Kenalan Dengan Pasukan Denjaka, Kekuatan 1 Orang = 120 TNI Biasa


Detasemen Jala Mengkara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (Denjaka TNI AL) bukan pasukan sembarangan. Mereka prajurit khusus yang terdiri dari gabungan anggota pasukan elit TNI AL lainnya yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib). Denjaka terbentuk atas instruksi Panglima TNI masa lalu pada Komandan Korps Marinir dengan nomor Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Yang mencengangkan dan selalu digadang-gadang, kekuatan 1 personil Denjaka setara dengan 120 orang prajurit TNI biasa, lho! Luar biasa!

Tugas utamanya yakni sebagai satuan antiteror terutama di laut. Gak salah jika Panglima TNI menyiapkan pasukan Denjaka untuk membebaskan warga negara Indonesia (WNI) yang disekap oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Namun tidak disebutkan bakal ngapain aja Denjaka di sana. Ini karena aktivitas Denjaka benar-benar dirahasiakan. Kegiatan-kegiatannya jarang dipublikasikan. Jadi siap-siap menganga, ya, lantaran kekuatan mereka bakal mengejutkan musuh saat terjadi perang.

Meski di bawah TNI AL, namun Denjaka mampu bergerak di darat, laut, dan udara. Mereka sering dilibatkan untuk mengamankan kegiatan presiden. Saban tahun ratusan orang mendaftar jadi anggota pasukan Denjaka, namun hanya 50 orang yang lolos. Satu demi satu tumbang setelah melakukan proses seleksi dan latihan sangat mengerikan. Bikin militer asing merinding bulu kuduknya.

Salah satu latihan Denjaka yang banyak disorot yakni melepas mereka di laut dengan tangan dan kaki terikat. Mereka harus bisa lolos dari ikatan itu. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika kondisi tersebut ditemui saat perang dan musuh menghukum mereka dengan cara demikian. Tak cuma itu saja. Anggota Denjaka juga pernah dilepas di hutan berminggu-minggu dengan hanya berbekal garam. 

Saat di udara juga demikian. Mereka harus bisa terjun dari pesawat dengan ketinggian yang gak bisa dideteksi musuh. Gak kebayang tingginya kayak apa. Asli merinding disko pastinya. Nah, itu tadi sekelebat soal Denjaka TNI AL yang bikin kamu cuma bengong. Doakan mereka supaya selalu sehat, yuk, dan bisa menjaga NKRI dengan baik, amin. [bintang]

Baca Juga Artikel Lainnya

Selesai Menjalani Hardepo, Tujuh Kapal TNI Angkatan Laut Siap Beroperasi


TNI Angkatan Laut kembali diperkuat oleh tujuh unit kapal perang yang telah selesai menjalani pemeliharaan tingkat depo (Hardepo) tahun 2016.

Ketujuh kapal yang siap melaksanakan tugas pokok sebagai penegak kedaulatan negara di laut tersebut adalah KRI Pulau Rusa-726, KRI Krait-827, KRI Silea -858, Patkamla Sadarin II.3-02, Patkamla Salmaneti II.3-03, Patkamla Samadar II.3-04 dan Patkamla Sawangi II.3-05.

Penyerahan ketujuh kapal tersebut dipimpin oleh Kepala Dinas Materiel Angkatan Laut (Kadismatal), Laksamana Pertama (Laksma) TNI Aziz Ikhsan Bachtiar, kepada Koarmabar dan Lantamal III, di ruang TFG gedung Satkorarmabar Pondok Dayung, Jakarta Utara, Kamis (29/12).

Laksma Aziz menjelaskan bahwa pemeliharaan yang dilakukan oleh Satuan Pemeliharaan Materiel Armabar (Satharmatbar) meliputi sistem pendorong (repowering), sistem badan kapal (bakap) dan sistem bantu.
“Hardepo ini dilaksanakan karena kapal-kapal tersebut usia pakainya sudah cukup tinggi sehingga memerlukan upaya untuk mengembalikan kemampuannya guna mendukung tugas pokok TNI AL,” ujar Kadismatal.

Pada sistem bakap diperoleh hasil kondisi bangunan kapal dan fasilitas akomodasi meningkat sehingga layak melaksanakan operasi. Demikian juga pada sistem bantu terjadi peningkatan kemampuan peralatan bantu dan kelengkapan peralatan keselamatan. [jakartagreater]

Baca Juga Artikel Lainnya

Rusia: Kapal Selam Non Nuklir untuk Indonesia akan Dilengkapi Rudal Shock Kaliber


Rusia sedang mempertimbangkan kemungkinan pasokan kapal selam non-nuklir Proyek 636 “Warszawianka” untuk Indonesia, ujar wakil direktur Layanan Federal untuk Militer dan Pelayanan Teknis Kerjasama (FSMTC) Anatoly Punchuk, kepada RIA Novosti, 20 Oktober 2016.

“Wilayah Asia-Pasifik menunjukkan minat yang stabil dalam pembelian kapal selam diesel dari Proyek 636 "Warszawianka" Kemampuan untuk memasok kapal tersebut saat ini sedang berjalan dengan pihak Indonesia.” – Kata Punchuk. Menurut dia, sedang dilakukan negosiasi tambahan dengan mitra, membahas rincian teknis kerjasama.

Submarine proyek “Warszawianka” mengacu pada generasi ketiga, memiliki displacement 3,95 ton, kecepatan terendam 20 knot, menyelam di kedalaman 300 meter, awak 52 orang. Kapal selam proyek 636 yang dimodifikasi ini memiliki efektivitas tempur. Kapal selam dipersenjatai dengan torpedo kaliber 533 milimeter (enam unit), ranjau laut, sistem rudal shock “Kaliber”. Kapal dapat mendeteksi target pada jarak tiga sampai empat kali lebih besar dibandingkan kemampuan kapal selam biasa dalam mendeteksi musuh. Untuk itu kapal selam siluman ini diberi nama oleh NATO “Black Hole.” [jakartagreater]

Baca Juga Artikel Lainnya

Korps Marinir TNI AL Beli Peluncur Roket dari Tiongkok


Dalam satu langkah diversifikasi sumber alutsista yang sudah menjadi kebiasaan di dalam TNI, Jane’s melaporkan bahwa Korps Marinir TNI AL membeli sejumlah sistem artileri berbasis roket kaliber 122mm dari Tiongkok. Pembelian ini merupakan realisasi dari kontrak pengadaan yang ditandatangani tahun 2015.

Sistem artileri yang dibeli Type 90B MLRS (Multiple Launch Rocket System), yang berbasis truk 6×6 flatbed. Dengan pengadaan Type 90B, Korps Marinir TNI AL tercatat mengoperasikan tiga sistem MLRS yang berbeda, yaitu RM70 Grad dan RM70 Vampir eks Ceko, dan terakhir Type 90B. Seperti apakah Type 90B ini?

Sistem MLRS yang satu ini dibuat oleh Norinco pada 2004, dan merupakan penyempurnaan dari Type 90A yang dirilis pada dekade 1990an. Type 90 mewakili evolusi panjang sistem MLRS Tiongkok yang juga diawali dari BM-21 Grad. Platform truk pengusung Type 90B adalah truk buatan China Beifang-Benchi (eks North-Benz) 2629 yang ditenagai mesin buatan Jerman Deutz 1015 dengan turbocharger berdaya 480hp dipadu sistem transmisi ZF dengan sembilan gigi maju dan satu mundur. Jarak tempuhnya mampu mencapai 800 km dengan sekali isi penuh tangki solarnya. Awaknya duduk di cabin depan yang sekaligus sebagai kendali peluncuran.

Type 90B menggunakan sistem pengoperasian dan pengarah otomatis untuk peluncur roketnya, dipandu komputer dan sistem penentu arah roket yang ditampilkan pada layar display, termasuk sudut penembakan, azimuth, posisi arah kotak peluncur relatif terhadap kendaraan, dan dan kemiringan kendaraan. Sistem kendali penembakan sudah didukung dengan penentuan koordinat melalui GPS (Global Positioning System) sehingga meningkatkan akurasi dan perkenaan.

Tabung peluncur yang terpasang di flatbed di belakang terdiri dari empat baris roket dengan sepuluh tabung per baris, atau total 40 roket bisa disiapkan untuk ditembakkan. Sudut dongak tabung roket ini bisa diatur mulai 0o untuk kondisi perjalanan sampai 55o dengan azimuth dari -102o sampai +102o. Untuk perlindungan dari cuaca, sistem tirai terpal bisa dioperasikan otomatis untuk menyelubungi tabung peluncur sampai ke belakang, dan ditarik ke depan saat roket hendak ditembakkan. Type 90B juga dilengkapi dengan dua pasak hidrolik di bagian belakang bawah flatbed yang dapat diturunkan untuk menjejak tanah dan menyediakan kestabilan untuk menahan hentakan pada saat peluncuran.

Jika dihitung, hanya butuh waktu 7 menit terhitung dari truk berhenti untuk mempersiapkan, mengoperasikan, sampai menembakkan roket-roket 120mm yang dibawa Type 90B. Penembakan dapat dilakukan secara tunggal, satu-persatu atau penembakan secara salvo dengan jeda 0,5 detik antar roket untuk meninggalkan tabungnya. Pengisian ulang dapat dilakukan melalui sistem pengisian otomatis yang dapat dilakukan dalam waktu 3 menit oleh kendaraan pengisi. Untuk hululedak, Type 90B kompatibel dengan segala roket 122mm, tentunya termasuk R-han yang tengah dikembangkan oleh Pindad.

Jika dioperasikan lengkap, satu batalion MLRS Type 90B akan terdiri dari satu ran komando 4×4 North Benz 1929, tiga kendaraan pengintai depan berbasis ranpur WM551A 6×6, satu ran meteorologi, satu ran bengkel lapangan, satu ran bengkel elektronik, dan satu baterai. Jane’s melaporkan bahwa Korps Marinir TNI AL hanya menerima empat unit Type 90B, dan saat ini sedang melakukan uji terima melalui uji tembak di Jawa Timur. [angkasa]

Baca Juga Artikel Lainnya