Ada Suara Dentuman Misterius, Mabes TNI AU: Bukan Bom Atau Pesawat Jatuh


Suara dentuman misterius yang didengar oleh warga Solo raya, Selasa (30/8/2016) bukanlah bom atau juga pesawat yang jatuh.

Namun dipastikan, pesawat F-16 milik TNI Angkatan Udara yang sedang berlatih di sekitar Jawa Tengah.

"Jadi pesawat kami sedang berlatih pertempuran udara. Itu dari Lanud Iswahyudi," kata Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI Angkatan Udara Marsma Jemi Tri Sonjaya kepada Tribunnews.com.

Menurutnya, misi latihan menghindari tembakan yang dilakukan pesawat buatan Amerika Serikat tersebut menimbulkan suara yang luar biasa.

"Ada 10 pesawat misi latihan dalam rangka, escape mengindari tembakan. Kecepatannya masuk melebihi kecepatan suara, supersonic," kata Jemi.

Diberitakan sebelumnya, hanya di Kota Solo, dentuman tersebut juga terdengar diberbagai wilayah lain seperti Sragen, Karanganyar dan Sukoharjo. [tribun]

Baca Juga Artikel Lainnya

Jenderal USA: Indonesia adalah Guru Vietnam dan Korea Utara saat Berperang Melawan USA


Ada sesuatu yang istimewa dalam acara Talk Show di TV ABC 13, Texas.  Acara tersebut bekerjasama dengan Universitas Dallas, Texas.  Tapi yang menarik, acara tersebut justru menyangkut Militer Indonesia.

Karena dalam wawancara tersebut dihadirkan narasumber yang cukup kompeten.  Talk Show di TV ABC 13 Texas menghadirkan para jenderal purnawirawan USA dan British.

Talk Show dihadiri Jenderal (purn) Mike Jackson (pemimpin pasukan Inggris saat menyerbu Irak), Jenderal (purn) Tommy Franks (pemimpin Delta Forces saat Operasi Badai Gurun), Jenderal (purn) Peter Pace (mantan Jenderal US Marine dan Kepala Staf Gabungan US) serta Mahasiswa dari Universitas Dallas.

Ada seorang mahasiswa Universitas Dallas bertanya tentang penempatan Marinir USA di Australia. Maka jawaban dari Jenderal tersebut cukup mencengangkan buat pemirsa semua.

Bertanya : “Apakah penempatan US MARINE berindikasi akan ada serangan USA ke Indonesia suatu saat nanti?”

Jend. Peter Pace : ”Saat ini ada 3 kekuatan besar MARINIR dunia, dan Indonesia berada pada posisi ke 3.”
“Penempatan US MARINE hanya untuk stabilitas kawasan di Asia Tenggara, jangan bermimpi USA berencana menyerang Indonesia meski USA pimpinan NATO. Tidak pernah terpikir oleh pemimpin USA untuk menyerang Indonesia.”

Presenter TV ABC 13, Hannah, menambahkan pertanyaan : “USA pernah terlibat konflik di kawasan Asia Timur Jauh, kenapa Indonesia begitu diperhitungkan?”

Jend.Tommy Franks : ”Kita pernah punya pengalaman pahit di Vietnam dan Korea, dan semua pemimpin USA sadar siapa dibalik kedua negara Asia yang pernah terlibat konflik dgn kita”.

“Indonesia adalah guru bagi Vietnam dan Korea Utara saat berperang melawan USA.”

Jend. Peter Pace : “Kita sering berlatih dengan Indonesia. Kita sadar bagaimana kemampuan pasukan khusus Indonesia, pasukan kita sering kewalahan dalam setiap latihan perang dengan Indonesia”

Jend. Tommy Franks : “Saat operasi pembebasan sandera di pesawat yang dibajak di Bangkok Thailand, Delta Force memantau operasi tersebut. Operasi berjalan sukses dan sangat efektif.”

“Hal lain yang tidak dimiliki oleh pasukan negara lain, anda akan terkejut bila mendapati satu mata pelajaran yang takkan didapat di pendidikan elite militer manapun, yakni pendidikan gerilya.”

Jend. Mike Jackson : ”Doktrin militer Indonesia sudah dipakai di beberapa negara Asia bahkan Afrika karena Indonesia memang diminta melatih beberapa negara Asia dan Afrika.”

“Meski Indonesia kekurangan senjata, tidak mungkin mudah menaklukkan Indonesia karena jika perang terjadi bukan hanya militernya yang maju perang tapi rakyatnya juga pasti turut membantu untuk menghabisi lawan.”

“SAS sudah pernah merasakan saat berhadapan dengan aliansi tentara Indonesia dan rakyat indonesia. Jadi jangan pernah anggap ringan dengan Indonesia”, ungkap Jenderal Mike Jackson.

Seorang mahasiswi juga bertanya tentang kekuatan Asia di mata Militer Internasional.

Apa jawaban mereka? Lagi-lagi Indonesia jadi sorotan.

Jend. Mike Jackson : “Indonesia dalam waktu dekat akan jadi sebuah negara yang militernya sangat besar dan sulit tertandingi”.

Jend. Peter Pace : “Indonesia memiliki semuanya dan kalau itu diopersionalkan maka Indonesia akan melampaui India dan Cina dalam perkembangan militer”.

Jend. Tommy Franks : “Sebagai orang yang pernah memimpin pasukan khusus, saya tahu banyak rahasia teknik militer yang tidak ditunjukkan dalam latihan perang bersama.”

“Ada satu pasukan khusus Indonesia yang jarang mengadakan latihan bersama yaitu AU. Pasukan khusus AU Indonesia adalah satu-satunya pasukan dengan kualifikasi Korps Pasukan Khas TNI-AU di Asia dan katanya terlengkap di dunia.”

“Kalau saat ini banyak negara terutama yang tergabung dalam NATO mengadakan hubungan dagang militer dengan Indonesia, itu sebuah kebijakan yang tepat, karena kalau tidak akan sangat membahayakan posisi NATO di Asia, karena Indonesia memiliki konsep Non Blok.”

“Ke depan saya harapkan tidak ada sanksi atau embargo yang dijatuhkan kepada Indonesia, karena itu dapat menimbulkan kerawanan di kawasan Asia tersebut

Sampai berita ini diturunkan, tidak ada yang menjamin keabsahan kebenarannya. Namun, sebagai rakyat Indonesia sudah seyogyanya kita bangga bahwa kemampuan militer indonesia diakui kehebatannya bahkan menjadi perhatian negara-negara super power di seluruh dunia.

Maju Terus Militer Indonesia! Salam Komando! [viaberita]

Baca Juga Artikel Lainnya

Kisah Seorang Marinir Indonesia yang Menyusup ke Kapal Perang Malaysia


Kemampuan Militer Indonesia memang sudah tidak usah lagi dipertanyakan kehebatannya. Setiap ada event kejuaraan tentara antar negara-negara di dunia hampir dipastikan Militer Indonesia adalah salah satu juaranya. Salah satu kemampuan militer indonesia yang sejak dahulu diperhitungkan oleh para lawannya adalah kemampuan angkatan lautnya atau sering dikenal dengan marinir indonesia.

Indonesia yang sejak dahulu dikenal sebagai negara maritim tentunya sudah menjadi keharusan untuk mempunyai kemampuan militer yang baik di angkatan lautnya. Marinir Indonesia memiliki pasukan elit yang bernama Kopaska (Komando Pasukan Katak).

Konon katanya, kemampuan seorang prajurit Kopaska setara dengan kemampuan 24 orang TNI. Terlepas dari benar atau salah hal tersebut, memang harus diakui Marinir Indonesia memiliki  sistem pendidikan prajurit salah satu yang paling baik di dunia sehingga sering dijadikan pedoman pendidikan tentara oleh negara-negara lain.

Ada satu cerita nyata menarik tentang keberanian seorang marinir indonesia yang dengan gagah berani menyusup ke kapal patroli malaysia dan mengancam menembak kapten malaysia. Cerita ini bersumber dari twitter @motivator_tni yang dikelola oleh para anggota TNI. Berikut ceritanya :

Pada waktu konflik ambalat pertama ada cerita yang cukup menarik mengenai aksi tentara kita terhadap kapal patroli malaysia. Pada saat itu di perairan karang unarang ambalat, kita sedang membangun mercu suar sebagai bukti kedaulatan kita disana. Pembangunan mercu suar tersebut tidaklah mudah mengingat kapal malaysia sering mengganggu.

Kapal malaysia sering dengan sering mendekati mercu suar lalu mengerem mendadak sehingga ombak cukup besar menghantam mercu suar. Hal ini sangat menyulitkan para pekerja dalam menyelesaikan pembangunan. Sebenarnya di mercusuar ada 2 tentara marinir yg berjaga dengan senjata lengkap dan posisi senjata diarahkan ke Kapal Patroli Malaysia tersebut. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak mengingat tidak ada perintah menembak kecuali ditembak terlebih dahulu.

Tentunya bisa dibayangkan betapa jengkelnya tentara kita melihat gangguan tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa. (apa lagi pekerjanya lihat ada TNI tapi tidak bisa berbuat apapun hehe maaf ya pak).

Melihat para pekerja berbasah-basah dan nyaris jatuh ke laut terkena terjangan ombak kapal. Mereka berpikir kalau begini terus caranya kapan bisa selesai pembangunan mercu suar tersebut sementara mereka harus terus berjaga. Setelah kelelahan menganggu dengan ombak buatannya, Kapal Perang malaysia beristirahat di tengah laut dekat mercusuar. Sementara itu awak kapalnya tidur-tiduran dan duduk2 sambil baca koran di atas dek kapal.

Terkejutnya mereka tiba” di atas kapal sudah berdiri 1 marinir dgn senjata mengarah ke mereka sambil membentak “siapa pemimpin disini”. Seseorang perwira kapal malaysia keluar dari kapal sambil mengangkat tangan “saya” jawabnya dengan sedikit gugup. “Pergi dari sini jauh jauh atau saya tembak” perintah Tentara kita. Tanpa berpikir panjang Kapal Malaysia segera menjauh dari Mercu suar. Sementara itu tentara kita langsung meloncat ke laut untuk kembali ke mercu suar. (berarti berenang dengan bawa senjata menuju dan ketika pergi dari kapal Malaysia).

Sejak insiden tersebut tidak ada lagi kapal malaysia berani mendekat Mercu suar, sehingga pembangunan bisa lebih cepat. Kejadian ini sempat jadi pembicaraan hangat di Kota Tarakan dan sempat diberitakan pada koran lokal. Walaupun insiden ini cukup beresiko tapi masyarakat di perbatasan cukup mengapresiasi keberanian tentara tersebut.

So, masih ada yang berani macam-macam dengan Marinir Indonesia?

Salam Komando! Indonesia Raya! [viaberita]

Baca Juga Artikel Lainnya

Pembajakan oleh Abu Sayyaf, Panglima TNI: Pasukan Saya Sudah Tanya Kapan Berangkat Bebaskan WNI Disandera


Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengecek kesiapan, menganalisa dan memberikan petunjuk-petunjuk apa yang harus dilakukan oleh pasukan (AD, AL, AU dan Brimob) yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC), di Pangkalan Udara Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (18/4/2016).

Usai mengecek dan memberikan pengarahan kepada PPRC TNI, Gatot menyampaikan kepada awak media, bahwa sesuai apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo terkait dengan kejadian pembajakan kali kedua.

"Saya selaku Panglima TNI diperintahkan untuk menyiapkan pasukan, untuk setiap saat kita bisa melakukan tindakan tegas. Saya datang kesini untuk mengecek kesiapan semuanya. Saya tidak bisa jelaskan tempatnya dimana dan bentuk latihannya seperti apa. Latihan ini hanya untuk prajurit agar terbentuk feeling. Sehingga, suatu saat TNI disiapkan untuk berangkat, dan berdasarkan sejarah tidak ada yang gagal, kita harus optimis," kata Gatot.

Dalam kesempatan itu Gatot didampingi oleh KSAD Jenderal TNI Mulyono, KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi, Danjen Kopassus Mayjen TNI M Herindra, Dankormar Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, Dankorpaskhas Marsda TNI Adrian Watimmena dan para Asisten Panglima TNI.

Panglima TNI juga mengatakan bahwa jumlah pasukan yang dikerahkan (TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Kepolisian) berkisar ratusan, tidak sampai ribuan, sesuai dengan fungsi dan profesionalisme masing-masing, tergantung operasinya.

Terkait perkembangan upaya pembebasan yang dilakukan Angkatan Bersenjata Filipina, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menuturkan sampai sekarang ini mereka (AB Filipina) masih melaksanakan operasi.

"Kalau mereka minta bantuan kami, dengan puji syukur, saya langsung berangkatkan. Pasukan saya sudah nunggu saja, sudah tanya kapan dia berangkat," katanya. [tribun]

Baca Juga Artikel Lainnya

Sering Juara Menembak, TNI Ajari Tentara Prancis Cara Menembak.



Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Satgas Indobatt (Indonesian Battalion) Kontingen Garuda (Konga) XXIII-J/Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon) menggelar Latihan Bersama dengan FCR (Force Commander Reserve) Batalyon Perancis. Latihan yang berlangsung selama lima hari, 23-27 Mei 2016 di sekitar AOR (Area of Responsibility) Indobatt, Lebanon Selatan.

Tampak prajurit TNI memandu salah seorang tentara Prancis saat memegang senjata dan membidik sasaran.

Latihan Bersama antara Satgas Indobatt dan Batalyon Perancis dibuka secara resmi oleh Komandan Satgas (Dansatgas) Konga XXIII-J/Unifil, Letkol Inf. Dwi Sasongko dalam suatu upacara militer di Lapangan Soekarno UN Pos 7-1, Adchid al-Qusayr, Lebanon Selatan. Latihan ini diikuti oleh perwakilan dari UN (United Nation), para Komandan Kompi Indobatt, Perwira Staf Indobatt, 2 (dua) Pleton Pasukan Indobatt dan 1 (satu) Pleton dari FCR dibawah kendali Captain Hugo Martin.

Menurut Letkol Inf Dwi Sasongko, suatu kepercayaan dan penghargaan bagi Satgas Indobatt karena terpilih oleh UN untuk melaksanakan latihan bersama dengan Batalyon Prancis.

“Latihan ini selain untuk menciptakan hubungan baik kedua negara antara Indonesia dan Perancis, sekaligus pula dapat meningkatkan kemampuan masing-masing negara dalam bersama-sama mensukseskan Misi Perdamaian di Lebanon Selatan,” ujarnya seperti siaran pers Perwira Penerangan Konga XXIII-J/Unifil, Lettu Sus Tri Bowo H. Febriyanto.[jpnn.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Filipina Izinkan TNI Operasi Darat di Pulau Weh



Pemerintah Filipina telah mengizinkan militer Indonesia untuk melakukan operasi darat mengejar kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Namun, operasi darat hanya boleh di wilayah tertentu.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan, operasi darat oleh militer Indonesia juga dibatasi tidak termasuk untuk wilayah yang ditandai sebagai markas kelompok bersenjata Abu Sayyaf.

"Operasi darat sudah dilakukan di pulau Weh itu. Itu operasi darat‎," ujar Ryamizard di Silang Monas, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2016).

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini menambahkan, operasi pembebasan WNI yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf masih dikendalikan militer Fipilina. Sedikitnya, 10 ribu pasukan militer Filipina dikerahkan untuk mengejar kelompok bersenjata Abu Sayyaf.

Dia mengungkapkan, wilayah pulau Basilan dan Sulu masih menjadi operasi militer Filipina. Alasannya, dua wilayah ini tempat bersarangnya kelompok Abu Sayyaf.

"Kalau kita ikut ke sana aparat kita bisa salah tembak. Kita monitor kalau seandainya diperlukan untuk menutup," tandasnya.[sindonews.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Markas digempur militer Filipina, 120 anggota Abu Sayyaf tewas



Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan hampir separuh anggota Abu Sayyaf berhasil dilumpuhkan tentara Filipina dalam serangan di markas besar kelompok separatis tersebut di Pulau Basilan, dekat Mindanao. Anggota Abu Sayyaf pun berkurang secara signifikan

"Jumlah mereka (Abu Sayyaf) kan kira-kira 300 orang, kalau saya hitung dari laporan (militer Filipina) yang tewas sudah 115 atau 120 orang jadi cukup signifikan (pengurangannya)," kata Menhan usai memimpin Apel Gelar Nasional Bela Negara di lapangan silang Monumen Nasional, Jakarta, Selasa (23/8).

Setelah menggempur markas Abu Sayyaf di Basilan, termasuk tempat persembunyian bawah tanah, pasukan angkatan bersenjata Filipina bekerja sama dengan Moro National Liberation Front (MNLF) akan melanjutkan serangan di markas lain yang berada di Pulau Jolo, perairan Sulu.

Menurut Menhan, upaya ini menunjukkan keseriusan pemerintah Filipina menangani gerakan pemberontak di wilayah kedaulatan negaranya. Sekaligus untuk membebaskan sembilan sandera WNI yang masih menjadi tawanan kelompok tersebut.

Bahkan, kata dia, gempuran dan serangan tentara Filipina diyakini membuat anggota Abu Sayyaf waspada hingga lengah mengawasi sandera yang dua di antaranya WNI berhasil meloloskan diri pada 17 Agustus.

"Mereka (Abu Sayyaf) kan ditekan terus, mereka kan waspada terhadap serangan dari tentara Filipina, sampai dia tidak waspada terhadap tawanan. Tawanan melihat kesempatan ya dia lari. Itu akibat desakan tentara Filipina," tutur Ryamizard.

Meskipun belum bisa memastikan kepulangan dua WNI bernama Ismail (22) dan Muhammad Sofyan (28), namun Ryamizard berencana menggunakan keterangan kedua WNI tersebut sebagai jalan masuk menyelamatkan sembilan WNI lainnya.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa kedua WNI asal Sulawesi Selatan tersebut dalam kondisi sehat dan kini berada di KBRI Manila. "Mereka di Manila dengan dubes (Indonesia untuk Filipina), (kepulangannya) kita serahkan pada dubes," ujar Gatot.

Ismail dan Muhammad Sofyan adalah dua dari tujuh WNI ABK Tugboat Charles yang dibajak kelompok bersenjata di perairan Sulu, selatan Filipina pada 20 Juni 2016. Sementara ABK lainnya, yakni Ferry Arifin, Muh Mahbrur Dahri, Edi Suryono, Muhammad Nasir dan Robin Piter masih disandera.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Jenderal Gatot berdoa tentara Filipina minta bantuan TNI



Panglima TNI Gatot Nurmantyo melakukan pengecekan kesiapan dan memberikan arahan kepada tim gabungan TNI-Polri yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC), di Pangkalan Udara Tarakan, Kalimantan Utara. Arahan ini dilakukan sesuai dengan instruksi dari Presiden Joko Widodo atas kejadian pembajakan kedua WNI oleh kelompok Abu Sayyaf. 

Langkah ini guna memastikan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) siap jika sewaktu-waktu pihak otoritas Filipina meminta bantuan untuk melakukan operasi pembebasan tawanan. 

"Kalau mereka minta bantuan kita, dengan puji syukur, saya langsung berangkatkan. Pasukan saya sudah nunggu saja, sudah tanya kapan dia berangkat,"kata Gatot di lokasi, Senin (18/4).

Gatot juga mengatakan bahwa jumlah pasukan yang dikerahkan dalam tim itu berkisar ratusan personel saja, tidak sampai ribuan. Tim yang akan diterjunkan pun akan disesuaikan dengan fungsi dan profesionalisme masing-masing, tergantung operasinya.

"Saya datang kesini untuk mengecek kesiapan semuanya. Saya tidak bisa jelaskan tempatnya dimana dan bentuk latihannya seperti apa. Latihan ini hanya untuk prajurit agar terbentuk feeling. Sehingga, suatu saat TNI disiapkan untuk berangkat, dan berdasarkan sejarah tidak ada yang gagal, kita harus optimis," 

Dalam melakukan peninjauan, Gatot didampingi oleh Kasad Jenderal TNI Mulyono, Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi, Danjen Kopassus Mayjen TNI M. Herindra, Dankormar Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, Dankorpaskhas Marsda TNI Adrian Watimmena, para Asisten Panglima TNI dan Kapuspen TNI Mayjen TNI Tatang Sulaiman.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Indonesia Bidik Peringkat 10 Kekuataan Militer Dunia



Target Kekuatan Militer Indonesia untuk bisa masuk 10 besar dunia patut didukung. Dengan kekuatan militer tersebut, Indonesia akan menjadi negara kuat yang diakui kedaultannya. Kekuatan militer ini, bukan untuk menekan negara lain tetapi untuk menjaga perdamaian kawasan.

“Survey Global Fire Power (GFP) posisi Indonesia turun dari peringkat 12 tahun 2105 menjadi 14 di tahun 2106, namun indeks kekuatan (power indeks score) naik dari nilai 0,5231 menjadi 0,3354, menandai kecilnya indek kian kuat kekuatan militer kita,” ujar Sultan X saat membuka Pameran Alutsista, (15/08/2016) di Jogja City Mall (JCM) dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-71.

Sultan menyebutkan peringkat itu dilihat dari faktor : geografis, populasi, personil militer, anggaran militer peralatan tempur hingga utang luar negeri. “Dari 126 negara yang disurvey, TNI berada di bawah Pakistan, Mesir, Korea Selatan, Italia, Jerman, Turki, Jepang, Inggris, Perancis, India Tiongkok, Rusia dan AS di peringkat pertama,” ujar Sultan.

Sementara di zona Asia, lanjut Sultan, Indonesia berada di peringkat 8 setelah Rusia, Tiongkok, India, Jepang, Turki, Korea Selatan dan Paskitan di Asia Tenggara di atas Vietnam, Thailand, Myanmar, Malaysia, Singapura, Kamboja dan Laos. “Target Indonesia 10 besar di dunia. Dalam kekuatan militer menjadi kebutuhan pokok yang diprioritaskan dalam pembangunan,” ujar Sultan.

Komponen penilaian GFP, dari manpower (personil), land system (AD), Air Power (udara), Naval Power AL, Resources SDA, logistik dan geografis. “Negara menyiapkan penambahan alutsista seperti Super Tucano ke formasi TNI tahun 2018 juga untuk ikut operasi gabungan,” ujar Sultan. Selain itu Sultan juga menyebutkan prestasi membanggakan TNI diantaranya Kopassus peringkat tiga di bawah SAS Inggris dan Mossad Israel.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Pasukan Marinir Indonesia, Ketiga Terbesar di Dunia



Meski tak dilengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) secanggih milik negara maju, Indonesia patut berbangga terhadap Korps Marinir TNI Angkatan Laut.

Pasalnya, Indonesia memiliki kekuatan Korps Marinir terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

“Kekuatan Marinir Indonesia adalah yang terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Inggris,” kata Komandan Korps Marinir Mayjen TNI Buyung Lalana saat menyambangi Kantor Redaksi MNC Media, di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis 30 Juli 2015.

Buyung memaparkan, di dalam sebuah pertemuan tahunan persatuan Marinir tingkat dunia yang digelar di Hawai, Amerika Serikat beberapa waktu lalu, korps baret ungu ini mendapatkan sambutan hangat dari sejumlah negara adikuasa.

“AS bilang Anda (Marinir) negara kekuatan ketiga terbesar di dunia. Marinir yang berhasil membuat kita gentar. Saya berkunjung ke Indonesia dan Marinir punya yel-yel yang berhasil memprovokasi kami, buat gentar kita,” ungkap Buyung menirukan pujian pihak Marinir AS.

Apresiasi dari Marinir AS terhadap Marinir Indoneisa tersebut memang bukan tanpa alasan. Buyung mengatakan, dari sejumlah kegiatan latihan bersama yang diadakan antara prajurit Marinir dari tiga negara (Indonesia-AS-Inggris), kegigihan prajurit Indonesia tak kalah dengan dua negara adikuasa tersebut.

“Kita sering berlatih bersama dengan mereka (AS-Inggris). Dengan kemampuan dan besarnya armada kita, mereka memuji kita. Sebagai ilustrasi, dalam kegiatan berenang menyeberangi Selat Sunda tahun lalu, 817 dari 1000 personel Marinir itu berhasil menyeberang,” ucap Mayjen Buyung.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

KSAD Tegaskan Pecat Prajurit yang Terlibat Jaringan Freddy Budiman



Kicauan terpidana mati Freddy Budiman yang disampaikan melalui Kordinator Kontras, Haris Azhar membuat sejumlah institusi kemanan di Indonesia mulai melakukan investigasi. TNI membentuk tim khusus untuk untuk menyelidiki kebenaran kicauan tersebut.

TNI juga akan memberikan sanksi tegas jika ada anggotanya yang terlibat. Bahkan, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menegaskan, Dia akan langsung memecat anak buahnya jika terbukti terlibat dengan jaringan narkoba Freddy Budiman.

Untuk mengantisipasi keterlibatan prajurit TNI AD dengan narkoba, KSAD menambahkan, dia telah memerintahkan untuk melakukan pengecekan dan pemeriksaan secara rutin. “Untuk institusi AD, rutin sudah ada pengecekan dan pemeriksaan secara sidak,” tegasnya di Jakarta, Rabu (10/8/2016).[jakartagreater.com]


Baca Juga Artikel Lainnya

TNI Angkatan Darat Siagakan Dua Batalion Pasukan Guna Bebaskan 10 WNI



Hingga saat ini, kelompok Abu Sayyaf masih menyandera sepuluh orang warga negara Indonesia (WNI) di wilayah Filipina. TNI belum bisa bergerak untuk melakukan pembebasan karena terhalang oleh konstitusi Filipina.

Namun, TNI Angkatan Darat telah menyiapkan dua batalion khusus yang dapat segera bergerak jika sewaktu-waktu Panglima TNI memerintahkan operasi militer guna membebaskan sepuluh WNI tersebut.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Mulyono, mengatakan bahwa pasukan itu terus berlatih dan selalu siap diberangkatkan.

“Saya sudah melatih, saya sudah menyiapkan calon. Nah tinggal tunggu perintah Panglima TNI, kalau disuruh diberangkatkan saya siap berangkatkan. Ya operasinya sampai Oktober akhir, dan saya sudah siapkan dua batalion,” ujar Jenderal Mulyono di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (10/8).
Jenderal Mulyono menjelaskan bahwa TNI Angkatan Darat telah menyiagakan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), dan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) yang selalu siap setiap saat.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Dulu Prajurit RPKAD ( Kopassus) Titipkan Anak Pada Guru Sebelum Perang



Di Indonesia, beberapa guru diadili karena menghukum muridnya. Orang tua murid yang tak terima melaporkan guru yang menghukum anaknya. Padahal seringkali justru murid yang melanggar aturan sekolah.

Ada kisah menarik bagaimana dulu orang tua murid sangat mempercayai guru untuk mendidik anak mereka. Guru dianggap pengganti saat ayah tak ada.

Anta (70) seorang pensiunan prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD kini disebut Kopassus TNI AD), menceritakan dulu tentara sangat menghormati guru. 

Saat itu para prajurit baret merah nyaris tak pernah berada di rumah. Mereka harus terus pergi ke medan perang atau menjalani latihan. 

Dalam setiap operasi RPKAD selalu diterjunkan paling dulu. Anta merasakan operasi melawan DI/TII, PRRI/Permesta, Dwikora hingga penumpasan G30S PKI. 

"Pada guru kami titip anak-anak kami. Pak, mohon dibimbing, diajari sopan santun dan tata krama. Bapaknya harus pergi perang, jarang di rumah," kata Anta saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Jika guru memukul anak, orang tua nyaris tak pernah komplain. Mereka sadar itu bagian dari proses pendidikan. Apalagi anak tentara yang terkenal dengan sebutan 'anak kolong' dikenal nakal dan berani.

Prayitno, salah seorang anak RPKAD yang tinggal di Batujajar dan Cijantung juga membenarkan bagaimana dulu guru sangat dihormati. Dulu anak-anak tentara dititipkan pada guru karena bapaknya pergi bertempur.

Mengadu pada orang tua gara-gara dihukum guru, bukan dibela. Malah bisa-bisa pulang dipukul dengan kopelrim alias sabuk tentara. Pengalaman seperti itu lazim dirasakan para anak tentara. 

"Kalau salah dihukum ya diterima saja," kata Prayitno.

Sekarang zaman memang sudah berbeda.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Bripka Anra Nosa, Polisi Indonesia Yang Sukses Mengharumkan Bangsa Di PBB



Anra Nosa, anggota Bintara Kepolisian Daerah (Polda) Riau ini sukses mengharumkan nama Polri dikancah dunia. Meski baru berpangkat Brigadir Polisi Kepala (Bripka), pria berumur 33 tahun tersebut sudah diangkat menjadi team leader di United Nation Police (polisi PBB).

Selaku team leader di United Nation (UN) Police, Anra punya anggota tim yang pangkatnya justru jauh lebih tinggi ketimbang dirinya. Tercatat, Anra membawahi 35 orang anggota, dimana ada yang berpangkat Jenderal, belasan personil lainnya berpangkat Kolonel dan Letnan Kolonel di negara mereka masing-masing.

Sebelum menjadi tim leader UN Police, Anra sempat bertugas sebagai penyidik di Reserse Kriminal Polda Riau. Kemudian pria tegap ini ikut seleksi menjadi UN Police yang diumumkan Mabes Polri, dengan tempat penugasan di Darfur, Sudan Selatan. Ketika itu, ada ribuan anggota Polri (termasuk Anra) yang turut mendaftar.

Dengan proses seleksi ketat, terpilihlah 15 polisi terbaik (dari total ribuan) se-Indonesia, termasuk di dalamnya tercatat nama Anra. Selanjutnya, mereka pun dilatih dan akhirnya diberangkatkan ke Sudan Selatan sekitar 2014 lalu, untuk mewakili Indonesia menjadi Polisi perdamaian PBB.

"Awal bertugas langsung ada unjuk rasa besar dari pengungsi Sudan," kisah Anra. Ketika itu, salahseorang anggota UN Police berpangkat Kolonel dari Negara Jerman memerintahkan tim untuk memasukkan puluhan orang pengunjuk rasa ini ke Holding Facility (semacam penjara).

Namun Anra menolak kebijakan Kolonel tersebut, karena menurutnya para pengunjuk rasa harus ditangani secara layak dan baik. Anra pun berinisiatif membuka komunikasi dengan para pendemo. "Mereka itu ingin diwadahi ke WFP (Worl Food Suplemen, Organisasi PBB yang menangani soal makan pengungsi, red)," urainya.

Segera Anra menyelesaikan inti permasalahan (problem solved) tersebut dengan caranya, dan kaum pengunjuk rasa ternyata dapat menerima kebijakan ini dengan baik. Artinya, tidak perlu ada pihak yang disakiti. Rupa-rupanya, cara penyelesaian Anra yang humanis itulah yang membuat aksinya terdengar hingga ke atas.

Tak lama setelah unjuk rasa itu, Anra yang bergaji $2.550 USD dari UN Police tersebut langsung dipanggil oleh Senior Representatif Secretary General (SRSG) yang dipimpin seorang Jenderal wanita dari Angkatan Darat Negara Inggris. Anra dianggap punya kecakapan yang cukup untuk mengemban jabatan sebagai team leader UN Police.

Kini Anra membawahi 35 anggota dari berbagai negara di dunia. Bahkan diantara mereka ada yang berpangkat Jenderal (2 orang) dan belasan anggota berpangkat Kolonel serta Letnan Kolonel. Sementara ia sendiri hanyalah Bintara Polri yang berpangkat Bripka (setara Sersan Mayor di TNI).

"Awalnya cukup berat, karena saat itu saya pergi ke Sudan meninggalkan istri yang sedang hamil muda. Ini tantangan lain," kata Anra saat bertandang ke Humas Polda Riau, disela-sela masa cutinya dari tugas sebagai polisi dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau UN Police.[goriau.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Panglima TNI : "Tindak Tegas Prajurit TNI Yang Membuat Kesalahan"



Sejak memimpin TNI, saya tidak pernah menutup-nutupi kesalahan prajurit mulai dari pangkat Prada sampai Jenderal, apabila ada prajurit TNI yang membuat kesalahan harus ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat Upacara Kenaikan Pangkat 35 Perwira Tinggi TNI di Ruang Hening, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (8/7/2016).

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan hal tersebut menanggapi testimoni Fredy Budiman terkait dugaan oknum TNI yang disebut-sebut Perwira Tinggi Bintang Dua, dalam kasus membakingi jaringan Narkoba.

“Testimoni Fredy Budiman yang disampaikan Haris Aszar, bukan hanya sekedar pernyataan, tetapi sebagai intropeksi yang harus didalami bersama-sama,” kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Panglima TNI juga menyatakan bahwa TNI sudah membentuk tim investigasi tergabung dari Irjen TNI dan Pom TNI segera mengadakan pendalaman dari semua staf, dari anggota yang terlibat Narkoba, baik yang sekarang dalam proses hukum maupun yang sudah dalam penjara bahkan yang sudah keluar dari penjara, agar mendapat kepastian.

“Haris Aszar bukan terdakwa tetapi sebagai pelapor, ini diperlukan TNI membuat laporan ke Kepolisian, tujuannya adalah agar pihak Kepolisian RI sesuai kewenangannya mengadakan penyelidikan dan penyidikan,” ujar Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga berharap ada kejelasan, apabila telah ditemukan bukti-bukti awal dan dipadukan antara pihak Kepolisian dengan tim investigasi untuk mencari siapa pelakunya. “Begitu juga sebaliknya, apabila hasil penyelidikan Kepolisian dan tim investigasi dinyatakan tidak terbukti, maka masyarakat tidak dapat menganggap seluruh prajurit TNI terlibat Narkoba,” pungkasnya.[tniad.mil.id]

Baca Juga Artikel Lainnya

TNI Selalu DiSiapkan Untuk Bebaskan WNI dari Teroris Abu Sayyaf



Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan TNI selalu siap bila sewaktu-waktu diperlukan untuk melakukan pengerahan pasukan kedaerah operasi membebaskan WNI dari kelompok Abu Sayyaf, hal ini tidak mudah karena menyangkut wilayah kedaulatan negara sahabat. Demikian disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat memberikan sambutan pada upacara Laporan Korps Kenaikan Pangkat 35 Perwira Tinggi TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (8/8/2016).

“Kepada satuan-satuan operasi pasukan khusus untuk siap dengan segala kemungkinan apabila TNI diberi peluang untuk melakukan operasi pembebasan WNI yang disandera oleh kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina,” tegas Panglima TNI.

Hingga saat ini jumlah WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf berjumlah 11 orang dan belum dibebaskan. Pemerintah Indonesia masih tetap mengedepankan upaya diplomasi dalam melakukan upaya pembebasan terhadap 11 WNI yang disandera, namun hasilnya belum nampak signifikan. Sementara tuntutan dan harapan masyarakat kepada TNI sedemikian besar, yang kesemuanya harus mendapatkan respons tepat dan cepat.

“Bila TNI mendapat perintah untuk melaksanakan operasi pembebasan WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filiphina, maka TNI harus diberi payung hukum berupa SOP yaitu kerja sama operasi militer kedua negara yang telah disepakati bersama,” imbuhnya.

Diakhir amanatnya Panglima TNI menegaskan bahwa, yakinlah bahwa sekecil apapun pikiran, langkah dan tindakan kita, bila kita berhasil mewujudkan harapan pemerintah dan masyarakat, sudah pasti kepercayaan rakyat kepada TNI tidak akan pernah surut. “Kepercayaan itu harus kita jaga dengan baik sebagaimana kesetiaan kita dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara,” ungkap Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Pasukan Garuda selamatkan nyawa staf PBB di Kongo



Di sela-sela tugasnya menjaga keamanan, Pasukan Garuda juga mencatatkan sebuah prestasi bagi pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tim Kesehatan Indonesia Level-1 Hospital Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-M/Monusco berhasil menyelamatkan nyawa Nasional PBB asal Kongo.

Tim Evakuasi Medis Udara Indonesia berada di bawah koordinator Letnan Satu Dr Kirby Saputra menerima rujukan atas indikasi sakit berat yang diderita oleh salah seorang staf lokal Perserikatan Bangsa Bangsa di Kota Dungu, Republik Demokratik Kongo. Kondisi staf tersebut tidak dimungkinkan bertahan dalam perawatan di Kota Dungu, karena keterbatasan instrument dan bekal medis yang ada.

Atas keputusan bersama dengan Dr Lucio Victor selaku Koordinator Medis Lapangan PBB asal Amerika dan Letnan Kolonel Farhad Komandan Wing Satgas Angkatan Udara Bangladesh di Kota Dungu, memutuskan untuk menerbangkan Staf PBB tersebut di bawah pantauan ketat Tim Medis Indonesia Konga XX-M/Monuscoa.

Helikopter MI-27 Bangladesh yang dalam tempo singkat menjadi ambulans udara, terbang dengan didampingi oleh perawat udara asal Indonesia Sersan Satu Ahmad Faisal, berhasil membawa Staf PBB tersebut dengan selamat ke Rumah Sakit PBB Tingkat 2 di Kota Bunia. Kondisi Staf PBB asal Kongo tersebut, sampai saat ini terpantau baik.

Atas keberhasilan tersebut, tim yang bertugas melaksanakan evakuasi terhadap staf tersebut mendapatkan apresiasi dari Komandan Satgas Konga XX-M/Monusco Letnan Kolonel Sriyanto. Sebab, Tim Rumah Sakit Level 1 Indonesia di bawah PBB mampu memberikan kontribusi dalam melaksanakan tugas evakuasi medis udara dengan sempurna.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

105 Pasukan Brimob Dikirim Untuk Tumpas Sisa Sisa Kelompok Santoso



Sebanyak 105 Pasukan Brimob Detasemen A Brimob Polda Sulsel, di-BKO-kan ke Poso, Sulawesi Tengah.

105 pasukan elit Polri ini dikirim untuk membantu menjaga keamanan di Sulteng, termasuk menumpas sisa-sisa anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Abu Wardah alias Santoso.



Pelepasan 105 pasukan ini dilaksanakan di Halaman Mako Polda Sulsel, Sabtu (6/8/2016) pagi. 

Bertindak selaku pimpinan upacara pelepasan, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan. Turut hadir pada upacara pelepasan itu Wali Kota Makassar, Danny Pomanto.[rakyatku.com]   



Baca Juga Artikel Lainnya

Filipina Bangga Terhadap Kecanggihan Kapal Perang Buatan Indonesia



Wakil Kementerian Pertahanan Filipina yang ikut dalam rombongan pengiriman kapal perang dari Surabaya menuju Manila, Captain Francis Alexander R Jose, mengakui kecanggihan kapal perang buatan Indonesia.

“Bagus, dan saya merasakan sendiri dengan memaksimalkan kecepatan yang dimiliki SSV Tarlac, terbukti tetap stabil dan tidak ada goncangan,” ujar Jose.

Jose mengaku sangat bangga dengan kapal produk buatan Indonesia, dan berterima kasih telah bekerja sama dalam hal pemesanan kapal.

Dalam perjalanan menuju Filipina, SSV BRP Tarlac melakukan beberapa manuver canggih, misalnya memasukkan dua kapal pendukung atau Landing Craft Utility (LCU) ke dalam bagian belakang kapal. LCU menjadi salah satu fasilitas kapal jenis “Strategic Sealift Vessel” BRP TARLAC (LD-601) yang berfungsi untuk mendukung peperangan di wilayah pantai dan dapat mengangkut sejumlah peralatan perang.

Manuver lain yang dilakukan selama perjalanan SSV Tarlac adalah memaksimalkan kecepatan yang dimiliki hingga mencapai 16,2 knot. Selain itu, dilakukan pula uji coba memfungsikan alat pemadam kebakaran yang dimiliki kapal.

General Manager Kapal Niaga, Satriyo Bintoro, selaku pimpinan perjalanan ekspor perdana kapal perang dari Indonesia menuju Filipina mengakui semua manuver dilakukan secara maksimal selama perjalanan. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan fungsi dan kegunaan beberapa peralatan canggih yang dimiliki kapal kepada angkatan laut Filipina yang ikut serta dalam perjalanan. Setelah serah terima, tanggung jawab kapal akan langsung menjadi kewajiban Kementerian Pertahanan negara setempat.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Filipina Kirim 11.000 Pasukan, Ryamizard Nilai TNI Belum Perlu Turun



Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menjelaskan bahwa militer Filipina telah mengirimkan 11.000 tentara untuk membebaskan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

Oleh sebab itu, Ryamizard menilai bahwa Indonesia belum perlu mengirim pasukan TNI ke Filipina. “Kita mungkin akan mengimbangi saja. Kalau banyak-banyak pasukan kan enggak efektif,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (5/8).

Ryamizard mengatakan bahwa cepat atau lambat pemerintah dan tentara Filipina akan berhasil membebaskan para sandera. Menurutnya, pembebasan harus dilakukan secara hati-hati demi keselamatan para sandera.

“Kita menunggu ya. Ini kan sudah dikepung, sudah masif 11.000 pasukan, kita menunggu waktu yang tepat. Nanti langsung dipimpin Presiden Filipina,” kata Menteri Pertahanan.

Sepuluh WNI diculik oleh kelompok Abu Sayyaf dan disandera di wilayah Filipina. Kesepuluh WNI itu terdiri dari tujuh anak buah kapal (ABK) TB Charles 001 yang diculik sejak 20 Juni, serta tiga ABK kapal pukat tunda LD/114/5S milik Chia Tong Lim yang disandera sejak 9 Juli.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

TNI AL : Apapun bendera kapalnya, TNI AL tidak akan segan untuk bertindak tegas.



TNI Angkatan Laut menyatakan tak segan menindak kapal-kapal asing yang melanggar perairan Indonesia, termasuk kapal China bernomor lambung 19038 yang terlibat insiden dengan TNI AL di zona ekonomi eksklusif perairan Natuna, Kepulauan Riau, yang berlokasi di Laut China Selatan.

“Apapun bendera kapalnya, saat mereka melakukan pelanggaran di yurisdiksi Indonesia, TNI Angkatan Laut tidak akan segan untuk bertindak tegas,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Laut Edi Sucipto dalam keterangan tertulisnya.

TNI AL membenarkan melepas tembakan ke kapal China tersebut. Sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying secara terpisah  menyebut kapal perang Indonesia merusak salah satu kapal China dan menahan satu kapal mereka lainnya yang terdiri dari tujuh orang awak.

Edi mengatakan penangkapan terhadap kapal China itu terjadi Jumat pekan lalu, 17 Juni. Saat itu Kapal Perang (KRI) Imam Bonjol-383 yang sedang berpatroli di Natuna menerima laporan intai udara maritim yang berbunyi: ada 12 kapal ikan asing yang melakukan aksi pencurian ikan di Natuna.

KRI Imam Bonjol yang berada di bawah Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) pun bergerak mendekati kedua belas kapal tersebut. Namun saat didekati, kapal itu kabur.

“KRI Imam Bonjol pun mengejarnya dan memberikan peringatan melalui tembakan, namun diabaikan. Akhirnya setelah beberapa kali tembakan peringatan dan salah satunya mengarah ke haluan kapal, satu dari 12 kapal ikan asing  itu dapat dihentikan,” ujar Edi.

Satu kapal berbendera China yang berhasil ditangkap itu kemudian diperiksa. Indonesia menurunkan Tim Visit Board Search and Seizure (VBSS). Hasil pengecekan menunjukkan kapal tersebut diawaki enam pria dan satu wanita yang diduga berkewarganegaraan China.

Edi mengatakan TNI AL terus menggelar patroli untuk menjaga keamanan perairan Indonesia sebagaimana komitmen mereka menegakkan hukum di laut.

China melayangkan protes resmi atas insiden tersebut dan meminta Indonesia tidak mengambil tindakan yang dapat memperumit situasi. Negeri Tirai Bambu menganggap insiden terjadi di wilayah perairan yang memiliki klaim tumpang-tindih.

Sementara Indonesia keberatan dengan dimasukannya sebagian perairan Natuna dalam ‘sembilan garis putus-putus’ yang diklaim China. Nine-dashed line ialah garis demarkasi atau garis batas pemisah yang digunakan China untuk mengklaim sebagian besar wilayah Laut China Selatan yang menjadi sengketa sejumlah negara di Asia.

Insiden antara Indonesia dan China di Natuna bukan sekali ini terjadi. Sebelumnya, KRI Oswald Siahaan-354 juga menangkap kapal nelayan China yang mencuri ikan di perairan itu.

Padahal April lalu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan yang melawat ke China menyatakan Indonesia dan China sepakat mengakhiri ketegangan terkait masalah perikanan di Laut China Selatan.[infoindonesia]

Baca Juga Artikel Lainnya

Sultan Brunei Kagum Dengan Pasukan Denjaka TNI AL



Latihan Bersama Asean Defence Ministers Meeting-Plus Maritime Security dan Counter Terorrism Exercise 2016 (ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016) di Brunei Darusalam dan Singapura.

Delegasi Indonesia dalam hal ini KRI Sultan Iskandar Muda (SIM-367) yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Ashari Alamsyah selaku Dansatgas Latma ADMM-Plus on MS and CT Exercise 2016 menurunkan Tim Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) yang dipimpin Mayor Marinir Butar Butar selaku Dantim Denjaka sebagai satuan penanggulang teror aspek laut dalam final mission profile demonstrasi counter terrorism yang berlangsung di perairan perairan Brunei.

Dalam latihan tersebut, tim Denjaka bergabung dengan tim counter terrorism yang terdiri dari pasukan-pasukan khusus negara peserta ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016.  Pasukan elit TNI AL ini berhasil menguncang Brunai Darussalam dan Singapura.

Tim counter terrorism dibagi menjadi dua tim yaitu tim helly borne yang melaksanakan fast roping ke kapal target menggunakan hellycopter blackhawk milik Tentara Diraja Brunei dan Tim Sea Borne menggunakan RHIB (Rigid Hull Inflatable Boat) dalam penyerbuannya ke kapal target yaitu KD. Darussalam milik Tentara Laut Diraja Brunei yang disimulasikan sebagai kapal target yang dikuasai oleh teroris.

Demonstrasi counter terorism ini disimulasikan melaksanakan pembebasan terhadap kapal dan sandera yang dikuasi oleh teoris. Setelah mendapat informasi intelijen tentang adanya posisi Kapal dan kekuatan teroris yang berada di dalamnya, dengan segera Satuan Operasi Gabungan Counter Terorism (CTJTF) langsung mengerahkan pasukan penanggulang terorisme dari Muara Naval Base (MNB) menuju sasaran dengan menggunakan konsep operasi dengan cara Sea Borne dan Helly Borne. Operasi Sea Borne dengan menggunakan 4 unit RHIB dilanjutkan dengan tehnik Hook and Climb naik ke kapal, sedangkan operasi Helly Borne menggunakan 5 Helikopter dilanjutkan dengan tehnik Fast Roping ke Kapal sasaran.

Setelah pasukan on board ke Kapal sasaran baik dengan operasi Helly Borne maupun Sea Borne, dengan pergerakan cepat tim gabungan counter terorism langsung menuju ruangan-ruangan yang dikuasai para teroris dan berhasil melumpuhkan satu persatu teroris yang berada di atas kapal.

Tim gabungan counter terorism juga berhasil membebaskan sandera dan mengambil alih kapal yang sebelumnya dikuasai oleh teroris. Setelah kapal berhasil dikuasai, komandan tim gabungan counter terorism melaporkan ke komando atas dan mendapat perintah untuk mengawal kapal tersebut ke perairan yang aman.

Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah beserta Sekjen Kemhan RI Laksamana Madya Widodo, S.E.,M.Sc. dan perwakilan delegasi dari masing-masing negara peserta ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016 yang saat itu menyaksikan langsung jalannya latihan counter terroris merasa kagum dengan kemampuan penanggulangan teror yang ditunjukan oleh tim Denjaka TNI Angkatan Laut yang bergabung dengan tim Pasukan Khusus Angkatan Laut Rusia.

Kadispenarmatim
Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman

Baca Juga Artikel Lainnya

Jokowi Minta Calon TNI dan Polri Berantas Budaya 'Pungli'


Presiden Joko Widodo meminta Calon Perwira Remaja (Capaja) Akademi TNI/Polri 2016 berkarakter pemimpin demi reformasi di dua lembaga keamanan dan pertahanan itu. Dia berpesan, para perwira nantinya dapat bekerja dengan cepat sebagai bentuk kesiapan berkompetisi.

"Mental-mental pungutan liar (Pungli) itu karakter yang harus dihilangkan," kata Jokowi di Gedung Sabang Merauke, Akademi Angkatan Udara, Sleman, Senin (25/7).

Menurutnya, aparat saat ini harus dapat melayani masyarakat dengan cepat dan tepat. Seluruh instansi, termasuk TNI dan Polri diinstruksikan tidak mempersulit pelayanan masyarakat.

Amanat serupa sempat disampaikan Jokowi saat Hari Bhayangkara. Dia menganggap, penghapusan Pungli merupakan bentuk reformasi Polri yang bermuara pada perubahan sikap dan perilaku yang lebih profesional, lebih berintergritas, dan penuh tanggung jawab.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyampaikan, Indonesia sekarang bersaing dengan negara bermentalitas kerja cepat dan sistematis. Sehingga, regulasi termasuk pungutan liar yang menghambat pelayanan harus dihapuskan.

"Sehingga yang dulu ragu-ragu bersaing, sekarang berani berkompetisi. Itu yang kami inginkan dari anak-anak muda di TNI dan Polri," ucap dia.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, seluruh amanat yang disampaikan Jokowi kepada Capaja merupakan perintah presiden tak tertulis yang harus dilaksanakan dalam bertugas.

Pada kesmepatan yang sama, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian memastikan, jajarannya siap membimbing dan memberikan teladan kepada Capaja dalam meningkatkan soliditas TNI dan Polri sebagai bentuk pemantapan amanat presiden.[cnn]

Baca Juga Artikel Lainnya

Kopassus Dari Putera Papua Ini Bangga Kibarkan Bendera Merah Putih di Udara Malaysia



Mengibarkan bendera merah putih sebuah kebanggaan tersendiri apalagi  pengibaran dilakukan di luar negeri dan dilakukan di udara.
Bagi Serda Nelson Beteyob anggota Tim Penerjun Payung Kopassus TNI AD ini sebuah kebanggaan.

"Saya bisa terbangkan merah putih di Malaysia. Itu waktu lomba antarangkatan di Malaysia tepatnya di Kuala Terengganu. Itu sebuah kebanggan," ceritanya saat ditemu di acara Pembukaan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru UGM 2016 yang digelar di Lapangan Graha Sabha Pramana UGM Senin (1/8/2016).

Nelson adalah satu dari 30 penerjun yang tampil pada acara penyambutan mahasiswa baru tersebut, dia juga mendapat kehormatan sebagai pembawa bendera merah putih.
Putra asli Papua tersebut memang bukan orang baru dalam dunia terjun payung.
Ia sudah berlatih sejak tahun 1999 jam terbangnya sudah sangat tinggi.

Menurutnya kunci kesuksesan dari penerjun payung adalah latihan,  disiplin dan selalu berlatih di pusat latihan setiap tahun di angkatan darat.
Latihan tersebut rutin dilakukan sebagai persiapan latihan penerjunan di dalam dan luar negeri.

Mengenai penerjunan dengan bekerjasama kesatuan lainnya bahkan sipil seperti hari ini diakuinya memang terdapat sedikit kesulitan apalagi tim dari Kopasus memiliki standar tersendiri.

Namun secara umum semua kesulitan bisa diatasi apalagi sebelumnya sudah melakukan gladir bersih.

Menurutnya olahraga terjun payung adalah hal yang menyenangkan, perasaan setelah melompat dari pesawat susah untuk dijelaskan apalagi memiliki kesempatan terbang seperti burung.

"Buat para mahasiswa yang ingin mencoba olahraga terjun payung, pasti bisa asalkan ada kemauan dan rajin berlatih itu kuncinya," tambahnya.[tribun]

Baca Juga Artikel Lainnya