Terkait Pelecehan terhadap Kedaulatan Indonesia, Panglima Militer Australia Akan Datang Ke Indonesia Untuk Minta Maaf


Panglima Militer Australia Marsekal Marshal Mark Binskin akan datang ke Indonesia pada 8 Februari mendatang.

Menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, kedatangan Marsekal Marshal Mark Binskin untuk meminta maaf secara langsung, terkait pelecehan terhadap kedaulatan Indonesia oleh oknum militer Australia.

"Datang sebagai perwakilan untuk minta maaf, sambil menyampaikan hasil investigasi," ujar Gatot kepada wartawan, usai menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI, di ruang rapat Komisi I DPR RI, Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2017).

Investigasi yang dimaksud adalah investigasi terhadap sejumlah anggota militer Australia, yang diduga bertanggungjawab atas sejumlah pelecehan kedaulatan Indonesia. Gatot mengaku belum bisa mengira-ngira isi dari hasil investigasi tersebut.

Atas insiden yang terjadi tahun 2016 itu, TNI menarik anggotanya yang diperbantukan untuk mengajar anggota militer Australia. Buntut dari kebijakan tersebut, adalah permintaan maaf secara tertulis oleh panglima militer Australia.

Mengenai sikap Indonesia selanjutnya terhadap Australia, menurut Gatot, bergantung dari pertemuannya dengan Panglima Militer Australia. Termasuk hasil investigasi terhadap anggota militer Australia yang diduga melakukan pelecehan terhadap kedaulatan Indonesia. 

"Semuanya terbuka, tapi bergantung nanti bagaimana," ujar Panglima TNI. [tribun]

Baca Juga Artikel Lainnya

Mengenang Maimun Saleh, Penerbang Pertama dari Aceh


Kalau Anda melintasi jalan raya Banda Aceh-Medan — dari arah Medan menuju Banda Aceh—di sekitar Km 14 sebelum memasuki kota Banda Aceh, tepatnya di simpang Desa Aneuk Galong, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar, di sisi kiri akan terlihat sebuah monumen pesawat tempur jenis Hawk 200, milik TNI Angkatan Udara.

Monumen pesawat tempur itu dipasang di atas tugu Maimun Saleh, yang dimaksudkan untuk mengenang jasa Maimun Saleh sebagai penerbang pertama asal Aceh. Maimun Saleh gugur pada 1 Agustus 1952 dalam usia 25 tahun akibat kecelakaan pesawat intai di Pangkalan Udara Semplak, Bogor, Jawa Barat.

Monumen pesawat tempur ini sengaja ditempatkan di Aneuk Galong karena Maimun Saleh lahir di desa ini. Pendirian monumen itu tak lepas dari inisiatif Marsekal Udara Teuku Syahril, putra Aceh kelahiran Montasik Aceh Basar, yang pada 2008 menjabat sebagai Komandan Operasi Angkatan Udara I. Desa Aneuk Galong dan Desa Montasik tempat kelahiran Teuku Syahril tidak berjauhan.

Nama Maimun Saleh, selain diabadikan pada tugu di simpang Aneuk Galong, juga telah diabadikan pada bandara militer Lhoknga Aceh Besar. Setelah lapangan terbang Lhoknga tidak digunakan lagi, karena telah dibangun Bandara Blang Bintang yang sekarang bernama Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), maka nama Maimun Saleh kemudian diabadikan pada lapangan terbang Cot Bak U di Sabang. Selain itu, nama Maimun Saleh juga diabadikan sebagai nama jalan di pusat perbelanjaan Peunayong, Banda Aceh.

Pesawat tempur Hawk-200 buatan Inggeris, pada 1980-an yang dijadikan monumen atas tugu itu adalah pesawat tempur utuh dan asli. Hanya saja, pesawat ini tidak bisa lagi dipergunakan karena beberapa bagian badan pesawat ada yang sudah retak.

Atas usaha Marsekal Teuku Syahril dengan berbagai perjuangan yang membutuhkan waktu, akhirnya pesawat tersebut berhasil diboyong ke kampung Maimun Saleh untuk dijadikan monumen yang berjarak hanya sekitar 200 meter rumah Maimun Saleh sendiri.

Riwayat hidup

Maimun Saleh lahir 14 Mei 1929. Dia putra kedua dari lima bersaudara pasangan Tgk HM Saleh dan Aisyah, yaitu Tgk Hasballah, Maimun Saleh, Abasyah, Hadisyah dan Tgk Faisal. Maimun Saleh menempuh pendidikan di sekolah Taman Siswa dan sekolah menengah Islam di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Tahun 1949 Maimun diterima menjadi murid penerbang di Koetaradja. Pada 1950 dia dipindahkan ke sekolah penerbang di Kalijati Jawa Barat, dan 1 Februari 1951 berhasil memperoleh ijazah sebagai penerbang kelas 3.

Setelah itu, Maimun Saleh masuk Skuadron IV (pengintai darat) dan turut serta dalam semua operasi yang dijalankan oleh skuadron ini. Namun maut tak dapat disangka. Pada Jumat, 1 Agustus 1952, Sersan Maimun Saleh yang sedang menerbangkan pesawat intai Auster IV-R-80 mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Semplak Bogor pukul 09.25 WIB. Maimun gugur dalam kecelakaan itu.

Atas prakarsa Teuku Syahril, pembangunan monumen pesawat tempur di atas tugu Maimun Saleh, selain untuk mengenang jasa penerbang pertama dari Aceh, juga sebagai bentuk terima kasih dan ikatan batin antara Angkatan Udara dan masyarakat Aceh. Ini juga terkait dengan jasa masyarakat Aceh yang menyumbangkan pesawat terbang pertama RI-001 Seulawah kepada Indonesia sebagai modal awal saat Indonesia baru merdeka.

Prosesi peletakan pesawat tempur Hawk-200 di atas Tugu Maimun Saleh dilakukan Januari 2008, dan dipimpin Danlanud SIM, Letkol Pnb Fachri Adami.

Menurut Fachri, pesawat tempur yang dijadikan monumen itu pesawat asli, bukan replika, termasuk empat amunisi yang terdapat di atas sayap pesawat. Hanya saja, pada amunisi itu detonator dan peluru ledakannya tidak dipasang lagi.

Jet tempur itu sendiri sebenarnya sudah dibawa ke Aceh pada 2003, setelah pesawat mengalami kecelakaan saat melakukan penerbangan di Pekanbaru, Riau. Dalam kecelakaan itu beberapa bagian badan pesawat retak dan tak bisa diterbangkan lagi.

Masyarakat Aceh patut berbangga hati, karena satu-satunya daerah yang menerima pesawat tempur untuk dijadikan monumen adalah Aceh. Dengan demikian Aceh sekarang memiliki tiga monumen pesawat, yaitu monumen pesawat RI-001 Seulawah di Blang Padang (Banda Aceh), monumen pesawat tempur Hawk-200 di Tugu Maimun Saleh, dan pesawat jenis A4 SkyHawk TT-0435 buatan Amerika dari Skuadron 11 Makassar yang sekarang ditempatkan di apron Lanud Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh Besar sebagai monumen kedirgantaraan.

Peresmian monumen pesawat tersebut oleh Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto ST pada 24 September 2010. [kaskus]

Baca Juga Artikel Lainnya

Dunia Militer Bawa Dua Wanita Ini Jadi Pilot AU


Minatnya pada dunia militer sejak kecil membawa Lettu (Pnb) Fariana Dewi Djakaria Putri dan Lettu (Pnb) Sekti Ambarwaty menjadi dua srikandi di jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Selain dari kerja keras, perjalanan dua penerbang wanita ini memang diliputi keberuntungan.

Duduk di belakang meja ternyata tak membuat Fariana dan Ambar puas, saat itu mereka hanya prajurit bintara dengan pangkat sersan dua. Karena keinginan yang tinggi untuk menjadi penerbang, mereka nekat mengikuti rekrutmen penerbang di TNI AU. Padahal salah satu syarat untuk mengikuti kualifikasi penerbang harus dimulai dari perwira pertama berpangkat letnan dua (letda).

Namun Fariana dan Ambar tak patah arang menghadapinya. Ketika Fariana bekerja sekitar 1,5 tahun menjadi bintara wara, dan Ambar baru delapan bulan, rekrutmen penerbang wara dari bintara dibuka kembali.

Keinginan untuk menerbangkan pesawat TNI AU memuluskan langkahnya. Keduanya lolos seleksi untuk mengikuti pendidikan di sekolah penerbang di Pangkalan Udara (Lanud) Adi Sutjipto, Yogyakarta, sehingga dinyatakan lulus dan dilantik sebagai perwira penerbang.

Bukannya tanpa kendala mereka masuk seleksi di sekolah penerbang Lanud Adi Sutjipto. Keduanya yang bukan dari keluarga militer ini sempat kaget dengan sistim sekolah penerbang.

"Setelah masuk Sekbang, enggak boleh ketemu keluarga, dikurung di mes hanya boleh keluar (pesiar) pada jam-jam tertentu,” cerita Ambar mengenang awal-awal pendidikannya sebagai penerbang. 

Fariana dan Ambar mengenang, sejak kecil memang tertarik dengan dunia militer. Tidak seperti anak perempuan lainnya, mereka lebih memilih pistol-pistolan untuk bermain. Bahkan ketika ada acara HUT RI atau memperingati hari Kartini, mereka lebih enjoy mengenakan baju tentara dibanding kebaya bersanggul.

Sejak dilantik menjadi penerbang pada 2007 silam, beragam pengalaman telah mereka dapatkan. Tak terkecuali pengalaman-pengalaman yang dirasakan unik. Suatu ketika dalam penerbangan ke Bima, cerita Ambar, dirinya pernah mendapati petugas tower bandara turun mendekati pesawat yang dipilotinya, sesaat setelah mendarat.

"Bapak petugas tower hanya ingin memastikan kalau pilotnya benar-benar perempuan. Saya hanya tertawa-tawa saja,” kata penerbang pesawat CN-235 ini. 

Respons kaget dan tak percaya biasanya muncul saat pesawat mendarat di landasan udara (lanud) yang selama ini jarang dia singgahi. Di lain waktu, kejadian tak kalah mengejutkannya juga terjadi. Dalam persinggahan di suatu lanud yang dijadwalkan hanya sebentar, lalu terbang lagi, sehingga tidak perlu mematikan mesin pesawat, ternyata telah dikumpulkan anak-anak TK di bandara itu.

“Mereka mengajak foto-foto. Ya sudah, akhirnya mau enggak mau kita cut engine (matikan mesin). Kita juga ingin mereka terinspirasi dan termotivasi,” kata penerbang yang bersuamikan seorang navigator TNI AU tersebut. 

Fariana sendiri mendapat pengalaman yang tak kalah seru. Karena sering singgah lama di suatu daerah, jadi ketika di sana kesannya seperti artis.

"Pejabatnya heran ternyata ada (penerbang TNI AU) cewek. Dengan pejabat lanud lain kan kita jarang ketemu, mereka antusias dengan kita. Mungkin mereka juga bangga punya penerbang cewek. Penerimaan mereka asyik. Kita diajak foto-foto, diajak dan diperkenalkan ke muspida. Ini lho TNI AU punya ini (penerbang wara),” cerita Fariana. [sindo]

Baca Juga Artikel Lainnya

KSAL: Pencarian 4 Personil TNI AL yang Hilang dalam Pengawalan Kapal Berbendera Filipina, Sampai Ditemukan


Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi memerintahkan pencarian terhadap empat personel yang hilang usai menangkap dan mengawal pelayaran kapal nelayan tanpa izin asal Filipina, harus dilakukan sampai ditemukan.

“Proses pencarian harus sampai ketemu dan tanpa batas waktu,” ujarnya kepada wartawan usai bertemu Gubernur Jawa Timur Soekarwo, di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Selasa, 24/1/2017.

Sejak dinyatakan hilang pada pertengahan Desember 2016, jenderal bintang empat itu menegaskan empat personel TNI AL yang saat itu sedang bertugas belum diketahui nasibnya.

Sebanyak 12 kapal yang dikerahkan untuk membantu pencarian ditambah dari Tim SAR selama 3-4 minggu ini, kata dia, belum menunjukkan tanda-tanda hasil positif.

Kendati demikian, pihaknya tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Filipina untuk mencari para personel yang hilang dengan kapalnya tersebut.

Tidak hanya di laut, TNI AL juga melanjutkan pencarian di darat serta berkoordinasi dengan berbagai pihak agar dapat memberikan informasi terkait keberadaan empat personelnya.

“Kalau tenggelam di laut atau kapalnya pecah, namun pencarian sampai sekarang belum ada ada hasilnya. Tidak menutup kemungkinan personel yang hilang sudah ada di darat. Kami pastikan akan tetap mencarinya sampai ketemu,” ucapnya.

Sementara itu, pada proses pencarian, Angkatan Laut Filipina juga membantu melakukan pencarian empat personel TNI AL yang sampai saat ini belum ditemukan usai menangkap dan mengawal pelayaran kapal nelayan tanpa izin Filipina, Nurhana, di Perairan Talaud, Sulawesi Utara, pada 13 Desember 2016.

Keempat personel TNI AL itu adalah perwira dan anggota KRI Layang-635 yang melakukan pengawalan di kapal “Nurhana” beserta tiga anak buah kapal Filipina.

Mereka hilang saat melakukan perjalanan ke Pangkalan TNI AL (Lanal) Melonguane di Talaud, Sulawesi Utara.

Perjalanan awalnya aman dan lancar, namun saat cuaca buruk, komunikasi terputus dan kemudian KRI Layang-635 mengejar ke posisi tim kawal, tetapi kapal “Nurhana” tidak ditemukan. [jakartagreater]

Baca Juga Artikel Lainnya

Bukan Aceh, Kaum Ibu Minanglah Pertama Kali Beli Pesawat Untuk Indonesia



Banyak masyarakat Indonesia tak mengetahui, ternyata induak-induak, amai-amai, bundo kanduang (kaum ibu) Minangkabau di Sumatera Barat-lah yang pertama kali berkorban menyumbangkan emas, perak dan perhiasan lainnya untuk membeli pesawat terbang jenis Avro Anson demi Kemerdekaan Indonesia, bukan Aceh.

Mereka, kaum perempuan ini tanpa sungkan dan pikir panjang menyumbangkan liontin, perak hingga emas mulai emas anting, kalung, gelang bahkan cincin kawin beralih tangan ke Panitia Pusat Pengumpul Emas yang dibentuk oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, 27 September 1947, di Bukittinggi.

Tak hanya kaum perempuan di Bukittinggi saja yang menyumbangkan emas perhiasan mereka, melainkan juga dari Padang Panjang dan sekitar Bukittinggi. Bung Hatta berada di Bukittinggi, Sumatera Barat, selama tujuh bulan mulai Juni 1947 hingga Februari 1948.

Sebagai catatan, rakyat Aceh mengumpulkan emas untuk membeli pesawat Dacota setelah Presiden Soekarno datang langsung ke negeri Serambi Mekah tersebut, beberapa bulan kemudian, 16 Juni 1948. Uniknya, pesawat dibeli tersebut diberi nama RI-001, sedangkan pesawat dibeli masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, RI-003, padahal pembelian di Bukittinggi lebih dahulu dibandingkan Aceh. 

Kembali ke cerita pembelian pesawat Avron Anson, keberadaan Bung Hatta di kampung halamannya sebelum Belanda melancarkan Agresi Militer I, pertengahan Juli 1947. Berbagai kota di Pulau Jawa dan Sumatera sudah diduduki penjajah, dan Ibukota Indonesia masih berusia belum genap dua tahun juga dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta.

Dilansir dari agamkab.go.id, kota-kota besar di Pulau Sumatera juga sudah diduduki Belanda, seperti Medan, Padang, dan Palembang. Bersamaan itu, diputuskan, ibukota Keresidenan Sumatera Barat ikut dipindahkan dari Padang ke Bukittinggi. Perpindahan ini juga diikuti pindahnya ibukota Provinsi Sumatera ke Bukittinggi.

Halim Perdanakusumah di depan pesawat Avro Anson

KOMODOR Muda Halim Perdanakusumah (kanan) dan Opsir Udara I Iswahjudi, berfoto bersama pemilik pesawat terbang Avro Anson, Paul H Keegan, Desember 1947, di Lapangan Udara Gadut, Agam, Sumatera Barat.

Bung Hatta ketika Agresi Militer I berada di Bukittinggi, kemudian mencoba cari jalan mengatasi blokade ekonomi diterapkan Belanda. Blokade ini menyulitkan posisi pemerintah dan menyengsarakan kehidupan rakyat. Hatta kemudian berpikiran, perlu upaya untuk menerobos blokade tersebut.

Caranya, membeli pesawat terbang dengan meminta sumbangan ke rakyat Minangkabau guna mengatasi blokade Belanda dan mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kemudian Bung Hatta pada 27 September 1947, membentuk Panitia Pusat Pengumpul Emas untuk mengumpulkan sumbangan dari rakyat tersebut. Pesawat terbang ini akan diterjunkan dalam misi-misi khusus guna menyelamatkan Republik Indonesia dari serangan Belanda.

Panitia ini dipimpin Mr A Karim, Direktur Bank Negara, dengan anggota para pejabat dan tokoh ikut rombongan Bung Hatta dari Yogyakarta serta diperkuat Mr Sutan Mohammad Rasjid, residen Sumatera Barat.

Usai membentuk kepanitian, Bung Hatta mengadakan sebuah apel besar di Lapangan Kantin (lapangan depan Makodim 0304/Agam, sekarang). Tanpa pikir panjang, selama dua bulan, amai-amai (ibu-ibu) mendaftarkan diri menyumbangkan semua perhiasan emas dan peraknya.

Tim ini, seperti disampaikan oleh Gamawan Fauzi, mantan Gubernur Sumatera Barat dan Menteri Dalam Negeri, masuk keluar kampung hingga ke pelosok-pelosok nagara, menggugah masyarakat dan meminta kerelaan kaum ibu menyumbangkan perhiasan emas mereka untuk perjuangan.

Pertemuan diadakan di berbagai tempat, tanah lapang, mesjid, surau-surau, juga gedung sekolah, bioskop dan sebagainya. Tanpa diduga, walau kondisi ekonomi sedang susah di masa Revolusi Kemerdekaan, keinginan membeli pesawat terbang itu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Sebagai contoh, ketika Residen Mohammad Rasjid dan Komandan Divisi Banteng Kolonel Ismael Lengah mengumpulkan dana perjuangan di Padang Panjang. Di depan warga memenuhi gedung bioskop tempat pertemuan diadakan, kedua pimpinan perjuangan tersebut memaparkan suka-duka para prajurit di front pertempuran menghadapi tentara Belanda.

Dilukiskan pula bagaimana kekejaman tentara Belanda yang membunuh Walikota Padang Bagindo Azizchan. Karena Padang Panjang termasuk dekat dengan daerah pertempuran, tidaklah terlalu sulit menjelaskannya kepada rakyat.

Ternyata, dalam keadaan krisis dan hidup dalam kesusahan, ketika menghadapi musuh bersama, rakyat mudah dipersatukan. Secara serentak mereka mendaftarkan dan menyerahkan sumbangan.

Walhasil, hanya dalam tempo kurang dari dua bulan, emas sudah terkumpul sebanyak satu kaleng biskuit. Pada akhir November 1947, bertempat di kantornya Gedung Agung (kini Istana Bung Hatta), Wakil Presiden Bung Hatta menerima emas tersebut.

Emas perhiasan tersebut berasal dari sumbangan rakyat Sumatera Barat itu lalu dilebur dan dijadikan emas batangan dengan berat 14 kilogram (kg) dari tangan Ketua Majelis Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) Sumatera Barat, Chatib Sulaiman.

Wakil Presiden Bung Hatta lantas menugaskan seorang pembantu dekatnya, Aboe Bakar Loebis bersama timnya mencari kapal terbang untuk dibeli. Berkat bantuan dua staf Perwakilan RI di Singapura, kebetulan putra Minangkabau juga, Letnan Penerbang Mohammad Sidik Tamimi alias Dick Tamimi dan Ferdy Salim (putra Haji Agus Salim), didapat kapal terbang jenis Avro Anson di Thailand.

Pesawat tersebut milik Paul H Keegan, warga negara Australia dan bekas penerbang RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) pada Perang Dunia II. Usai Perang Dunia II, banyak pesawat terbang sebelumnya digunakan untuk perang, dijualbelikan begitu saja, termasuk pesawat milik Keegan.

Awal Desember 1947, pesawat terbang jenis Avro Hanson diterbangkan ke lapangan udara Gadut, Bukittinggi oleh Keegan, didampingi Dick Tamimi dan Ferdy Salim dari Songkhla, Thailand Selatan.

Paul H Keegan Pemilik Pesawat Avro Anson Dibeli Kaum Ibu Minangkabau

PAUL H Keegan, warga negara Australia, pemilik pesawat terbang Avro Anson yang dibeli Indonesia dengan harga 14 kilogram emas batangan disumbangkan kaum ibu Minangkabau.

Pesawat ini diterbangkan setelah ada 'clearance' dari perwakilan AURI di Singapura. Dengan demikian pesawat itu menjadi milik AU, dan nomor registrasi diganti menjadi RI-003. Pesawat ini tiba di Bukittinggi untuk diperlihatkan langsung ke warga Minangkabau dan pemimpin daerah ini.

Avro Anson kemudian diberi kode registrasi VH-BBY. Pesawat itu dibeli dengan harga 12 kg emas murni, kemudian diberi nomor registrasi RI-003. Keegan meminta pembayaran diserahkan di Songkhla, Thailand.

Setelah pesawat tiba di Bukittinggi, Iswahyudi mengadakan percobaan terbang dan berhasil dengan baik. Usai itu, 9 Desember 1947, pesawat Avro Anson diterbangkan dari Gadut menuju Songkhla dengan transit di Pekanbaru guna mengisi bahan bakar.

Dua penerbang AURI, Opsir Udara I Iswahyudi sebagai pilot dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma sebagai navigator, didatangkan langsung dari Yogyakarta untuk menerbangkan pesawat tersebut.

Penumpangnya Paul Keegan, Aboe Bakar Loebis, Is Yasin, dan Dick Tamimi. Selain mengantarkan Keegan pulang, misi tim melakukan penjajakan pembelian senjata dan pesawat serta melihat perwakilan RI guna mengatur penukaran dan penjualan barang-barang berhasil dikirim dari dalam negeri dan kemudian memasukan barang Singapura ke daerah RI menembus blokade Belanda.

Mereka sampai di Songkhla sore hari. Nasib nahas menimpa rombongan Aboe Bakar Loebis. Mereka diusir polisi setempat karena dituduh sebagai penyelundup candu dan emas. Setelah sampai mereka di Thailand, mereka diusir polisi setempat dengan alasan penyelundupan candu, emas dan perhiasan. Abu Bakar Lubis dan kawan-kawan akhirnya pindah ke Penang, Malaysia, Singapura, seterusnya ke Bukittinggi.

Sedangkan, Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi mendapat tugas menerbangkan pesawat kembali ke Gadut, Bukittinggi. Selain mengantarkan Keegan, mereka mendapat tugas pula untuk mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang Singapura dalam rangka membeli senjata yang akan dibawa ke Tanah Air lewat Singapura.

Pada 14 Desember 1947, sesudah menyelesaikan tugas di Bangkok, RI-003 kembali berangkat menuju Singapura. Dalam perjalanan kembali inilah tiba-tiba di daerah Perak-Malaysia pesawat tersebut terjebak dalam cuaca buruk.

Kabar buruk ini juga diterima Abu Bakar Lubis dan kawan-kawan yang pindah ke Singapura menggunakan jalur darat. Sekitar satu jam sesampainya di Singapura, Aboe Bakar Loebis, menerima telegram dari Polisi Malaka.

Isinya, satu unit pesawat Avro Anson telah jatuh di pantai Selat Malaka, dekat Tanjong Hantu, Negeri Perak, Malaysia. Laporan pertama tentang kecelakaan diterima oleh polisi Lumut dari dua orang warga China penebang kayu bernama Wong Fatt dan Wong Kwang, 14 Desember 1947, sekitar pukul 16.30

Dilansir dari tni-au.mil.id, seorang petugas kepolisian berbangsa Inggris bernama Burras segera pergi ke tempat musibah. Baru pada pukul 18.00 ia tiba dilokasi kejadian. Namun, dia tidak menemukan sesuatu, karena air sedang pasang naik.

Baru pada keesokan harinya Kepala Polisi Lumut bernama Che Wan dan seorang anggota Polisi Inggris bernama Samson berangkat ke tempat kecelakaan dan tiba di tempat pukul 09.00. Kepadanya kemudian dilaporkan tentang ditemukan sesosok jenazah yang mengapung beberapa ratus yards dari lokasi reruntuhan pesawat, yang oleh para nelayan setempat dibawa ke darat.

Ditemukan juga barang-barang lain di antaranya sebuah dompet, buku harian pesawat, kartu-kartu nama, sarung pistol yang tidak ada pistolnya, sarung pisau dengan nama Keegan di atasnya, dan beberapa potong pakaian. Dari bukti-bukti yang ditemukan itu diambil kesimpulan pesawat terbang yang mengalami kecelakaan itu adalah pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Disimpulkan kecelakaan terjadi bukan karena kerusakan mesin, tetapi karena cuaca sangat buruk. Berita mengenai kecelakaan pesawat segera tersebar luas, di antaranya dimuat dalam surat-surat kabar berbahasa Inggris seperti The Times dan Malay Tribune terbitan tanggal 16 Desember 1947.

Tokon-tokoh masyarakat Malaysia juga bersimpati terhadap perjuangan Indonesia menaruh perhatian besar terhadap peristiwa tersebut. Di Lumut, dibentuk panitia pemakaman untuk menguburkan Halim Perdanakusuma.

Namun, mayat Iswahyudi tidak pernah ditemukan hingga saat ini walaupun pencarian dilakukan secara intensif. Hanya jenazah Halim Perdanakusuma yang ditemukan, sedangkan Iswahyudi hilang. Halim dikuburkan di Malaysia, beberapa tahun kemudian dipindahkan ke TMP Kalibata di Jakarta.

Begitulah nasib pesawat Avro Anson. Belum sempat dimanfaatkan, telah jatuh. Tapi kapal terbang dibeli dengan sumbangan emas rakyat Sumatera Barat tersebut dicatat sejarah karena telah melahirkan dua pahlawan nasional, Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma.

Pemerintah kemudian membangun tugu di Lapangan Udara Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, mengenang pengorbanan tersebut. Sedangkan, nama Iswahyudi diabadikan untuk lapangan terbang AURI di Malang, sedangkan Halim Perdanakusuma dipakai untuk nama pangkalan utama AURI di Jakarta.[Sumber : riauonline.co.id]

Baca Juga Artikel Lainnya

Selundupkan Senjata, Pasukan Perdamaian Indonesia Ditangkap di Sudan


Aparat keamanan pemerintah negara bagian Darfur Utara, Sudan, menangkap pasukan Indonesia yang tergabung dalam Pasukan Penjaga Perdamaian (UNMAID) di Darfur. Pasukan Indonesia itu ditangkap karena mencoba menyelundupkan senjata setelah meninggalkan bandara El-Fasher.

Deputi Gubernur Darfur Utara Mohamed Hasab al-Nabi mengatakan kepada Sudan Tribune bahwa pasukan keamanan di bandara El-Fasher, pada hari Kamis menyita sejumlah besar senjata dan amunisi yang dimiliki korps UNAMID.

”Pasukan UNAMID itu berangkat setelah menyelesaikan layanan dalam kerangka perubahan secara rutinitas. Sesuai dengan informasi yang diperoleh oleh pasukan keamanan kami, senjata dan amunisi disita dengan beberapa bahan lain yang terlihat seperti debu dan batu,” katanya, yang dikutip Senin (23/1/2017).

Sementara itu, dalam siaran persnya, UNMAID membenarkan insiden penangkapan dan penyitaan senjata itu. 

“Sejumlah senjata dan barang-barang yang berhubungan dengan militer ditemukan oleh pihak Keamanan UNAMID di beberapa bagasi check-in, selama rotasi kontingen UNAMID di bandara El- Fasher," bunyi pernyataan UNMAID.

Dalam pernyataan singkat, UNAMID menegaskan bahwa mereka bekerjasama dengan pemerintah Sudan dan meluncurkan penyelidikan. [sindonews]

Baca Juga Artikel Lainnya

Senjata Buatan Indonesia Yang Buat AS dan Australia Was-Was


Sebagai negara besar Indonesia memiliki kemampuan yang sering membuat negara lain terkagum-kagum. Negara indonesia memiliki pasukan khusus yang masuk ke dalam daftar 3 pasukan elit terbaik di dunia yang mengalahkan Australia bahkan Malaysia. Beberapa pasukan tetangga sering meminta Militer Indonesia untuk melatih pasukannya agar menjadi pasukan yang profesionala. Contoh salah satu negera yang meminta Indonesia untuk melatih tentaranya adalah Brunai Darussalam, negara ini berhasil dilatih oleh pasukan khusus Indonesia yaitu kopassus.  Dengan sentuhan tangan kopassus Brunai darussalam berhasil mengalahkan beberapa negara dalam ajang perlombaan Senjata dan Indonesia yang diwakili oleh Kopassus menjadi juara umum di Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2015) mengalahkan Amerika dan Australia.

Secara Mandiri ternyata Indonesia telah bangkit menjadi kekuatan militer besar dengan dengan memproduksi sendiri alutsita dan peralatan tempur  untuk kebutuhan militer nya bahkan telah mengekspor beberapa produk militer buatan Indonesia ke luar negeri. Produk alutsista buatan Indonesia merupakan hasil karya anak Bangsa melalui perusahan plat merah  PT PAL, PT. PNDAD, dan PT. Dirgantara Indonesia.

Keberanian Indonesia untuk menciptkan sendiri produk militer tidak terlepas dari ingin melepaskan diri dari ketergantungan terhadap produk luar negeri. Alutsista buatan Indonesia ini ternyata terbukti sangat tangguh bahkan dapat mengalahkan negara besar seperti Australia dan Amerika hal ini dibuktikan dengan kemenangan mutlak militer Indonesia di ajang menembak tingkat Internasional.

Pasukan Kopassus juara menembak jitu mendapat perhatian dari negara-negara lain, mereka tidak percaya dengan senjata buatan Pindad [perusahaan dalam negeri] bisa menjadikan tni juara menembak 2015 diajangan internasional, bahkan militer asing curigai senjata buatan pindad, hal ini berkaitan dengan kekalahan negara yang memiliki militer tercanggih di dunia seperti AS dan Australia.

Produk buatan indonesia yang terkenal di dunia mulai diamati oleh beberapa negara yang takut menjadi produk buatan Indonesia ini menjadi pesaing mereka. Di masa pemerintahan Orde Baru produk buatan indonesia yang mendunia akan di produksi secara masal setelah sukses uji terbang yaitu N250 namun, pesawat ini di cekal oleh IMF yang berada di belakangnya adalah Amerika dan antek-anteknya.

Kini produk Indonesia telah mulai bangkit dan berkembang kembali, hal ini membuat beberapa negara resah jika Indonesia bangkit maka akan menjadi pesaing bagi negara mereka dan akan menjadi negara Muslim terbesar dengan kemampuan teknologi yang canggih.

1. Kepala Roket (Smoke Warhead)


Kepala Roket (Smoke Warhead) merupakan salah satu produk militer Indonesia yang tergolong kepada Alutsista asli buatan Indonesia yang menarik perhatian dunia. Smoke warhead termasuk kepada senjata mematikan yang dapat digunakan untuk berbagai misi pertempuran. Kepala roket ini memiliki diameter 70 ml jika dikombinasikan dengan pesawat seperti Super Tucano Indonesia maka akan memiliki kemampuan yang sangat tangguh. Smoke warhead memimiliki peran penting untuk menghancurkan target musuh dengan informasi yang berasal dari senjata ini maka pilot dapat mengetahui posisi persis jatuhnya roket mereka.  Cara Kerja dari sistem senjata ini adalah pada saat roket mengenai tanah maka kepala roket akan lepas serta mengeluarkan asap selama 2 menit. Dengan waktu sebanyak Itu waktu maka cukup bagi pilot guna memutar haluan pesawat untuk kembali melihat letak roket jatuh. Senjata Buatan Indonesia ini telah di ekspor ke luar negeri, sebanyak 260 Kepala roket ‘Smoke Warhead‘ di kirim ke Cile. Alutsis militer Indonesia ini memang sangat diminati oleh pihak militer.

2. Panser Anoa


Panser Anoa merupakan Alutsista militer Indonesia yang telah mendunia. Kendaraan lapis baja buatan Indoensia ini telah menorehkan banyak prestasi dan berhasil menjalankan berbagai misi. Misi pertama dari Panser Anoa yaiotu pada saat darurat militer di Aceh saat menghadapi pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka {GAM} yang memiliki berbagai senjata mematikan untuk digunakan melawan tentara Indonesia. Namun, dengan keberadaan Panser Anoa keselamatan tentara Indonesia mulai terjamin. Alutsista ini menjadi produk militer buatan Indonesia yang sangat laris dibawah sentuhan Pindad Panser Anoa tampak lebih keren dan juga menakutkan dikombinasikan dengan kemampuan nya yang tahan terhadap berbagai cuaca yang telah teruji saat menjalankan misi dengan pasukan perdamaian PBB.

Panser Anoa telah di ekpor ke beberapa negara termasuk Malaysia dan juga telah di pesan oleh Oman bahkan Brunai Darrussalam. Kemampuan dari Panser Anoa buatan PT PIndad ini telah dibuktikan di Libanon sehingga menarik minat dari berbagai negara untuk membelinya.

Produk alutsista terbaru Indonesia dibawah Pindad yaitu Panser Anoa jenis baru dengan mengusung Kanon kaliber 20 mm yang berjenis berjenis IFV (Infantry Fighting Vehicle). Kendaraan tempur buatan Indonesia ini diperuntukan untuk kebutuhan Batalyon Infantri Mekanis. Sedangkan Panser Kanon 90 mm diperuntukan untuk Batalyon Kavaleri, dan Panser Kanon 20 mm digunakna batalyon. Alutsista Militer Indonesia ini juga dilengkapi dengna senjata utama kaliber 20 mm dan mampu untuk Panser jenis ini juga mampu menyandang senapan mesin sedang kaliber 7,62 mm serta membawa lima orang, yang terdiri dari tiga kru Ranpur dan dua personel pasukan.

3. Pesawat CN 235-MPA


Alutsisa militer Indonesia yang merupakan Produk militer Indonesia yang dikenal dunia berikutnya adalah Pesawat CN 235-MPA. Pesawat dengan kemampuan stabil ini adalah Pesawat Maritime Patrol Aircraft (MPA) yang produksi oleh PT Dirgantara Indonesia merupakan pesawat buatan Indonesia yang sangat diminati negara lain.

Pesawat militer Indonesia ini telah menjadi produk militer indonesia yang diekspor ke negara lain :

Empat pesawat CN 235-MPA ke Korsel dan Pesawat CN 235 : pesawat angkut militer VIP, ke Senegal, Afrika. Militer Indonesia sendiri melalui TNI AL memborong 6 unit CN-235 MPA untuk tahun 2014.

4. Fast Patrol Boat


Fast Patrol Boat merupakan jenis alutsista militer INdonesia yang sangat mendunia. ALutsista buatan Indonsia ini merupakan hasil karya dari Putra putri terbaik Indonesia di PT PAL. Kapal untuk kepentingan militer ini telah diminati oleh negara kecil timor leste, tentunya dengan kemampuan dan kecepatan yang dimilikinya kapal ini dapat melakukan patroli pengamanan dengan sangat efesien.   Kemampuan dari kapal ini sangat lincah saat bermanuver dengan kecepatan maksimum 30 Knot, bahakn saat official trial bisa mencapai 33 Knot. Eletronik canggih yang ada di kapal ini adalah Radar NavNet yang dapat mengintegrasikan data-data peralatan sistem navigasi juga komunikasi seperti echo sounder, speed log serta GPS ke dalam peta elektronik dan juga sistem radar.

5. Peluru/Amunisi buatan PT Pindad


Produk militer buatan Indonesia berikutnya adalah amunisi / Peluru. Perusahaan pemerintah berplat merah PT Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) dalam beberapa dekade ini telah menjadi pemasok utama untuk amunisi / peluru untuk kebutuhan TNI-Polri. Salah satu alutsista militer Indonesia yang merupakan buatan Pindad antara lain dengan berkaliber 5,56 mm, 7,62 mm dan 9 mm.

Kualitas dari salah satu senjata buatan indonesia ini ternyata diminati oleh banyak negara terbukti dari ekpor peluru ke beberapa negara seperti Singapura, Filipinan, Bangladesh, hingga ke Amerika Serikat (AS). Bahkan negara kecil seperi Singapura sudah memesan 10 juta peluru. Dan 1 juta  peluru sudah diekspor ke AS dengan nilai transaksinya mencapai USD 200.000. Bahkan peluru ini juga telah digunakan oleh beberapa negara dalam berbagai misi negara termasuk Indonesia.

6. Senapan serbu SS-2



Kemampuan Indonesia untuk memproduksi senjata tidak perlu diragukan lagi. Melalui PT Pindad Indonesia  telah mengeluarkan produk dalam negeri yang sangat mematikan seperti senapan serbu (SSI-VI, SS2-V2, SS1-V3, SS1-V5), Senapan sniper (SPR-1) pistol (P-1, P-2), revolver (R1-V1, R1-V2, RG-1 (tiper A), RG-1 (tipe c), senapan sabhara/polisi (Sabhara V1 and Sabhara V2), senjata penjaga hutan, pistol profesional magnum, peluncur granat, dan pelindung tubuh (personal body protection).

Produk-produk yang dihasilkan itu banyak dipesan oleh negara-negara di luar negeri. Di antaranya adalah sebuah jaringan supermarket khusus olahraga berburu, camping, dan memancing bernama Cabelas’s, yang merupakan pembeli terbesar produk-produk buatan Pindad.

Senapan serbu SS-2 merupakan produk langganan negara-negara Afrika seperti Zimbabwe, Mozambik, dan Nigeria. Selain itu, Thailand dan Singapura juga kerap memesan senjata tersebut.

Kini Perusahaan-perusahaan penyokong alutsita dan persenjataan TNI selalu mengembangkan produknya guna meningkatkan mutu serta kualitas. Yang terbaru adalah PT. PAL akan membuat kapal Induk skala kecil untuk menyokong tugas-tugas TNI.

Itulah sedikit urain tentang produk senjata canggih buatan Indonesia yang diminati Negara lain. Semoga informasi ini dapat membuat kita semakin bangga dan cinta dengan Indonesia. [tribun]

Baca Juga Artikel Lainnya

Wanita Indonesia Ini Jadi Satu-Satunya Kepala Pilot Uji Wanita Di Dunia


Kapten Esther Gayatri Saleh, satu-satunya perempuan yang menjadi chief test pilot atau kepala pilot uji di pabrik atau manufaktur pesawat udara. Hebatnya, meski ia tetap mempertahankan statusnya sebagai warga negara Indonesia dan mengabdi di Indonesia.

PT Dirgantara Indonesia (DI) atau Indonesian Aerospace, bahkan bangsa Indonesia patut bangga memiliki Ester Gayatri Saleh. Sejak 10 April 2015, ia menjadi Chief Test Pilot dan Flight Instuctor PTDI dan satu-satunya perempuan yang menjadi pilot uji pesawat sayap tetap, manufaktur pesawat udara di dunia.

Setiap manufaktur pesawat udara memiliki kebebasan untuk mengangkat siapa saja menjadi chief test pilot, yang dianggap berkredibilitas dan berpengetahuan, bertanggung jawab, mumpuni, serta memiliki keterampilan.

“Saat itu, tak ada orang kecuali saya. Kriteria ‘bapak-bapak’ (atasan-atasannya) mengangkat saya, pastilah dari beberapa sisi. Malam setelah pengangkatan itu, saya bilang, apa benar saya sudah mumpuni?” tutur Esther seperti dikutip di Angkasa.co.id, Sabtu, 19 November 2016.

“Kalau kita cari, chief test pilot di Airbus, Boeing, Embraer, dan perusahaan-perusahaan penerbangan yang memiliki manufaktur, belum ada kepala pilot uji perempuan. Di operator memang ada, tapi di manufacturing tidak ada, kecuali di sini,” ungkapnya.

Ternyata, posisi chief test pilot di manufaktur pesawat udara merupakan suatu prestasi, karena tak semua orang bisa terpilih dan tidak banyak yang bersedia menjalani profesi penuh resiko tersebut.

Esther mendapatkan lisensi menjadi seorang pilot uji dari sekolah pilot uji di Kanada di International Test Pilot School di London City pada April 2016 lalu.

 “If your are a chief test pilot at Boeing…wow!!! Saya dibegitukan juga. Saya merasa biasa saja karena kerja saya begini saja dari dulu. Ternyata itu kedudukan yang paling tinggi di antara para test pilot. Test pilot itu sekolahnya memang beda. Pengetahuan dan risikonya juga berbeda. Untuk jadi astronot misalnya, datangnya dari test pilot,” papar Esther.

 Posisinya membuat Esther diminta untuk menjadi anggota Internasional Test Pilot Society (ITPS). "Saya ‘disponsori’ oleh sekolah pilot uji di Kanada . Sebelumnya belum pernah ada yang minta. Saya sedang mempersiapkan data saya untuk itu,” katanya. [riauonline]

Baca Juga Artikel Lainnya

Liputan Khusus, Marinir TNI AL Uji Coba Ranpur Amfibi BTR-4M


Setelah cukup lama menghuni Bumi Marinir Cilandak dan bahkan menjalani penugasan operasional perdananya dalam pengamanan kediaman Wakil Presiden RI, saat terjadinya aksi unjuk rasa 212, baru kali inilah kendaraan tempur amfibi BTR-4M menjalani uji kemampuan arung lautnya.

Angkasa Online melaporkan, bahwa pengujian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana BTR-4M dapat memenuhi tuntutan kemampuan asasinya dalam membelah permukaan air dan tentunya mendaratkan pasukan.

Perjalanan dimulai pada Rabu malam, 18 Januari 2017 selepas penduduk Jakarta kembali ke rumahnya masing-masing. Diselingi sisa-sisa kemacetan rush hour, iring-iringan 2 ranpur BTR-4M keluar dari Bumi Marinir Cilandak dan membelah jalanan Jakarta. Perjalanan jadi terasa istimewa karena ranpur dipacu di jalan raya, tidak digendong oleh truk transporter Tatra. Sekaligus untuk menguji kemampuan lintas jalan raya tentunya.

Rute perjalanan melalui tol JORR dengan rute masuk dari tol TB Simatupang, kemudian tembus ke Meruya, Kamal, dan akhirnya menuju pantai Tanjung Burung Tangerang. Kalau tidak melihat ke sekeliling yang berupa dinding baja yang dipenuhi peralatan, maka rasanya seperti naik sebuah SUV mahal yang nyaman saat BTR-4M dipacu kencang.



Setiba di pantai, kedua BTR-4M dipersiapkan untuk uji arung di pagi harinya tanggal 19 Januari. Ketika fajar pagi menyingsing, tim dari Korps Marinir dan perwakilan perusahaan KMDB disambut oleh mentari pagi yang cerah, langit yang biru, dan laut yang tenang.

Sempurna! Kalau bukan karena sedang kerja, ingin rasanya meloncat ke dalam air dan berenang-renang ria. BTR-4M yang berwarna hijau lumut pun kontras dengan birunya langit yang hanya dihiasi sedikit awan.
Setelah final check, dua BTR-4M dengan propeller yang berputar dan trim vane yang sudah mengembang pun masuk ke dalam air laut secara perlahan, dan kemudian melaju membelah ombak. Kendaraan sangat stabil dan tenang, tidak berbeda kondisinya ketika dibandingkan dengan pengujian di sungai yang ada di Ukraina.

Seperti rekan warjager lihat dalam foto, jarak antara atap kendaraan dan permukaan laut juga masih berselisih tinggi, berkat penambahan buoyancy kit pada BTR-4M. Tidak ada keraguan sama sekali bahwa ranpur tangguh asal Ukraina ini akan sanggup mengemban tugas untuk melancarkan operasi amfibi yang membutuhkan kendaraan dengan spek khusus. [jakartagreater]

Baca Juga Artikel Lainnya

TNI AU Miliki Pilot Helikopter Wanita Pertama di Asia Tenggara


Rambutnya pendek, ringkas, praktis. Perawakannya nggak jauh beda sama kamu. Namanya Fariana Dewi Djakaria. Di jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), gampang banget dikenali sebab dia satu-satunya pilot helikopter tempur wanita. Fariana, kelahiran Pariaman, Sumatera Barat itu juga tak menyangka dirinya bakal memiliki profesi yang luar biasa ini.

Awalnya Fariana tercatat sebagai mahasiswi jurusan Administrasi Bisnis Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung. Hingga dia duduk di semester IV, nasibnya terbalik. Seorang saudaranya yang bekerja di TNI AU mengabarkan bakal ada perekrutan Wanita Angkatan Udara (WARA). Saat itulah dia tergerak untuk mencoba lantaran tawaran ajaib ini tak bakal datang dua kali.


Seleksi demi seleksi diikutinya. Fariana pun lulus menjadi WARA. Namun tidak langsung diberikan hak untuk terbang. Dia ditempatkan di bagian keuangan, baru ikutan tes seleksi penerbang. Dari 14 WARA, hanya 2 orang yang lolos termasuk Fariana.

Dibandingkan pesawat, Fariana memilih menerbangkan helikopter. Tak sembarangan, yakni helikopter tempur! Ternyata menerbangkan helikopter lebih sulit dari pesawat, lho guys. Bahkan Fariana tercatat sebagai satu-satunya wanita pengendara helikopter di Indonesia dan Asia Tenggara, WOW! Sungguh prestasi yang membanggakan dan mendobrak arus dominasi para lelaki. Kamu keren banget, Fariana! [jakartagreater]

Baca Juga Artikel Lainnya

Sempat “Deg-degan”, Presiden Jokowi Puji Kualitas Panser Anoa Pindad



Presiden Joko Widodo mengaku sempat merasa “deg-degan” saat menaiki Panser Anoa 2 milik TNI yang baru dibeli dari PT Pindad itu menyeberangi danau dengan dalam tiga meter dan panjang 300 meter.

“Tadi semua ‘deg-degan’, tapi saya yakin bahwa produk itu memiliki kualitas yang baik. Tadi dapat kita lihat masuk ke air tenang sekali dan bisa ke darat lagi,” kata Presiden Jokowi.

Usai mencoba, Presiden Jokowi pun memuji kualitas Panser Anoa Amfibi buatan PT Pindad tersebut. “Tadi yang Anoa Amfibi bagus sekali. Tank bisa masuk air kan bagus,” ujarnya.

Presiden berharap harga dan kualitas produk pertahanan nasional bisa bersaing dengan produk negara lain sehingga bisa dijual ke pasar yang lebih luas, tidak hanya tergantung pada pasar dalam negeri.

“Kalau costing (pembiayaan) bisa ditekan, artinya produk itu kompetitif di pasar, menjualnya gampang, mudah,” kata Presiden.

Panser Anoa Amfibi buatan Pindad memiliki konfigurasi 6×6 dengan panjang enam meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2,63 meter, berat 12,5 ton. Kapasitas bahan bakarnya 200 liter dan mampu melaju dengan kecepatan 80 kilometer per jam di jalan raya, 30 kilometer per jam di medan off road serta 10 kilometer per jam di dalam air.

[Sumber: Antara]

Baca Juga Artikel Lainnya

Hebat! Indonesia akan Segera Miliki Kapal Induk seperti Amerika dan Rusia


Ternyata Indonesia diam-diam juga ingin membuat dan memiliki sebuah kapal induk, dan tidak tanggung tanggung  kalo mimpi ini terwujud kapal induk ini nantinya  akan menjadi kapal induk yang  terbesar di dunia…weleh…weleh.., selain itu Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama di asia tenggara yang memiliki kapal induk, seperti apa mimpinya nya silahkan baca terus sedikit bocoran info di bawah ini

Kapal Republik Indonesia Induk Nusantara

Rancangan Kapal Induk ini nanti akan di lengkapi dengan mesin/turbin uap bertenaga nuklir sebagai mesin penggerak utama nya, tenaga nuklir ini diperoleh dari reaktor nuklir yang berada pada kapal tersebut yang dihubungkan dengan turbin uap. Tenaga uap yang dihasilkan kapal Induk tersebut selain sebagai penggerak kapal juga digunakan sebagai sumber tenaga listrik serta digunakan juga sebagai pengatur tekanan pada catapult kapal induk untuk meluncurkan pesawat.

Pada  Armada Amerika serikat kapal ini diberi kode CVN (Carrier Vessel Nuclear) contoh kapal induk nuklir adalah: 
  • USS Ronald Reagan, USS Kitty Hawk, USS Enterprise
  • USS Enterprise (CVN-65), launched in 1960, the first nuclear-powered aircraft carrier
  • USS America (CV-66), launched in 1964
  • USS John F. Kennedy (CV-67), launched in 1967

All ten Nimitz-class nuclear-powered aircraft carriers:
  • USS Nimitz (CVN-68), launched in 1972
  • USS Dwight D. Eisenhower (CVN-69), launched in 1975
  • USS Carl Vinson (CVN-70), launched in 1980
  • USS Theodore Roosevelt (CVN-71), launched in 1984
  • USS Abraham Lincoln (CVN-72), launched in 1988
  • USS George Washington (CVN-73), launched in 1990
  • USS John C. Stennis (CVN-74), launched in 1993
  • USS Harry S. Truman (CVN-75), launched in 1996
  • USS Ronald Reagan (CVN-76), launched in 2001
  • USS George H.W. Bush (CVN-77), launched in 2006
  • Gerald R. Ford-class nuclear-powered aircraft carriers:
  • USS Gerald R. Ford (CVN-78) NOTE: Under Construction
  • USS John F. Kennedy (CVN-79) NOTE: Under Construction


Dengan adanya pemusatan populasi di daerah dekat lautan, keberadaan AL dapat mempengaruhi peristiwa dunia. Serangan dari laut merupakan salah satu hal vital dalam strategi militer. AL dapat menyediakan sarana bagi angkatan lain untuk melakukan penyerangan lanjutan, seperti ”tempat tinggal” yang aman bagi tentara, pelabuhan dan lapangan terbang di lautan.

Hal ini dapat dipenuhi dengan adanya kapal induk. Sebuah kapal induk kelas ini dapat mengangkut lebih dari 100 pesawat dan 8.000 tentara. Sebuah kapal induk dengan 70 pesawat militer dapat mengirimkan lebih dari 250 serangan sehari terhadap target di daerah pesisir.

Akan tetapi, target dengan jarak yang relatif jauh masih dapat diserang, bukan hanya di daerah pesisir. Sebuah kapal induk biasanya membawa stok bom lebih dari 9.000 buah.

Perbandingan Ukuran KRI Nusantara dengan Kapal Raksasa Lainnya.


Strategi Pembuatan KRI Nusantara

1. Mempelajari dan meneliti kapal induk bertenaga nuklir di negara-negara maju dengan cara mengirimkan para pelajar, peneliti dan perwira militer untuk menimba ilmu pengetahuan-teknologi dalam bidang ini.

2. Pembuatan Institusi Pendidikan, Riset dan Pengembangan dalam bidang Perkapalan Modern

3. Pembuatan dan Pengembangan Industri Perkapalan dalam negeri yang melibatkan sektor swasta

4. Sinergi antara pihak militer dan pihak industri pertahanan
General Characteristics:

Type : Giant Double Deck- Nuclear Aircraft Carrier
Displacement : 400.000 Tons
Length : 600 m
Propulsion:
6 × Mini Nuclear Reactors
12 × Steam turbines
(800 MW)
Speed: 60+ knots

Marine technology is defined by WEGEMT (a European association of 40 universities in 17 countries) as “technologies for the safe use, exploitation, protection of, and intervention in, the marine environment.” In this regard, according to WEGEMT, the technologies involved in marine technology are the following: naval architecture, marine engineering, ship design, ship building and ship operations; oil and gas exploration, exploitation, and production; hydrodynamics, navigation, sea surface and sub-surface support, underwater technology and engineering; marine resources (including both renewable and non-renewable marine resources); transport logistics and economics; inland, coastal, short sea and deep sea shipping; protection of the marine environment; leisure and safety.

Sebuah rencana yang harus di kasih dua jempol, tapi sayang nya rencana besar ini pasti tidak akan terwujud dalam waktu yang singkat, karena untuk mewujudkan impian ini sudah pasti memerlukan biaya yang sangat besar,   dengan melihat keadaan dan kondisi ekonomi negeri saat ini yang terus carut marut..he..he …akibat korupsi yang terus tumbuh meraja lela di seluruh negeri dan di tambah lagi banyak nya badut-badut politik negeri ini yang selalu hiruk pikuk dengan dagelan politik nya …rasanya rencana ini sepertinya cuma jadi mimpi pelipur lara……soalnya kapal kapal perang kita yang ada sekarang aja semuanya beli seken.. India aja..yang tekhnologi lebih maju dari kita lebih memilih membeli kapal induk seken untuk memperkuat armada lautnya….akhirnya…lambat laun impian ini juga  akan mengendap di bawah meja kali ya..

Sumber:
Kaskuser
Defense Studies
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertahanan
PT. PAL Indonesia [militerhankam]

Baca Juga Artikel Lainnya