Kapal Perang TNI AL Manuver Lawan Kapal Selam Musuh



Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) TNI Angkatan Laut yaitu KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) memimpin latihan peperangan Anti Kapal Selam (AKS) pada latihan Manuver Lapangan (Manlap) Latpratugas Armada Jaya (AJ) XXXIV/2016. Latihan tersebut berlangsung di perairan Laut Jawa, Jumat (29/7).

Adapun unsur-unsur KRI yang mengikuti latihan peperangan AKS diantaranya adalah KRI Usman Harun-359, KRI Layang-635, KRI Ajak-653, dan KRI Pulau Rupat-712.

Dalam pelaksanaan latihan peperangan AKS ini KRI SIM-367 dengan Komandan KRI Letkol Laut (P) Ashari Alamsyah, memimpin pelaksanaan identifikasi Visual kapal selam musuh, yang disimulasikan oleh KRI Ajak, dengan melepas Mini Mobile Torpedo Target (MMTT) pada kedalaman 3 sampai 7 meter dibawah permukaan laut.

Latihan peperangan AKS ini bertujuan untuk melatih ketrampilan prajurit KRI dalam mengidentifikasi kapal selam musuh, selain itu juga untuk melatih ketrampilan operator sonar yang dimiliki setiap KRI dalam mendeteksi keberadaan kapal selam baik dalam pendeteksian sonar pasif maupun sonar aktif.

Ikut menyaksikan dalam peperangan AKS tersebut diantaranya, Komandan Satuan Kapal Eskorta (Dansatkor) Koarmatim Kolonel Laut (P) Ariantyo Condrowibowo selaku Papelat Pra AJ XXXIV/2016, Komandan KRI Frans Kaisiepo-368 Letkol Laut (P) Seno Ario Wibowo, S.T.,  dan tim penilai dari Kolatarmatim yang diketuai oleh Letkol Laut (P) Daru Cahyo Sumirat selaku Komandan Glagaspur Kolatarmatim.

Dansatkor Koarmatim Kolonel Laut (P) Ariantyo Condrowibowo selaku Pepelat Pra AJ XXXIV/2016 mengatakan, latihan peperangan AKS merupakan rangkaian latihan sebelum pelaksanaan yang digelar pada medio akhir Agustus. Selain it,  kegiatan ini bertujuan untuk mengecek peralatan-peralatan, sistem senjata dan sonar yang dimiliki KRI apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak, serta melatih operator maupun personil  KRI dalam mendeteksi kapal selam.

“Saya merasa puas dan bangga kepada prajurit-prajurit KRI SIM- 367 serta peralatan dan sistem senjata yang bagus yang dimiliki KRI telah mampu mengoperasikan peralatan sensor bawah air (sonar) dan dapat mendeteksi keberadaan kapal selam,” kata Dansatkor Koarmatim melalui siaran pers Dispen Koarmatim. [jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Sudah Latihan 8 Jam Sehari, Tentara AS Tak Berkutik Lawan TNI


Sebuah prestasi gemilang kembali dibukukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mereka berhasil menyabet sebagian besar emas dalam lomba menembak internasional di ajang Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2016. Tak hanya itu, TNI juga berpeluang mempertahankan gelar juara umum untuk kedelapan kalinya.

Yang paling membanggakan, prestasi yang mereka bukukan berhasil melampaui peserta dari negara-negara maju. Bahkan dua perwakilan dari AS, hanya satu yang berhasil menyumbangkan medali, yakni USMC dengan satu medali perunggu. Angkatan Darat AS belum sekalipun menyumbangkan medali.

Dalam ajang tersebut, Angkatan Darat AS menerjunkan Team Bayonet. Tim tersebut berusaha melakukan yang terbaik namun belum sekalipun berhasil menyabet emas.

Mereka adalah Staf Sersan John Flynn dan Spc James Griswold, keduanya berasal dari Batalion Pertama, Resimen Infantri Ke-17, Brigade Tim Tempur Kedua, Divisi Infantri Kedua, yang merupakan bagian dari Team Bayonet. Tim ini terdiri atas 18 anggota, yang ikut berkompetisi melawan 16 negara di ajang Australian Army Skills at Arms Meeting.

Ajang ini pertama kali diikuti oleh Divisi Infantri ketujuh AS, serta satu-satunya yang mewakili AS di ajang internasional. Sejauh ini, mereka sudah melalui 84 pertandingan, termasuk tiga kategori utama, yakni Kompetisi Sniper Terbuka, Kompetisi Menembak Untuk AD, AL dan AU, serta Kompetisi Internasional.

"Kami sudah menyelesaikan sebagian di antaranya. Kami bukan penembak runduk terbaik, tapi kami bukan yang terburuk" ujar Griswold, demikian dilansir situs resmi Angkatan Darat AS army.mil, Rabu (18/5).

Tim Bayonet menghabiskan waktu hingga delapan jam sehari, selama dua minggu, untuk mengasah kemampuan senapan dan pistol, mempersiapkan senjata selama kompetisi serta mempelajari paduan kompetisi AASAM.

"Tidak ada satupun dari kami yang pernah bertanding di AASAM sebelumnya, jadi agak membingungkan. Kami menggunakan dua minggu untuk mengetahui apa yang dilakukan selama pertandingan dan berlatih yang kami bisa, mengetahuinya butuh waktu dua hari untuk berlatih sebelum kompetisi dimulai," lanjut Flynn.

Tahun ini, kompetisi melibatkan sejumlah negara dari Eropa, Australia, Asia dan Amerika Utara. Para kontestan berlomba dengan menggunakan pistol, senapan, senapan penembak runduk dan senapan mesin standar militer.

AASAM menggunakan skenario realistis dengan menggunakan target yang digerakkan mobil remot kontrol yang dipasangi target berbentuk kertas atau balon. Mobil remot tersebut bisa bergerak dengan kecepatan sampa 35 mph, pelan, ngebut, berbelok mendadak dan berhenti saat terkena tembak.

"Secara keseluruhan kompetisi ini sangat baik. Banyak pertandingan yang menguji kemampuan kami untuk menembak dalam posisi berbeda dan membidik lebih dari satu target," kata Flynn.

Sayangnya, kompetisi ini mewajibkan seluruh perserta untuk tidak melakukan kesalahan apapun yang berakibat kehilangan poin. Meski belum menunjukkan kualitasnya, Flynn berharap untuk kembali lagi dalam kompetisi yang sama di tahun berikutnya.

"Mungkin satu orang dari Tim Bayonet bisa membantu latihan tahun depan."[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

TNI Tertembak Brimob, Panglima Minta Prajurit TNI Tidak Dendam



Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, meminta seluruh prajurit tidak dendam atas meninggalnya Serda Muhammad Ilham yang tertembak Sat Bravo Brimob dalam menjalankan Satgas Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah. Sebab, Sat Bravo Brimob tak mempunyai niat untuk membunuh Serda M Ilman satuan Sandhi Yudha Kopassus.

"Saya perintahkan seluruh prajurit tidak ada yang menyampaikan pernyataan pers tentang ini. Saya ulangi. Tugas Satgas Tinombala, teman tim bravo tidak ada niat membunuh, tapi tertembak. Mereka sama-sama kerja untuk keberhasilan. Saya prajurit, mengalami hal seperti ini tidak ada kata-kata dendam," kata Jenderal Gatot Nurmantyo saat jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (28/7).

Meski demikian, pihak TNI dan Polri telah mengirimkan tim investigasi terkait meninggalnya Serda Ilham. Dia meminta semua menunggu hasil investigasi tersebut.

"Ini saya sampaikan sehingga tidak ada simpang siur lagi kejadian seperti itu kita tunggu hasil investigasi. Biarkan tim tinombala menjadikan momen tertangkapnya Santoso untuk melanjutkan tugas pemberantasan," kata dia.

Dia menyakini Sat Bravo Brimob merasa bersalah lantaran Serda Ilman tertembak yang juga menjalankan Satgas Tinombala. "Karena kejadian seperti ini pun merupakan hukuman luar biasa bagi tim Bravo. Menembak teman sendiri itu merupakan hukuman luar biasa, seumur hidup," kata dia.

Atas insiden tersebut, dia meminta prajurit terus melanjutkan operasi Satgas Tinombala untuk memburu sisa kelompok Santoso 18 orang. Dia juga mengimbau sisa kelompok Santoso untuk menyerahkan diri.

"Kalau diproses hukum, pasti. Dan ada peluang untuk minta grasi. Tapi kalau di hutan akan kita kejar sampai manapun juga. Percayalah, bahwa tidak ada tempat yang aman bagi teroris di Indonesia selama TNI dan Polri bersama-sama," ujar dia.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

TNI "Deklarasikan Perang" Terhadap Geng Motor, Tembak atau Lumpuhkan



Paska tewasnya seorang anggota TNI AD akibat ditusuk kawanan geng motor, di Jalan Rajawali, Bandung, beberapa waktu lalu, membuat TNI mendeklarasikan ‘perang’ terhadap kelompok geng motor yang dinilai brutal.

Bahkan, Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Hadi Prasojo memerintahkan anak buahnya untuk memburu anggota geng motor yang telah menusuk Pratu Galang. Dia juga memerintahkan, tembak di tempat jika anggotanya mendapati anggota geng motor yang brutal.

“Dalam artian kita tembak atau lumpuhkan. Tapi bukan kepala, melainkan kaki atau badan ya,” tegasnya di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (23/6/2016).

Perintah serupa juga dikeluarkan Dandim 0607 Sukabumi Letkol (Arm) Syaifu, dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk tembak di tempat kepada anggota geng motor.

Dia menambahkan, sikap tegas TNI bukan untuk menakut-nakuti atau meneror masyarakat, tetapi lebih kepada pembinaan khususnya untuk anggota geng motor agar tidak melakukan aksi brutal.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Ini Pasukan Katak Malaysia Yang Akan Menyaingi Kopaska TNI AL


Siapa yang tak kenal dengan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL. Tak mudah untuk menjadi bagian dari pasukan ini, selain harus memiliki fisik yang kuat, para calon anggota harus menjalani pelatihan yang sangat berat.

Rupanya tak hanya Indonesia, Malaysia juga memiliki Pasukan Katak, yang merupakan pasukan elite Angkatan Laut Tentara Diraja Malaysia. Penampakannya juga tak kalah sangar dengan Kopaska TNI AL, namanya Pasukan Khas Angkatan Laut alias Paskal, juga dijuluki Pasukan Katak alias Frogman.



Salah satu peran Paskal untuk operasi penyerangan independen melalui laut, darat dan udara di perairan yang terkontrol musuh. Prajurit Paskal dilatih untuk operasi maritim seperti anti-pembajakan dan antikapal/pembajakan anjungan minyak.

Lebih dari tiga puluh anjungan minyak lepas pantai di perairan Malaysia diamankan sepenuhnya oleh Paskal. Bahkan mereka kerap menggelar latihan rutin di anjungan minyak tersebut.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Komandan Pasukan Elite Australia: Kopassus Masih Yang Terhebat di Dunia


Kemampuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sebagai salah satu satuan elite di TNI Angkatan Darat masih mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Pengakuan itu keluar dari mulut Komandan Operasi Khusus Australia (Socaust) Mayor Jenderal Jeff Sengelman usai menghadiri Latihan Bersama Dawn Komodo antara Kopassus dan Special Air Service Regiment (SASR) Australia.

Di sela-sela latihan tersebut, Jeff menyempatkan diri untuk berjumpa secara langsung dengan Komandan Jenderal Kopassus, Mayjen TNI M Herindra di Pusdiklat Passus, Batujajar. Kekaguman Jeff terpancar saat melihat demonstrasi keterampilan yang ditunjukkan oleh prajurit Sat-81 Kopassus.

"Dari demonstrasi yang dilihat tadi yang dipertunjukan oleh prajurit Kopassus, saya yakin motto, skill, dan keterampilan prajurit Kopassus masih yang terhebat di dunia," kata Mayjen Jeff Sengelman, demikian siaran pers yang diterima merdeka.com dari Penerangan Kopassus, Kamis (28/7).

Jeff mengatakan kunjungan tersebut merupakan kehormatan baginya, karena hubungan Kopassus dan SOCOMD sudah berjalan hampir selama 25 tahun. Hubungan antara Kopassus dengan SOCOMD didasarkan atas kepercayaan, persahabatan dan pemahaman.



Danjen Kopassus Mayjen Herindra menjelaskan latihan bersama merupakan kesempatan untuk saling tukar pengalaman antara Kopassus dengan Special Operations Command (SOCOMD) Australia. Apalagi, Australia memiliki pengalaman langsung saat diterjunkan ke Afghanistan dan negara-negara lain, utamanya dalam penanggulangan terorisme.

"Kita tahu bahwa The Special Operations Command Australia punya pengalaman yang sangat baik terutama bagaimana mereka melakukan operasi penanggulangan terorisme di Afghanistan," papar Herindra.

Latma Dawn Komodo ini diselenggarakan di Jakarta dan Bandung selama dua minggu sejak 18 Juli lalu dan berakhir hari ini. Latihan ini melibatkan 50 personel dari pasukan khusus kedua Angkatan Darat.

Sebelumnya, Kopassus juga pernah mengirimkan 30 prajurit pada Maret 2016 lalu yang dipimpin Komandan Batalyon 812 Sat-81 Kopassus Mayor Inf Viliala Romadhon, untuk melaksanakan Latihan Bersama dengan Special Air Service Regiment (SASR) dalam kegiatan yang sama dengan sandi Latma Dawn Kookabura di Perth, Australia.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

AS Mengalihkan Dana Pertahanannya Untuk Meningkatkan Pertahanan Rudal Israel



Badan Pertahanan Rudal AS (MDA – Missile Defense Agency) telah menghabiskan porsi peningkatan anggaran yang terbatas untuk mendanai sistem pertahanan rudal Israel dengan mengorbankan US keamanan dalam negeri, Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mengatakan dalam sebuah melaporkan pada hari Jumat.

“Membantu pertahanan rudal Israel menempati persentase pada peningkatan anggaran MDA ini,” kata laporan itu.

Penulis utama laporan itu, Thomas Karako, menjelaskan bahwa “Program AS cenderung untuk memotong berbagai tagihan untuk memperbesar porsi terhadap program Israel.”

Hasil dari meningkatnya bantuan ke Israel “menempatkan pertahanan rudal AS dan pertahanan rudal Israel berkompetisi,” dengan dana yang sama-sama terbatas, dalam laporan itu.

Amerika Serikat telah membantu Israel dalam mengembangkan dan pengadaan sejumlah sistem pertahanan rudal termasuk Iron Dome, David Sling, dan David Arrow.

Antara 1998 dan 2011, bantuan ke Israel menghabiskan 1 – 3 persen dari total anggaran MDA. Pada 2014, Badan Pertahanan Rudal menghabiskan 5,5 persen dari anggarannya, atau US $ 729 juta, pada sistem pertahanan Israel.

Laporan CSIS menyarankan Amerika Serikat bisa “negosiasi ulang persyaratan” bantuan militer AS untuk Israel saat berakhir pada tahun 2018.

Negosiasi ulang akan melibatkan penganggaran strategis untuk menggeser beban keuangan dari MDA, sebagaimana lembaga ini menghadapi peningkatan kebutuhan ditengah anggaran yang menyusut.

Lembaga MDA muncul pada tahun 2004 setelah penarikan sepihak AS dari Perjanjian Anti-Rudal Balistik dengan Rusia tahun 1972 .[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Bagaimana Kalau Para Jenderal Jadi Prajurit Garis Depan ?



Pemandangan tak biasa terlihat di Bumi Sarang Petarung Marinir, Karang Pilang, Surabaya, Jawa Timur,m27/1/2016. Panglima TNI didampingi tiga kepala staf TNI ikut lomba ketangkasan militer di alam terbuka. Mereka tergabung dalam beberapa kelompok komandan satuan dari tiga angkatan, untuk mengikuti lomba ketangkasan militer.

Sedikitnya sembilan ketangkasan dilombakan dalam rangkaian Apel Komandan Satuan (AKS) TNI 2016, yakni : membalikkan sekoci karet, dilanjutkan dengan dayung, renang, naik turun jaring, titian tali satu dan tali dua, serta merayap di tali.

Perlombaan dilanjutkan dengan lomba menembak, melempar kapak, lempar pisau, serta mendirikan tenda terjun parasut.

AKS yang dibuka mulai Selasa (26/1/2016) di Koarmatim, diikuti 615 personel perwira tiga matra. Peserta bermalam di enam KRI dan barak. Selain Panglima TNI dan tiga kepala staf TNI, puluhan perwira tinggi komando utama sampai ratusan perwira menengah TNI se-Indonesia wajib ikut.

Mulai komandan batalyon hingga pangdam, komandan KRI sampai panglima armada, dan komandan skuadron bersama panglima komando operasi.



Setiap kelompok terdiri 15-16 personel yang anggotanya dari beberapa perwira tinggi dan menengah. Penggabungan tiga matra TNI menjadi pembinaan satuan yang solid, militansi, dan menumbuhkan naluri tempur.

Seperti tidak merasa berumur 55 tahun, sebagian perwira tinggi pantang mengalah dengan juniornya. Aksi berbahaya Jenderal Gatot ketika naik-turun jaring maupun merayap serta berjalan pada titian tali satu dan tali dua di atas kolam, dilakoni dengan berapi-api.

“Tangan KSAU dan KSAL sampai terluka. Bagi kami, rasanya sudah biasa,” lanjut mantan KSAD alumnus Akmil 1982 ini.

Semua materi latihan ketangkasan militer yang dilombakan untuk mengingatkan dan menyegarkan kembali dasar-dasar keprajuritan ketiga Angkatan.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa, TNI yang kuat, hebat dan professional memerlukan pemimpin-pemimpin yang handal. Pemimpin yang handal adalah pemimpin yang mampu memberikan contoh tauladan, yang mau bersama-sama dengan prajurit.

“Saya kumpulkan di sini. kita mengadakan Apel Komandan Satuan dan mendengarkan pembekalan dari mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, Jenderal TNI (Purn) Joko Santoso, dan Laksamana TNI (Purn) Agus Suhartono. Mereka pendahulu-pendahulu kami, sehingga mereka melihat dari luar apa yang mereka harapkan terhadap TNI ke depan,” ujar Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

“Permainan ini adalah permainan militer dasar. Ada naik perahu karet, kemudian membalikan perahu, karena ada serangan udara sembunyi di balik perahu, setelah aman perahu kembali dibalikkan lagi. Melaksanakan ekspedisi, permainan tali, tali satu, tali dua, tali tiga, naik turun jaring, menembak senapan dan pistol, lempar pisau, lempar kampak,” ujar Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Apel Komandan Satuan TNI tahun 2016, digelar selama dua hari (26 – 27 Januari 2016), di dua tempat, Komplek Koarmatim Dermaga Ujung Surabaya dan Kesatrian Sarang Petarung Marinir, Karang Pilang.

Sebelum lomba ketangkasan ala outbound, komandan satuan mendapat wejangan dari sesepuh TNI. Di antaranya, mantan Wapres Jenderal (pur) Try Sutrisno dan sejumlah mantan panglima TNI. Misalnya, Marsekal (pur) Djoko Suyanto, Jenderal (pur) Djoko Santoso, dan Laksamana (pur) Agus Suhartono.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Ketua Pansus : Polisi Lebih 'Ganas' Dibanding TNI Dalam Menumpas Teroris


Ketua Pansus RUU Terorisme, Muhammad Syafii menilai tidak ada salahnya jika TNI dilibatkan dalam pemberantasan terorisme di Indonesia. 

Bahkan menurutnya TNI mempunyai standar operasional prosedur (SOP) yang lebih tegas dan jelas dalam melumpuhkan target sasarannya. Setiap personel TNI diwajibkan mengikuti SOP itu dengan baik.

Politikus Partai Gerindra itu menerangkan, TNI Ketika targetnya sudah terpojok, tidak asal tembak. Tapi terlebih dahulu memberi peringatan bahwa target tersebut sudah terkepung.

"Dia (TNI) kalau targetnya sudah terkepung harus berteriak, anda sudah terkepung supaya menyerah, kalau tidak menyerah akan ambil tindakan. Itu minimal diulang tiga kali," kata pria yang akrab disapa Romo Syafii tersebut di Gedung DPR RI Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (28/7).

Jika peringatan tersebut tidak diikuti, lanjut anggota Komisi III DPR tersebut, maka akan melesakan tembakan peringatan. Jika tembakan peringatan tersebut tidak diindahkan juga, baru akan ditembak, itu pun mendatar.

"Jelas SOP-nya, malah gak macam polisi asal tembak saja. Anggota apapun ditembak, anggota intel TNI ditembak. Itu bukan tertembak lho, ditembak. Makanya saya sekarang lebih takut dengan keganasan polisi," ujarnya.[republika.co.id]

Baca Juga Artikel Lainnya

Inilah Unit Paling Terlatih Malaysia ” VAT 69″, Di Indonesia Sama Dengan BRIMOB


Pernah dengar unit VAT 69 ?. Ya, unit ini adalah unit militer khusus negara tetangga Malaysia yang sangat dirahasiakan. Bahkan ia adalah unit khusus paling tua dari seluruh unit commando khusus Malaysia (bakan dari unit militer sekalipun) yang sudah ada seperti sekarang ini. Bila diumpakan unit ini adalah PELOPOR-nya BRIMOB INDONESIA. 

Atau tepatnya lagi unit ini hampir sama dengan unit PELOPOR KHUSUS PELOPOR (informasi ini tidak memiliki maksud tertentu dalam upaya mengancam kerahasian negara, bertujuan hanya sebagai sarana pengenalan terhadap POLRI) yang memang tidak banyak masyarakat tahu unit ini eksis di dalam kepolisian Republik Indonesia.

VAT 69 Adalah salah satu unit yang berani dan pernah berlaga di pedalaman kalimantan (kabarnya) melawan Salah satu unit pasukan khusus Indonesia yang kala itu sangat ditakuti karena keterampilannya dalam peperangan hutan dan rawa. Di mana ketika itu gurkha dan pasukan orang-orang India bentukan Inggris pun malah babak belur dan kewalahan.

Dalam upaya Menghadapi permasalahan ini, Inggris tak berpangku tangan. Inggris melalui kordinasi dengan pihak kerajaan Malaysia kemudian membentuk pasukan ini dengan seleksi yang sangat ketat menyangkut kemampuan tempir gerilya.

Diketahui Pasukan ini secaa bersama-sama degan unit SAS, mampu memberikan perlawanan yang berarti dalam upayanya menahan laju pergerakan PEMBERONTAK KOMUNIS yang disisipi unit-unit khusus Indonesian kala itu (informasi ini dihimpun dari berbagai sumber, penulis tidak bertanggung jawab atas kebenaran beritanya).

Perkenalkan Juga

Pasukan Gerak Khas (PGK) adalah pasukan elit kontra-terorisme dan operasi khusus satuan taktis dari Polisi kerjaan malaysia (RMP). PGK memiliki dua subdivisi yang berbeda Yaitu, PPN 69 (sebelumnya VAT-69 atau komando 69) dan UTK atau dikenal sebagai Unit Tindakan khusus. PGK ini mempunyai kemampuan menangani berbagai operasi khusus dari operasi kontra-terorisme sampai operasi penyelamatan sandera.

Ukuran sebenarnya dan organisasi ini dirahasiakan dari publik, mempunyai tugas menegakkan hukum Malaysia melalui operasi laut, udara dan darat.

PGK adalah komponen penting dari RMP (Royal Malaysian Police). Dikenal dengan Maroon baretnya, Sebuah simbol Pasukan Gerak Khas Detasemen A atau Unit Tindakan Khusus (UTK) dan badge Trimedia Parachute wing, Hal ini juga mengidentifikasi kemampuan mereka dalam operasi penerjunan udara dan serangan udara yang dianugerahkan sendiri oleh instruktur mereka, perwira SAS.

Adapun peran PGK diyakini meliputi:

1. Pengumpulan intelijen dalam misi pengintaian yang mendalam dan operasi warfare.

2.Specialisasi untuk mendukung RMP Cabang Khusus dalam memerangi organisasi subversif atau operasi terselubung.

3.Counter Terorisme, yaitu penindakan terhadap kegiatan terorisme di dalam wilayah Malaysia yang dalam hubungannya berkaitan dengan operasi penegakan hukum.

4. Unit reaksi cepat dalam menangani kejahatan bersenjata dalam wilayah operasi.

5. Unit Counter terorisme Malaysia di luar wilayah Malaysia; termasuk Operasi Astute di Timor Leste.

6. Pencarian dan operasi penyelamatan di dalam atau di luar wilayah Malaysia, seperti operasi bantuan pasca tsunami 2006 di Aceh, Indonesia.

Ketika dahulu dikenal sebagai unit Task Force, Charlie Force dan Tim tugas Khusus, VAT 69 merupakan pasukan yang mengambil Special Air Service Regiment(SAS) Inggris sebagai model komandonya. Dibentuk pada tahun 1969 (itu pulalah yang menjadi penyebab pasukan ini di sebut dengan very able tropper 1969), sebagai unit tempur kecil untuk melawan taktik dan teknik gerilya komunis yang pada saat itu kabarnya dilatih oleh unit Khusus indonesia yang sangat di segani kemampuannya Bahkan oleh SAS sendiri.

Semuanya dimulai ketika Menteri Dalam Negeri dan Keamanan Internal, Datuk Allahyarham (alm,) Tun Dr. Ismail mengusulkan pembentukan pasukan khusus untuk memerangi pemberontakan komunis pada tahun 1969. Pada bulan Oktober 1969, 60 orang dari 1.600 perwira dan prajurit dari Jungle Squad diseleksi dengan mengikuti pelatihan dan kualifikasi untuk pelatihan komando dasar.

Sekelompok instruktur dari British Special Air Service Regiment dikirim ke Fort Kemar, Perak untuk mengawasi cikal bakal Commando 69. Hanya 30 orang berhasil lulus dan mereka membentuk pasukan inti 69 Commando Battalion. Pada 1970-an, PPN 69 mulai beroperasi dan berhasil dikerahkan menghadapi ancaman komunis. Hasilnya pergerakan komunis dapat dinetralisasi dan sejumlah besar senjata dan peralatan disita. Hal ini juga didukung dengan adanya upaya perbaikan hubungan ke-2 negara pasca konfrontasi. Pada tahun 1977, tiga skuadron baru dibesarkan dan dilatih oleh Selandia Baru SAS dan kursus khusus juga dilakukan untuk melatih instruktur mereka sendiri. Program ekspansi ini selesai pada tahun 1980 dan PPN 69 memiliki unit yang lengkap dengan departemen logistik sendiri.

Polisi Kerajaan Malaysia kemudian mengorganisir PPN 69/VAT 69 dan UTK digabung menjadi satu unit sebagai Pasukan Gerak Khas (PGK) (satuan operasi khusus), yang diprakarsai oleh Perdana Menteri Dato ‘Seri Dr Mahathir Muhammad dan Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Rahim Noor. Meskipun digabung menjadi satu direktorat, mereka pada dasarnya masih dua entitas yang terpisah yang beroperasi di dua lingkungan operasional yang berbeda.

Struktur badan Sebelumnya terpisah, baik PPN 69 dan UTK digabung ke PGK pada tanggal 20 Oktober 1997, ketika diluncurkan oleh Inspektur Jenderal polisi, Tan Sri Rahim Noor. Namun, PPN 69 dan UTK masih tetap masih merupakan operation unit yang terpisah. UTK kini secara resmi dikenal sebagai Pasukan Gerak Khas Detasemen A dan PPN 69 telah diwakili untuk Pasukan Gerak Khas Detasemen B.



Berdasarkan markas besar Royal Malaysia police di Bukit Aman, Kuala Lumpur, menyatakan bahwa PGK berstatus di bawah komando langsung dari RMP Internal dan Keamanan Publik (Melayu: Keselamatan Dalam Negeri dan Ketenteraman Awam) Direktur. Komandan Unit berpangkat Senior Asisten Komisaris (SAC) dan Deputi Direktur Internal dan Keamanan Umum Cabang.

Dengan ancaman terorisme sejak serangan 11 September, unit ini telah semakin menyesuaikan diri untuk melakukan tugas kontra-terorisme. Dengan tujuan menciptakan tim yang mampu menangani berbagai operasi (terutama operasi kontra-terorisme), tim patroli kecil PGK terdiri dari enam sampai sepuluh operasi yang dipimpin oleh petugas perwira seperti dari Inspektur Polisi dengan keahlian yang berbeda seperti unit serangan, penembak jitu, ahli EOD, ahli komunikasi dan petugas medis lapangan. 

PGK juga memiliki hubungan yang erat dengan pasukan khusus Angkatan Bersenjata Malaysia, termasuk 10th Paratrooper Brigade, Grup Gerak Khas, Paskal dan PASKAU, sehingga memungkinkan mereka untuk lebih efektif menegakkan keamanan dalam perbatasan Malaysia.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Mau Jadi Penerbang TNI? Segera Daftar di Penerimaan Gratis Ini


Punya impian atau cita-cita jadi penerbang di lingkungan Tentara Nasional Indonesia? Segera tengok persyaratan berikut ini, siapa tahu kamu memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Soal biaya tidak usah khawatir karena mulai dari pendaftaran hingga pendidikan selesai, semua ditanggung oleh negara alias gratis bagi kamu. Bahkan setelah lulus menjadi perwira, gaji tiap bulan akan mengisi kehidupan kamu selanjutnya.

Pendaftaran kali ini datang melalui jalur penerimaan “Prajurit Sukarela Dinas Pendek (PSDP) Penerbang TNI”. Artinya kamu akan langsung diseleksi untuk menjadi calon penerbang di lingkungan TNI. Masalah penempatan nantinya akan ditentukan oleh TNI, bisa di AD, AL, maupun AU.



Persyaratan umum: WNI, Pria, bukan TNI/Polri/PNS. Beragama dan setia kepada NKRI. Usia Maksimal 22 tahun dan minimal 17 tahun 9 bulan pada Februari 2017.

Tinggi badan minimal 165 cm, panjang kaki minimal 100 cm. Lulus tes kesehatan dan kesamaptaan TNI. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama menjalani pendidikan serta dua tahun setelahnya.

Bersedia melaksanakan Ikatan Dinas Pendek (IDP) selama 10 tahun pertama. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.

Tidak memiliki catatan kriminalitas. Bagi yang sudah bekerja bersedia diberhentikan dari pekerjaannya bila yang bersangkutan diterima menjadi Perwira PSDP Penerbang TNI.

Persyaratan Ijazah adalah lulusan SMA/Madrasah Aliyah Jurusan IPA dengan nilai minimum sebagai berikut:

Lulusan 2016: Nilai rata-rata UN 60,00 dan tidak ada nilai di bawah 55,00.

Lulusan 2015: Nilai rata-rata UN 65,00  dan tidak ada nilai di bawah 60,00.

Lulusan 2014: Nilai akhir rata-rata minimal 6,5 dan tidak ada nilai di bawah 5,5.

Lulusan 2013: Nilai akhir rata-rata minimal 7 dan tidak ada nilai di bawah 5,5.

Lulusan 2012 dan 2011: Nilai akhir rata-rata minimal 7,5 dan tidak ada nilai di bawah 6.

Pendaftaran dibuka mulai 20 Juli – 23 Agustus 2016. Pendidikan akan dimulai pada Februari 2017. Mau tahu lebih detail persyaratannya dan sekalian mau daftar? Silakan kunjungi laman: rekrutmen-tni.mil.id lalu klik logo TNI dan pilih penerimaan Perwira PSDP Penerbang. Selamat berjuang![angkasa.co.id]

Baca Juga Artikel Lainnya

Dibentak Kopaska, Tentara Laut Malaysia Kabur Dari Ambalat



Menjadi rakyat sipil yang tak paham betul dunia militer, lumayan terkejut bila banyak orang bercerita soal kehebatan Kopaska, Komando Pasukan Katak milik TNI. Begitu masyurnya pasukan ini hingga tentara Amerika pun berguru pada Indonesia.

Kopaska adalah pasukan elite spesialis misi bawah air. Pasukan khusus dengan kemampuan berderet. Mulai dari demolisi bawah air, sabotase, pembebasan sandera, pengawalan VIP, gerilya dan antigerilya, terjun bebas, penyapu ranjau hingga intelijen.

Tepat jika disebut Kopaska adalah Navy Sealnya Indonesia. Karena kecocokan itu, Navy Seal dan Kopaska rutin menggelar latihan bersama. Sudah 32 tahun dan 64 kali dua pasukan elite ini berlatih bersama dalam latihan berjudul Flash Iron.

Dalam sesi latihan yang digelar, ternyata Kopaska jadi guru bagi pasukan Amerika tersebut. Tentara kita sangat berpengalaman berperang dalam hutan, memanfaatkan sumber alam untuk senjata. Misalnya saja membuat booby trap. alias jebakan dari bahan-bahan yang sudah ada di hutan. Ranting, kayu dan akar-akaran bisa jadi senjata mematikan jika dipadukan dengan senjata atau peledak yang sudah ada.

Ternyata dalam peperangan modern, hal itu masih sangat menakutkan. Untuk itu Navy Seal merasa perlu mempelajarinya. Usai latihan, personel Kopaska pun layak mendapat brevet Trident Navy Seals kehormatan. Karena itu jangan heran kalau melihat anggota TNI AL memakai brevet Navy Seals.

Tentara Malaysia ngacir

Selain militer Amerika mengakui kedigdayaan Kopaska, tentara Malaysia pun pernah merasakan langsung sehingga kabur terbirit-birit. Padahal hanya dengan ancaman singkat, tanpa kontak senjata satu pun.

Dikisahkan, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2005, saat ketegangan RI-Malaysia di Blok Ambalat. Saat itu pemerintah RI membangun mercusuar Karang Unarang yang terletak di titik terluar. Upaya ini selalu diganggu oleh Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) maupun Marine Police. Mulai dari bermanuver yang menimbulkan gelombang, hingga menganiaya pekerja mercusuar.

Pada 1 April 2005, dua kapal TLDM dan Marine Police Malaysia buang jangkar di dekat mercusuar. Upaya kapal patroli TNI AL KRI Tedong Naga mengusir mereka tak digubris.

Komandan KRI pun meminta bantuan dari personel Kopaska yang memang disiagakan di sana. Serka Ismail meminta izin komandan Tim Kopaska Lettu Berny untuk meluncur ke Kapal Malaysia.

Lettu Berny mengizinkan. Namun dia meminta Ismail tak membawa senjata agar tak terjadi kontak tembak.

Serka Ismail melaju dengan motor boat bersama Serda Muhadi dan Kelasi Satu Yuli Sungkono. Ismail memerintahkan motor boat itu melaju zigzag dengan kecepatan tinggi.

Tujuannya agar perhatian anak buah kapal (ABK) Malaysia tertuju pada motor boat. Sementara itu Ismail melompat dan berenang senyap menuju kapal Malaysia.

Tanpa diketahui satu pun ABK, Ismail naik ke atas kapal. Dia mendobrak pintu samping kapal sambil berteriak.

"Di mana kapten kapal," bentak Ismail hingga ABK Malaysia ketakutan.

Serka Ismail pun sempat membentak seorang petugas meriam kapal Malaysia.

Kapten Kapal keluar. Dengan nada tinggi Ismail bertanya apa keperluan kapal Malaysia di tempat itu. Sang kapten menjawab normatif, hanya menjalankan perintah.

"Baiklah kalau begitu. Daerah ini adalah wilayah saya (Indonesia). Jadi setelah saya turun dari kapal ini, segera pergi dari wilayah ini. Kalau tidak jangkar akan saya putuskan," sergah Ismail pada komandan kapal Malaysia.

Walau tak bersenjata, keberanian Ismail rupanya membuat nyali para ABK Malaysia ciut. Begitu Ismail lompat ke perahu karet, kapal pertama langsung angkat jangkar dan kabur dari Karang Unarang.

Namun kapal kedua tak mau pergi. Serka Ismail dan Tim Kopaska segera melaju. Aksi mereka dihalangi sehingga Ismail tak bisa naik kapal.

Ismail segera menuju tali jangkar. Dia berteriak sambil menggoyang-goyangkan tali jangkar.

"Kalau tidak pergi, tali jangkar ini saya ledakkan," ancamnya.

Berhasil. Aksi ini pun membuat kapal Malaysia meninggalkan wilayah Karang Unang. 

Rupanya cukup tiga orang Kopaska untuk mengusir dua kapal Malaysia.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Menhan RI Tolak Bantuan $ 2 Juta dari AS Untuk Modernisasi Peralatan TNI


Indonesia salah satu negara penting di kawasan perbatasan dengan Laut Cina Selatan, wilayah yang kini sedang diperebutkan sejumlah negara.

Indonesia sebagai negara yang netral memiliki peran penting untuk menjaga kestabilan, sehingga tidak heran sejumlah negara memberikan tawaran bantuan militer. Apa reaksi pemerintah?

“Nggak usah, saya sampaikan terima kasih. Kita masih ada kalau untuk gitu-gitu aja. China dan Singapura juga menawarkan. Kita nggak perlu, ya kita kan mampu,” ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Baru-baru ini Amerika Serikat (AS) menawarkan bantuan dengan nilai US$ 2 juta untuk memodernisasi peralatan militer.

“Negara kita besar mampu. Natuna terutama, kita juga nggak perang sama siapa? Teroris? Bencana? nggak perlu sebesar itu,” ujar Ryamizard Ryacudu.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

TNI AU Usir Pesawat Singapura yang Masuk Natuna


TNI AU Lanud Supadio Pontianak, Kalimantan Barat, mengusir pesawat Singapura yang melakukan test flight (uji penerbangan) di wilayah Indonesia, (19/7/2016).

Danlanud Supadio Pontianak, Marsekal Pertama Tatang Harlyansyah mangatakan, pesawat Singapura yang melakukan penerbangan ke wilayah Indonesia berjenis boeing 737. Pesawat tersebut diperkirakan melakukan tes flight. Menurut Marsma Tatang, pihak Singapura menganggap itu adalah lautan bebas internasional.

“Padahal wilayah itu masuk kedaulatan NKRI, sehingga ketika mereka masuk ke sana, kita usir. Kita siapkan satu flight pesawat, 1 x 24 jam sepanjang tahun, sehingga ketika ada yang sifatnya insidentil kita telah siap,” ujar Marsma Tatang di kantornya pada Rabu (20/7/2016).

Pesawat boeing 737 Singapura melakukan penerbangan tidak jauh di atas lautan Natuna, yang secara jelas masuk dalam kedauluatn NKRI. Maka pihaknya berkewajiban untuk menjaga apalagi sudah ada pesawat yang telah disiagakan.

“Kita melakukan ancaman saja dulu, dan meminta pesawat tersebut segera pergi dari kedaulatan Indonesia. Kalau pesawat ini tidak keluar dari wilayah Indonesia, baru akan kita cegat. Baru kami ancam begitu saja mereka kembali lagi ke Singapura,” jelasnya.

Kasus pelanggaran penerbangan ini sudah terjadi dua kali. Pertama dilakukan pesawat hercules milik Malaysia dan kedua dilakukan pesawat milik Singapura.

Marsma Tatang mengatakan, satu pesawat yang disiagakan selama 1x 24 jam dianggap sudah mampu untuk menangani gangguan pelanggaran ataupun antisipasi adanya perompak.

“Kalau ancamannya sudah nyata, tentu akan menjadi pemikiran kita. Selama ini sudah cukup standby-kan satu pesawat, karena telah dilengkapi dengan radar, peluru kendali dan bom,” jelasnya.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Cerita Tentara Malaysia Kagum Kehebatan Kopassus Lawan SAS Inggris Di Hutan


Operasi militer Dwikora ke pedalaman Kalimantan menjadi salah satu misi berat yang dijalankan Kopassus. Berkali-kali, prajurit komando itu beberapa kali terlibat bentrok dengan pasukan elite Inggris, Special Air Service atau disingkat SAS.

Meski terlibat pertempuran, namun tak pernah ada pernyataan perang antara Indonesia dan Malaysia. Personel yang tertangkap, atau terbunuh tak diakui keberadaannya. Seragam dan pangkat militer wajib dilepas, seragam diganti dengan seragam hijau Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Dengan demikian, jejak keterlibatan Indonesia terhapus.

Operasi-operasi yang dilakukan Kopassus bersama Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) berkali-kali merepotkan Malaysia, hingga akhirnya meminta bantuan Inggris. Permintaan itu disetujui, negeri Ratu Elizabeth itu langsung menerjunkan satu batalyon SAS.



SAS merupakan pasukan elite terbaik dunia. Prestasinya sungguh tersohor. Selain SAS, Inggris juga mengirim pasukan Gurkha dan SAS tambahan dari Selandia baru dan Malaysia.

Rupanya, bentrok antara kedua pasukan elite tersebut sampai ke telinga prajurit Malaysia. Mereka kagum dengan kiprah Kopassus yang berkali-kali merepotkan SAS. Utamanya pasukan elite mereka, Resimen Ranger Kerajaan.

Letjen (Purn) Soegito mengungkapkan kekaguman itu dalam bukunya 'Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen', yang ditulis Beny Adrian, cetakan pertama tahun 2015 yang diterbitkan PT Gramedia.

Setelah konfrontasi berakhir, tentara Indonesia dan Malaysia bergabung. Kedua negara berkomitmen menghabisi gerilyawan TKI yang pembangkang karena enggan menyerahkan senjatanya. TNI harus menghadapi muridnya sendiri, hingga menggelar patroli bersama menjaga perbatasan.

Anggota Ranger Malaysia mengaku senang bisa berpatroli bersama dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD/cikal bakal Kopassus). Kiprah Kopassus melawan SAS membuat mereka ingin lebih dekat.

"Kesempatan langka kebersamaan itulah yang mereka manfaatkan untuk mengenal lebih dekat dengan RPKAD," ungkap Soegito dalam bukunya.

Saking kagumnya, Ranger Malaysia sampai rela menukarkan jam tangannya demi mendapatkan pisau komando RPKAD.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Ini Scouts Ranger andalan Filipina Menumpas Abu Sayaf, hebat mana dibanding Kopassus?



Filipina menolak TNI turun tangan membebaskan sandera para anak buah kapal yang disandera Abu Sayyaf. Tentara Filipina mengaku sudah mengepung posisi militan.

Ada satu pasukan elite andalan Filipina untuk melawan para gerilyawan. Pasukan baret hitam bernama Scouts Ranger. Negara ini mengklaim Scout Ranger adalah pasukan antigerilya terbaik di dunia.

Kendali resimen pasukan khusus ini berada di bawah Philippine Army Special Operations Command (PASOC). Mereka andal melakukan operasi rahasia mulai dari penerjunan, pengintaian dan serangan kilat.

Selama pendidikan, para personel dididik dalam pendidikan yang sangat berat. Mereka menjulukinya 'enam bulan di neraka'. Dari ratusan siswa, hanya sedikit yang bisa bertahan.

Scout Rangers berdiri tahun 1950, selama puluhan tahun mereka kenyang makan asam garam pertempuran. Mulai melawan gerilyawan komunis Hukbalahap hingga militan Islam di Sulu dan Mindanau.



Beberapa nama besar dalam sejarah Scouts Ranger adalah Sersan Francisco Camacho dan Kopral Weena Martillana yang mampu menyusup jauh ke garis pertahanan musuh dan membunuh pemimpin gerilyawan Hukbalahap.

"Ada juga nama Letnan Evelio Pugna yang memimpin tujuh anggota Ranger bertempur menghadapi 100 gerilyawan. Setelah pertempuran sengit berjam-jam, Evelio memenangkan pertempuran dan membunuh sedikitnya 40 musuh tahun 1974." Demikian ditulis Mayor Harold Cabunoc untuk Philstar.

Namun yang disebut legenda hidup Scout Rangers adalah Mayor Jenderal Julius Javier. Berkali-kali terjun dalam baku tembak dia tak pernah terluka. Javier pula yang seorang diri menggotong enam rekannya yang terluka dalam satu pertempuran.

"Sesuai standar kami, tak ada satu pun Ranger yang ditinggalkan," kata Javier soal aksi heroiknya itu.

Javier juga dikenal mampu mengalahkan musuh tanpa kekerasan. Tanpa sebutir peluru pun meletus, dia berhasil membujuk sekelompok gerilyawan komunis menyerah.

Dibanding Scouts Ranger, Komando Pasukan Khusus TNI AD jelas tak kalah. Kopassus berdiri 16 April 1952 dengan nama Kesatuan Komando Teritorium III Siliwangi. Sejak awal dibentuk, langsung diterjunkan dalam setiap palagan di Tanah Air.

Prestasi Kopassus yang jadi sorotan dunia di antaranya pembebasan sandera di Bandara Woyla Thailand tahun 1981. Lalu operasi pembebasan sandera di Mapenduma saat peneliti asing disandera Organisasi Papua Merdeka tahun 1996.

Misi-misi rahasia Kopassus sudah tak terhitung. Begitu juga dengan kisah heroik dari setiap pertempuran. Tak salah jika Kopassus disejajarkan dengan British SAS dan Sayeret Matkal dari Israel.[merdeka.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Bamsoet: TNI Ikut Menangani Terorisme Adalah Cara Berpikir Mundur


Munculnya wacana untuk melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pemberantasan tindak pidana terorisme masih menimbulkan pro dan kontra dari sejumlah pihak. Ada beberapa pihak mendukung, namun tak sedikit yang menolak.

Ketua Komisi III bidang Keamanan dan Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Bambang Soesatyo mengingatkan agar revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme tidak kebablasan. Revisi UU Terorisme tetap harus berpijak pada UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI dan UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

Dia tak sependapat jika TNI dilibatkan dalam pemberantasan tindak pidana terorisme. “Mendorong-dorong TNI ikut menangani tindak pidana terorisme adalah cara berpikir mundur dan kontraproduktif dengan agenda reformasi,” kata Bambang dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/7).

Menurut Bambang, cakupan kebijakan dan strategi nasional dalam penanggulangan tindak pidana terorisme sangatlah luas. Ada langkah pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, penyiapan kesiapsiagaan nasional dan kerja sama internasional.

Apabila TNI dilibatkan dalam tugas memerangi tindak pidana terorisme, konsekuensi logisnya pun akan sangat luas dan prinsipil. “Semua konsekuensi itu harus dipatuhi dan dijalankan, karena penanganan pidana terorisme masuk dalam kerangka penegakan hukum,” kata politisi Golkar yang biasa disapa Bamsoet itu.

Menempatkan dan memberi wewenang TNI dalam pemberantasan terorisme, kata Bamsoet, tidak masuk akal dan tak sejalan dengan agenda reformasi yang menyepakati penegakan hukum berpijak pada hukum sipil.

“Kalau hukum sipil, segala sesuatunya harus tunduk pada KUHAP. Pelaksana KUHAP adalah polisi. Dengan begitu, menjadi mustahil jika TNI juga ditugaskan menangani tindak pidana terorisme. Bukankah teroris yang ditangkap akan diproses secara hukum dan dihadapkan ke pengadilan. Kalau TNI menangkap teroris, proses hukumnya dilaksanakan oleh siapa?” tegas Bamsoet.

Karena itu, menempatkan dan memberi wewenang TNI sebagaimana tertuang dalam Pasal 43A ayat (3) dan 43B ayat (1) pada draft revisi UU nomor 15/3003 itu menjadi tidak masuk akal. Menurut dia, wacana itu bahkan tidak sejalan dengan agenda reformasi mewujudkan keamanan dan ketertiban umum di dalam negeri. Agenda ini menyepakati penegakan hukum yang berpijak pada hukum sipil.

Posisi TNI dalam perannya menumpas teroris diusulakn dicoret dari UU anti Terorisme.

“Kalau hukum sipil, segala sesuatunya harus tunduk pada KUHAP. Pelaksana KUHAP adalah polisi,” tukasnya.

Politikus Partai Golkar itu tak menampik kontribusi TNI dalam memerangi terorisme. Sejatinya, bukan hanya TNI dan Polri, semua elemen rakyat pun harus berkontribusi mewujudkan keamanan dan ketertiban umum. Namun, peran masing-masing elemen harus proporsional, sesuai peraturan perundang-undangan serta derajat tantangannya.

“Karena itu, kontribusi TNI dalam memerangi terorisme idealnya disesuaikan dengan kebutuhan, dan harus berdasarkan perintah Presiden RI selaku pemegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara,” kata Bamsoet. [jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Senjata Made in Indonesia ini Mampu Tembus Rompi Anti Peluru Marinir AS


Senjata SS1 Varian 1 (SS1 V1) buatan PT Pindad yang dipergunakan oleh tim marinir TNI AL mampu menjebol rompi antipeluru milik United State Marines Corps (USMC). Peristiwa itu terjadi saat uji setting senjata atau zeroing dalam rangkaian Latihan Rim of Pacific di Kaneohe Bay Marine Corps Base, Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat baru-baru ini. 

Komandan Satgas Marinir Indonesia, Mayor Mar Indra Fauzi Umar yang membawa 45 anggota pilihan dari Indonesia mengatakan, zeroing senjata dilaksanakan oleh tiga negara yakni Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia yang tergabung dalam satu kompi. 

"Seluruh unsur kompi seharusnya melakukan zeroing, tapi kemarin minus New Zealand," ujar Indra, Hawaii, Amerika Serikat Zeroing senjata merupakan program tambahan yang dilaksanakan sebelum latihan sebenarnya digelar. Zeroing dilakukan untuk membedah setting dan perkenaan senjata yang dipakai oleh anggota kompi. "Zeroing untuk mengenalkan senjata, tujuannya agar bidikan tepat," jelasnya. Proses pengenalan senjata antar anggota kompi, kata dia merupakan peristiwa menarik yang ditunggu-tunggu dalam sebuah kegiatan latihan bersama. 

Lanjutnya, setiap negara yang mengirimkan pasukan dalam latihan multilateral biasanya memiliki rasa ingin tahu dan penasaran terhadap senjata yang dipergunakan oleh kontingen negara lain.

"Saat itu USMC menggunakan senjata jenis M4, Australia menggunakan Steyr dan kita (Indonesia) menggunakan produk Pindad," ucapnya. Menurutnya, uji tembak dilakukan dalam jarak standar zeroing, yakni 25 meter atau seperempat dari jarak menembak sebenarnya pada saat latihan. Dia menambahkan, seluruh jenis senjata yang akan dipergunakan dalam latihan harus melalui proses zeroing agar dalam satu kompi saling mengetahui kekurangan dan kelebihan perangkat anggota kompi lainnya. Dia menyampaikan, selain senjata, USMC awalnya menawarkan body armour vest atau rompi antipeluru dan helm untuk dipergunakan dalam latihan. Namun setelah rompi standar mereka tertembus peluru buatan Pindad, USMC membuat laporan resmi kepada atasan mereka. 

"Di lapangan akhirnya laris senjata kita dicoba sama mereka (kontingen negara lain)," tukasnya. Perwira menengah yang sehari-hari menjabat sebagai Pabandya Spers Pasmar-2 Jakarta itu menuturkan, berita tembusnya rompi dan helm standar tempur USMC itu menyebar dengan cepat. "Pada acara jamuan makan di KRI Diponegoro kemarin (Kamis) ada Perwira Bintang Satu USMC yang kroscek ke saya," tuturnya.

Bahkan, kata dia, armour plate atau baja penahan laju peluru pada rompi yang dapat ditembus oleh senjata Indonesia memiliki ketebalan hingga 1,75 centimeter. "Sama M4 dan Steyr cuma penyok, sama peluru kaliber 5,56 centimeter Pindad tembus," tandasnya. Keunggulan SS1 V1 buatan Pindad yang melampaui Steyr dan M4 diakuinya dapat menaikkan moral dan kepercayaan diri pasukan. Usai peristiwa itu, bahkan barak tempat kontingen Indonesia berkemah sempat didatangi beberapa anggota marinir asing untuk berkenalan, dan bertukar cinderamata. 

"Bahkan komandan basis memuji, katanya kalau marinir kita disuruh nembak berlian, pasti kena," ucapnya. Hingga bulan Agustus mendatang, sebanyak 45 orang anggota marinir TNI AL akan mengikuti latihan perang bersama dan tergabung dengan 27 negara peserta Rim Of Pacific. Latihan yang diselenggarakan oleh AL Amerika dua tahun sekali di Hawaii itu merupakan latihan multilateral terbesar di dunia.[goodnewsfromindonesia.org]

Baca Juga Artikel Lainnya

Operasi Gerilya Terorisme Sebaiknya Ditangani TNI


Urusan terorisme sebaiknya tidak menjadi domain dari Polri saja, namun juga melibatkan TNI. “Keterlibatan TNI, perlu dibuatkan regulasi yang tepat dan available agar tidak kontraptoduktif ke depannya,” ujar Pengamat terorisme Harits Abu Ulya, Senin (25/7/2016).

Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini mengatakan, TNI kini telah mengalami transformasi luar biasa. Jadi publik tidak perlu trauma dengan masa lalu. “Perlu dipertimbangkan dan dicoba untuk memberikan porsi yang tepat dan dituangkan dalam Undang-Undang terorisme tentang peran TNI dalam menanggulangi aksi terorisme yang saat ini cenderung dikebiri Polisi,” ujarnya.

Untuk melakukan hal itu, hanya diperlukan dewan pengawas yang betul-betul independen dan berintegritas guna mengontrol penuh, mulai dari hulu sampai hilir dari proyek kontraterorisme di Indonesia. Dengan demikian, hal itu bisa meminimalisir kekhawatiran adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) apabila TNI diberi porsi lebih dalam urusan terorisme.

Porsi lebih tersebut terutama untuk operasi gerilya terorisme. “Operasi gerilya adalah melawan insurgensi, itu yang tahu teknik dan taktiknya TNI, khusus TNI AD,” ujar Harits Abu Ulya.

Menurut Harits, operasi Camar Maleo dan Tinombala membutuhkan waktu lama lantaran sinergitas yang solid tidak berjalan optimal. Apalagi, kemampuan personel non-TNI untuk operasi gunung sangat rendah sehingga banyak lubang tikus yang bisa ditembus kelompok Santoso selama pelariannya.

Saat ini muncul wacana perlunya keterlibatan TNI ke depan, dalam porsi yang lebih dibandingkan saat ini. Melalui pernyataan terbuka Kapolri Jendral Tito Karnavian mengisyaratkan ketidaksetujuannya keterlibatan TNI lebih dari porsi sekarang. Dalihnya adalah soal potensi pelanggaran hak asasi manusia (HAM), abuse of power sampai soal tidak terakomodir dalam sistem peradilan pidana, mengingat terorisme adalah tindakan pidana yang dikategorikan kejahatan luar biasa.

Harits Abu Ulya mengatakan perlu diingat dan dicatat bahwa upaya penindakan hukum oleh Polisi juga kerap terjadinya pelanggaran HAM meski selama ini berusaha ditutupi. “Paling tidak, kasus Siyono-Klaten adalah kunci kotak pandora persoalan tersebut,” ujar Harits.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Latihan Yonif Raider 303/Setia Sampai Mati (SSP) Kostrad


Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 1 Kostrad Brigjen A.M. Putranto didampingi Asintel Kasdivif 1 Kostrad Letkol Inf Ramces Alboin dan Waasop Kasdivif 1 Kostrad, Letkol Inf Ronal Sinaga meninjau pelaksanaan Uji Siap Tempur (UST) Tingkat Kompi Batalyon Infanteri Yonif Raider 303/Setia Sampai Mati (SSP) Kostrad, di Daerah Latihan (Rahlat) Kamojang Komplek, Garut, Jawa Barat.

Pangdivif 1 Kostrad menekankan, agar UST Tingkat Kompi dilaksanakan dengan benar untuk mengukur tingkat kemampuan dan kesiapan satuan yang ingin dicapai, dan UST ini ditujukan untuk menguji dan mengukur kemampuan tempur dalam mengaplikasikan teknik, taktik dan prosedur Tingkat Kompi.

Selain untuk mengukur kemampuan pasukan, UST juga sebagai alat penilaian oleh komando atas. “Pada sisi lain, pelaksanaan Uji Siap Tempur Kompi ini merupakan sarana bagi komando atas dalam menilai seberapa jauh kesiapan personel dan materiil, termasuk sarana pendukung dari satuan Yonif Raider 303/SSP Kostrad dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya”, ujar Pangdivif 1 Kostrad.

Pangdivif 1 Kostrad mengatakan kepada Komandan Batalyon Infanteri Raider 303/SSP Kostrad Letnan Kolonel Inf Fransisco, agar latihan ini sebagai peluang bagi satuannya untuk melatih performa dan kualitas kemampuan prajurit, baik secara perorangan maupun kelompok, sehingga diperoleh kesiapan operasional Yonif Raider 303 Kostrad yang optimal dalam melaksanakan tugas pokok.

Panglima Divisi Infanteri 1 Kostrad Brigjen A.M. Putranto berharap seluruh prajurit Yonif Raider 303/SSP Kostrad, selalu berlatih dan membekali diri untuk menjadi prajurit yang profesional sehingga keberadaan satuan ini benar-benar dapat diandalkan dan menjadi kebanggaan Kostrad.

Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari mulai 19 juli s/d 22 Juli 2016, dengan Komandan Latihan (Danlat) UST Kompi yakni Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) Raider 13 Kostrad, Kolonel Inf Dodi Zulkarnaen, yang diikuti oleh 300 anggota Yonif R 303/13/1 Kostrad dan 45 orang penyelenggara.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya

Membanggakan, Satgas TNI Gelar Aksi Sosial Medical Camp di Lebanon Selatan


Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Konga XXIII-J/Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon) atau Indobatt (Indonesian Battalion) di bawah pimpinan Letkol Inf Dwi Sasongko, S.E. sebagai Komandan Satgas, dalam hal ini Tim Cimic (Civil Military Coordination) dan Tim Kesehatan menggelar kegiatan Medical Camp dalam rangka memberikan pelayanan medis kepada warga lokal di Desa Deir Seriane, Lebanon Selatan.

Kegiatan Kegiatan Medical Camp merupakan salah satu program Cimic Satgas Konga XXIII-J/Unifil yang dilaksanakan di desa-desa binaan Indonesia Battalion, di antaranya Deir Seriane. Medical Camp juga sebagai bentuk kepedulian Kontingen Garuda kepada warga di wilayah AOR (Area of Responsibility) guna menjalin silaturahmi yang baik antara Satgas Indobatt dengan warga lokal.

Menurut Lettu Ckm dr. Ricky Fakhrazi selaku dokter Satgas Indobatt, bahwasanya program Medical Camp yang dilaksanakan Tim Kesehatan Konga XXIII-J/Unifil sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari otoritas lokal setempat, sehingga mendapatkan antusias warga setempat yang sebagian besar adalah orang tua lanjut usia, ibu-ibu dan anak-anak.



“Medical Camp merupakan upaya Satgas Indobatt guna memberikan pelayanan medis kepada penduduk setempat dikarenakan keterbatasan rumah sakit di daerah misi. Dalam kegiatan Medical Camp ini beberapa macam keluhan ditemukan dari pasien yang datang berobat seperti batuk, demam dan influenza,” tutur Lettu Ckm dr. Rizky Fakhrazi.

Menurut siaran pers Perwira Penerangan Konga XXIII-J/Unifil, Lettu Sus Tri Bowo H. Febriyanto, untuk mendukung kegiatan ini khususnya komunikasi dengan pasien yang datang, tim dokter dan paramedis Indobatt dibantu oleh seorang Language Assistance (Interpreter) yang membantu menghubungkan komunikasi di antara dokter dan kliennya.

“Kegiatan Medical Camp secara rutin oleh Kontingen Garuda XXIII-J/Unifil di wilayah Area Of Responsibility secara berganti-ganti tempat maka masyarakat akan mendapatkan akses kesehatan yang lebih mudah,” katanya.[jakartagreater.com]

Baca Juga Artikel Lainnya