke bawah dan saya tembak kepalanya," tuturnya. 

Namun, ternyata, di bawah jumlah pasukan tak kalah banyak. Tatang dihujani peluru dan terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya mengenai pohon. 

"Darah mengalir deras hingga sudah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak karena itu akan memicu lawan menembakkan senjatanya," ucapnya. 

Tatang baru bisa bergerak malam hari. Ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dia mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Namun, darah tak juga berhenti mengalir. Ia pun melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga. Sambil berdoa, dia mengikatkan syal tersebut di kakinya. 

"Saya memiliki prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal foto keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan agar bisa melihat anak keempat saya yang masih dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Ternyata, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya," ungkapnya. 

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh. 

Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut. 

Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978. [kompas]

Baca Juga Artikel Lainnya

Cantik dan Berbahaya, Ini 'Sniper' Kebanggaan Indonesia


Apa bayangan kamu saat Bintang.com menyebut kata 'sniper'? Pastinya sosok coreng moreng berpakaian kamuflase, serta merunduk di tempat tersembunyi. Mata tak berkedip saat mengintai musuh. Jari siap di pelatuk dan ketika lawan terlihat, muntahan satu peluru siap menembus jantung musuh.

Yap, itu memang kerjaan penembak jitu. Jika kamu mencari penembak jitu di Google, rata-rata berjenis kelamin laki-laki. Jarang ada sniper perempuan. Tapi Indonesia punya, lho. Dia cantik, anggun, berjilbab pula. Persis cewek-cewek biasa. Namun yang membedakan, dia lincah memainkan senjata yang digunakan menembak jarak jauh. Kenalin, Brigadir Polisi Dua Adri Chroin Ade Oktami, sniper wanita kebanggaan Indonesia.

Bripda Adri bertugas di Satuan Brimon Polisi Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Wanita asal Bantul ini pada September lalu memamerkan keahliannya dalam memperingati Hari Ulang Tahun Polisi Wanita yang ke-67. Dia membidik sebuah balon merah jambu dari jarak 12 meter. Dengan sekali menarik pelatuk balon tersebut pecah! Keren abis!

Sungguh ini pemandangan yang langka. Biasanya wanita selalu ditempatkan di posisi yang 'mudah-mudah'. Misalnya sebagai hubungan masyarakat (humas) atau wilayah sipil. Amat jarang perempuan berada di wilayah pasukan serbu. Kehadiran Adri memberi inspirasi kita semua ya, ladies, ternyata kaum hawa pun mampu sejajar dengan kaum adam. [bintang]

Baca Juga Artikel Lainnya

Selamatkan Tentara Denmark, Amerika Sebut Prajurit Paskhas Ini 'Gila'



TRUK tentara yang dibawa Tentara Denmark masuk ke jurang dengan kedalaman 100 meter di wilayah Ganduriah, Lebanon, 2010.

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Perawakannya tak begitu besar, tinggi layaknya seorang tentara dengan kualifikasi para komando. Namun, dengan perawakannya itu membuat tentara Amerika Serikat, Lebanon dan Denmark, harus angkat topi serta berdecak kagum hingga menyebutnya 'Tentara Gila'. 

Lalu siapa prajurit yang membuat nama Indonesia harum tersebut? Ia adalah Sersan Kepala Pasukan (Serka Pas) Abdullah Lubis, prajurit Batalyon Komando (Yonko) 462 Paskhas/Pulanggeni, Pekanbaru. 

"Iya, saya disebut tentara Amerika sebagai prajurit crazy, tentara gila," kata Serka Abdullah Lubis, saat bincang-bincang dengan RIAUONLINE.CO.ID, Selasa, 18 Oktober 2016, di Markas Yonko 462 Paskhas. 

Lubis, demikian ia dipanggil kawan-kawannya, menceritakan kenapa julukan itu disematkan ke dirinya. Saat menjadi pasukan perdamaian PBB di Lebanon, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), November 2009-2010, ia bersama timnya ditempatkan di daerah bernama Acid al Qusairi. 

SERSAN Kepala Pasukan (Pas) Abdullah Lubis, mencatat dan melaporkan truk yang ditumpangi tentara Denmark masuk jurang kedalaman 100 meteri di Ganduriah, Lebanon, 2010.



Pasukan perdamaian PBB asal Indonesia diawali dengan pengiriman Garuda 23A di dalamnya terdapat anak pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono. Lubis tergabung dalam Pasukan Garuda 23D. Di Acid al Qusairi, sebelum pasukan Garuda masuk, sudah ada pasukan dari negara lainnya.

"Sayangnya, mereka ini tak menyatu dengan masyarakat sekitar. Ditambah lagi, pasukan tersebut berasal dari bukan negara berpenduduk mayoritas Islam, seperti Indonesia," kata penyandang kualifikasi Jump Master ini. 

Bagi Bintara Operasi Yonko 462 Paskhas/Pulanggeni, Pekanbaru ini, berbagai upaya pendekatan dilakukan. Mulai dari menyerahkan bantuan komputer, buku, mainan hingga kemasyarakatan lainnya. 

"Setelah empat bulan kita di sana, warga merasa nyaman. Biasanya cuek, apatis, dengan kedatangan TNI, mereka responsif," kata prajurit pernah dinas di Papua ini. 

Keuntungan sebagai sesama muslim inilah kemudian memudahkan tugas-tugas Pasukan Garuda di Lebanon. Termasuk saat menyelamatkan dan evakuasi dua prajurit tentara Denmark yang masuk ke dalam jurang bebatuan kedalaman 100 meter. 

Saat itu, kenang Abdullah Lubis, sebagai Komandan Regu (Danru), diperoleh informasi ada seorang prajurit UNIFIL dari Denmark mengalami kecelakaan masuk jurang di daerah Ganduriah. Setelah lakukan koordinasi dengan markas, ia dan regunya diperintahkan untuk lakukan evakuasi. 

Setibanya di lokasi, sudah ada pasukan Amerika Serikat, Lebanon dan negara lainnya. "Mereka hanya melihat-lihat saja dari atas ke jurang. Sedangkan tentara Denmark satu tersangkut di kedalaman 50 meter, satu lagi di 100 meter," kata Abdullah Lubis. 

Usai mempelajari jurang dan kedalaman, bersama seorang marinir Indonesia, Abdullah turun tanpa menggunakan tali seutas pun dan alat-alat bantu lainnya. Perlahan-lahan, batu-batu cadas yang tajam berhasil dilewati dan tiba di kedalaman 50 meter. 

"Saya lihat dan cek denyut nadinya, sudah tak ada lagi berdenyut. Tentara Denmark ini sudah meninggal. Saya bungkus dengan pakaiannya, kemudian kirim titik koordinat ke markas guna evakuasi menggunakan helikopter," kenang pemilik brevet tembak mahir ini. 

Melihat aksi nekad kedua prajurit TNI itu, membuat nyali tentara Amerika Serikat ciut. "Anda tentara gila," kata tentara tersebut kepada Abdullah seusai mengevakuasi dua tentara Denmark dari dasar jurang. 

Saat ditanyakan, kenapa ia nekad turun ke jurang tanpa tali, Abdullah menjelaskan, ia seorang tentara dengan kualifikasi Combat SAR, atau SAR Tempur. Dengan kualifikasi tersebut, ia sudah memperhitungkan medan sebelum turun ke jurang. 

TRUK mengangkut tentara Denmark, hancur usai jatuh ke dalam jurang dengan kedalaman 100 meter, di wilayah Ganduriah, Lebanon, 2010.

Abdullah mengatakan, semula ia memperkirakan tentara Denmark yang jatuh tersangkut di kedalaman 50 meter bakal selamat. Ternyata justru kawannya berada di dasar jurang.

"Kedua tentara itu dari kesatuan Zeni. Denmark lebih banyak zeni, mereka yang bangun bunker dan camp UNIFIL di Lebanon," jelas Abdullah Lubis.

Usai membungkus tubuh tentara Denmark tersebut dengan pakainnya sendiri, sambil menunggu helikopter tiba, tenyata sudah didahului ambulance tentara Indonesia. Akhirnya, paramedis Indonesia turun ke jurang bawa tandu dengan mengikuti langkah dan jejak Lubis. 

Ia memperkirakan, dengan kondisi truk yang sudah hancur lebur, tentara Denmark di dasar jurang juga akan bernasib serupa seperti kawannya, tewas. Ternyata, prediksi itu salah. Saat Lubis dekati, prajurit tersebut masih hidup. 

"Saya hampiri, ternyata masih hidup, kirim koordinat dan infokan masih selamat. Sebelum bantuan Indonesia datang, dari jalan lain telah datang ambulance dari Prancis, dengan mengambil jalan memutar dan evakuasi korban selamat. Bangganya, prajurit Denmark itu hingga kini masih hidup," kenang Abdullah Lubis dengan tersenyum. 

Selang tiga hari usai penyelamatan dan evakuasi dua prajurit Denmark tersebut, Abdullah Lubis dan timnya kemudian diberikan penghargaan dalam sebuah upacara di markas UNIFIL. 

"Kami peroleh penghargaan dari Denmark diserahkan oleh Dankomark, serta Dansatgas Garuda, Letkol Inf Andi Perdana Kahar," kata Lubis. 

Sementara itu, Komandan Yonko 462 Paskhas/Pulanggeni, Mayor Pas Rully Arifian mengatakan, tugas apapun bagi prajurit adalah suatu kehormatan dan kebanggaan. Termasuk tugas tugas operasi perdamaian. 

"Tetap pertahankan prestasi tersebut demi kehormatan bangsa Indonesia di mata dunia. Saya juga pernah ikut misi tahun 2010-2011 sebagai military observer di Kongo selama setahun," kata lulusan AAU ini. 

Rully mengakui, hanya prajurit Indonesia saja yang mau bekerja tanpa pamrih. Inilah menjadi alasan kenapa nama Indonesia untuk pasukan perdamaian PBB tetap harum. [Sumber : riauonline.co.id]

Baca Juga Artikel Lainnya

Inilah Pasukan Batalyon Salo 132/BS Yang Disegani GAM



Tim Pasopati 2, pasukan yang dibentuk dalam operasi militer di Aceh pada 2004. Saat itu, tim dari Yonif 132 BF diberi kehormatan untuk melakukan operasi imbangan dengan membentuk tim sendiri. Terbentuklah tim Pasopati 1 dan Pasopati 2.

Tim Pasopati merupakan pasukan yang terdiri dari Yonif 132 BD dan di BKO kan di bawah Yonif 330 Kostrad yang beroperasi di wilayah kedai Kemuning, Aceh Timur. Tim ini juga merupakan tim khusus dari Yonif 132 BS. Mengapa disebut khusus? Setiap anggota tim Pasopati adalah prajurit-prajurit pilihan yang dipilih langsung oleh komandan tim.

Kedua tim khusus ini selalu mobile dalam melakukan operasinya. Dengan 3-5 hari operasi kemudian melakukan pull out dan istirahat di pos pos statis dan operasi ini dijalankan selama kurang lebih 3 bulan, seperti dilansir dari Instagram MataPadi.

Hingga pada akhir menjelang operasi, saat tim Pasopati 2 tengah melakukan ambush (mengendap dan menyergap) di sasaran yang sudah ditentukan. Para prajurit TNI dituntut untuk senyap dalam melakukan ambush, penuh kerahasiaan dan ketetapan dalam mencapai sasaran.

Lokasi yang ditargetkan ternyata tepat, di pinggir sebuah perkampungan, di depan tim Pasopati 2, tampak pasukan GAM dengan kekuatan 9 sampai 12 orang bersenjata.

Tak lama berselang sekitar pukul 23.00 malam, kontak tembak tak terelakkan, dan berlangsung sekitar 1 jam. Hingga pagi menjelang, tim Pasopati 2 segera melakukan pembersihan dan ditemukanlah seorang anggota GAM yang sudah tak bernyawa dengan luka tembak, dalam kondisi tengah memeluk senapan AK 56. Operasi itu pun berhasil, dengan tanpa korban dari pasukan Pasopati 2.[Sumber : riauonline.co.id]

Baca Juga Artikel Lainnya